Menyoal Dana Asing di SBI

ANALISIS DANAREKSA
Senin, 21 Juni 2010 | 03:55 WIB
PURBAYA YUDHI SADEWA

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/21/03550336/menyoal.dana.asing.di.sbi

Derasnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia telah memicu perdebatan tentang perlunya pembatasan arus modal. Salah satu di antaranya adalah tentang investasi asing dalam instrumen Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Apakah dana asing di SBI memang perlu dibatasi?

Relatif baiknya kinerja perekonomian Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di sekitar membuat investor asing tertarik berinvestasi pada instrumen-instrumen keuangan di Indonesia.

Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik ke level yang amat tinggi. Pasar obligasi kita pun dibanjiri oleh investor asing. Arus modal yang masuk juga menyebabkan penguatan rupiah yang amat signifikan. Rupiah bahkan sempat menguat ke bawah Rp 9.000 per dollar AS untuk beberapa saat.

Namun, derasnya arus modal asing juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebagian kalangan mengkhawatirkan modal yang masuk ini, yang merupakan investasi ke instrumen yang amat likuid, dapat keluar tiba-tiba. Bila terjadi pembalikan arus yang tiba-tiba ini, dikhawatirkan stabilitas nilai tukar dan stabilitas perekonomian secara keseluruhan akan terganggu.

Adanya peluang pembalikan arus modal asing membuat beberapa kalangan menyarankan agar Indonesia mulai membatasi arus modal asing yang masuk. Dana Moneter Internasional (IMF) pun mengisyaratkan perlunya negara-negara berkembang mulai memikirkan pembatasan arus modal yang masuk.

Namun, kita harus hati-hati dalam mencermati hal ini karena modal yang masuk ke pasar saham dan pasar obligasi rasanya masih berguna buat perekonomian kita. Modal yang masuk ke pasar saham akan membuat harga saham-saham di bursa kita naik dengan signifikan. Bursa saham yang bergairah akan memudahkan perusahaan-perusahaan kita mencari pendanaan dari pasar saham. Saham mereka dapat dijual di pasar dengan harga yang lebih bagus (dan lebih mudah) dibandingkan jika dilakukan di pasar saham yang lesu.

Sementara itu, investasi di pasar surat utang akan membuat surat utang kita (pemerintah ataupun swasta) mengalami kenaikan harga atau mengalami penurunan imbal hasil. Perlu dikemukakan di sini bahwa pergerakan harga surat utang berbanding terbalik dengan imbal hasil. Dengan imbal hasil yang rendah, penerbit surat utang baru akan membayar imbal hasil yang lebih rendah karena biasanya imbal hasil surat utang baru akan disesuaikan dengan imbal hasil dari surat utang yang ada di pasar. Jadi, dalam keadaan pasar obligasi yang bergairah, beban penerbitan surat utang baru pemerintah akan lebih rendah.

Akan tetapi, ada satu jenis investasi asing yang masih sedikit kita pahami manfaatnya bagi perekonomian kita, yaitu investasi asing dalam SBI.

Instrumen moneter

SBI adalah instrumen moneter Bank Indonesia yang digunakan untuk mengimplementasikan kebijakan moneternya. Ketika BI merasa pertumbuhan ekonomi terlalu cepat (ancaman inflasi meningkat atau keadaan likuiditas sistem finansial dianggap terlalu tinggi), BI akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Biasanya diartikan BI Rate (suku bunga acuan SBI) akan naik, yang akan disertai oleh kenaikan suku bunga lain.

Secara teoretis, untuk menaikkan suku bunga di pasar, selain dengan menaikkan BI Rate sebagai tanda arah kebijakannya, BI juga harus mengurangi suplai uang di sistem finansial kita. Hal ini dilakukan dengan menerbitkan SBI lebih banyak lagi. Ketika menjual SBI, BI menerima uang dari sistem finansial kita, sedangkan sistem finansial kita akan menyerahkan uang sesuai dengan jumlah SBI yang dibelinya. Artinya, jumlah uang di sistem finansial kita menjadi berkurang. Akibatnya, ”harga” uang lebih mahal, yang akan terekspresikan dalam suku bunga di pasar yang meningkat.

Kegiatan ini bukan tanpa biaya karena BI harus membayar uang yang diserap sebesar bunga SBI yang berlaku. Semakin banyak uang yang diserap oleh BI, semakin besar biaya bunga yang harus dibayar oleh BI.

Sialnya, beban BI tampaknya bertambah terus karena total SBI outstanding (yang beredar) meningkat terus. Pada Desember 2009 SBI outstanding baru mencapai Rp 256 triliun dan pada Mei 2010 jumlah tersebut meningkat menjadi Rp 326 triliun (gambar 1). Perkalian sederhana antara SBI outstanding dan bunga SBI menunjukkan bahwa dalam periode Desember 2009-Mei 2010 (enam bulan) BI harus membayar bunga sekitar Rp 9,6 triliun. Dalam satu tahun mungkin beban yang harus dibayar BI mencapai lebih dari Rp 20 triliun (bila jumlah SBI outstanding tidak turun dari level Mei 2010). Dengan beban yang demikian besar, tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa neraca BI akan defisit dalam tahun-tahun mendatang.

Sebagian besar bunga tersebut dibayarkan kepada perbankan kita, yang merupakan pemegang SBI terbesar. Sebenarnya agak ironis karena ternyata Indonesia (dalam hal ini diwakili oleh BI) memberikan uang dalam jumlah besar kepada sistem perbankan yang malas memberikan pinjaman ke sektor riil. Walaupun mahal dan agak ironis, kita harus menerima kenyataan ini karena desain sistem moneter kita saat ini memang demikian.

Akan tetapi, investasi asing di SBI telah menambah beban kebijakan moneter BI dengan cukup signifikan. Padahal, investasi asing yang masuk ke SBI tidak ada hubungannya dengan pengendalian keadaan likuiditas dalam negeri bila uang dari luar negeri tersebut masuk ke Indonesia dengan tujuan hanya untuk dibelikan SBI. Sementara manfaat uang tersebut untuk perekonomian juga hampir tidak ada karena uang tersebut diserap oleh BI dan akan nongkrong terus di BI sampai dicairkan kembali oleh investor asing yang bersangkutan.

Relatif lebih tingginya bunga SBI membuat investasi di SBI amat menarik. Apalagi bila rupiah diperkirakan akan stabil atau menguat. Tidaklah mengherankan jika investasi asing di SBI meningkat sampai dengan April lalu. Pada Desember 2009 uang investor asing di SBI mencapai Rp 44 triliun, meningkat menjadi Rp 83 triliun pada April 2010 (gambar 2). Perkalian sederhana menunjukkan bahwa dalam periode tersebut bunga yang harus dibayar oleh BI untuk investor asing mencapai Rp 1,58 triliun.

Akan tetapi, kita juga jangan lupa bahwa dana asing tersebut juga telah menaikkan cadangan devisa kita (jika diasumsikan seluruh dollar AS yang masuk diserap oleh BI). Jika diasumsikan devisa yang dihasilkan diinvestasikan oleh BI dalam US treasury (obligasi Pemerintah AS) yang akan jatuh tempo dalam 5 tahun (maturity 5 tahun), dengan imbal hasil 2,1-2,5 persen pada periode tersebut, bunga yang dihasilkan akan mencapai Rp 0,59 triliun (dengan asumsi dipegang sampai jatuh tempo).

Jadi, dalam periode Desember 2009-April 2010 secara neto investasi asing di SBI telah menimbulkan beban tambahan kepada BI sekitar Rp 0,99 triliun. Dengan kata lain, kita memberikan uang ke investor asing sebesar itu untuk uang yang tidak kita pergunakan. Secara neto, jumlah yang diberikan dapat lebih besar dari perhitungan di atas jika BI menginvestasikan dana asing tersebut ke dalam instrumen dengan maturity lebih pendek (atau jika tidak diinvestasikan sama sekali). US treasury dengan masa satu tahun memberikan imbal hasil di bawah 0,5 persen.

Memang, uang investor asing di SBI telah menambah cadangan devisa kita dan mungkin dianggap akan meningkatkan kredibilitas terhadap rupiah. Akan tetapi, investor asing tersebut biasanya masuk setelah melihat tanda-tanda yang baik di perekonomian kita. Pasar modal sudah membaik dan rupiah sudah menguat. Dalam keadaan yang demikian, rasanya kita tidak perlu lagi mengeluarkan uang dalam bentuk pembayaran bunga ke investor asing di SBI karena sentimen positif terhadap kita sudah terbentuk.

Diskusi di atas menunjukkan bahwa manfaat dari dana investor asing di SBI relatif kecil bagi perekonomian kita. Sebaliknya, dana asing tersebut telah meningkatkan beban operasi moneter BI dengan cukup signifikan. Sementara itu, alasan untuk menaikkan kredibilitas rupiah juga terlihat kurang kuat.

Jadi, tampaknya kita memang harus lebih serius dalam mempertimbangkan alternatif kebijakan pembatasan dana asing di SBI. Kita tidak cukup kaya untuk mengeluarkan uang bagi sesuatu yang sedikit memberikan manfaat pada perekonomian kita.

Purbaya Yudhi Sadewa Chief Economist Danareksa Research Institute

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: