Saat Ada 1,5 Miliar Kendaraan

ENERGI
Selasa, 8 Juni 2010 | 04:12 WIB
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/04122410/saat.ada.15.miliar.kendaraan.

Krisis ekonomi dan keuangan pada akhir tahun 2008 membuat konsumsi energi global merosot pada tahun 2009. Pertama kali terjadi dalam tiga dekade terakhir karena permintaan yang turun. Harga minyak mentah dunia yang pernah menembus 100 dollar AS per barrel kembali terkoreksi.

Perekonomian yang pulih kembali menyadarkan bahwa dunia kembali menghadapi masalah mendasar: mampukah manusia mencukupi kebutuhan energinya pada masa datang?

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan, kebutuhan energi dunia meningkat rata-rata 1,5 persen per tahun, dari 12.000 juta ton setara minyak (million tonnes of oil equivalent, MTOE) tahun 2007 menjadi 16.800 MTOE tahun 2030. Krisis membuat permintaan energi merosot 2 persen per tahun selama tahun 2007-2010. Namun, kebutuhan energi naik lagi 2,5 persen per tahun selama tahun 2010-2015 seiring pulihnya ekonomi.

Lebih dari tiga per empat kebutuhan energi dunia masih dipenuhi bahan bakar fosil. Minyak tetap tulang punggung, dengan konsumsi sebanyak 85 juta barrel minyak per hari pada tahun 2008. Jumlahnya diprediksi naik 1 persen per tahun. Tahun 2030 dunia akan membutuhkan 105 juta barrel minyak per hari.

Sektor transportasi bertanggung jawab atas 97 persen kenaikan penggunaan minyak. Jumlah kendaraan di jalan raya naik dari 900 juta unit menjadi 1,5 miliar unit pada tahun 2030. Meski ini indikasi meningkatnya kesejahteraan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, besarnya angka itu membuat miris mengingat bahan bakar fosil, terutama minyak, bukan sumber energi yang dapat diperbarui.

Lalu, dari mana kebutuhan minyak dunia akan dipenuhi? Cadangan minyak kian menipis. Produksi minyak negara produsen di luar Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mentok di kisaran 45 juta barrel per hari. Produksi minyak OPEC masih bisa digenjot, tetapi tetap ada batasnya.

Jika pasokan minyak menurun, semua sektor kehidupan manusia terkena imbasnya. Pabrik dan industri berhenti. Pembangunan infrastruktur jalan di tempat. Transportasi darat, laut, dan udara macet. Mobilitas manusia, barang, dan jasa terhambat. Padahal, mobilitas manusia adalah salah satu kunci pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

Belum lagi melihat dampak penggunaan bahan bakar minyak pada pemanasan global. Bumi semakin panas karena efek gas rumah kaca dan emisi karbon dioksida (CO). Sektor transportasi menyumbang 24 persen dari total emisi CO terkait energi, yang tiga per empat bagiannya menjadi tanggung jawab transportasi darat.

Tantangan keberlangsungan mobilitas manusia ini yang mendasari para pemangku kepentingan transportasi darat berkumpul di Rio de Janeiro, Brasil, 30 Mei-2 Juni, dalam gelaran Challenge Bibendum 2010. Menurut Michel Collier, CEO Michelin, produsen ban pemrakarsa acara ini, tantangan ini adalah masalah yang harus dicari solusinya oleh produsen kendaraan bersama pemasok energi, rekanan teknis, akademisi, lembaga penelitian, pemerintah, dan konsumen.

”Mobilitas adalah masalah penting. Untuk menjaga keberlangsungannya perlu solusi bagi mobilitas yang bersih dan aman. Sejak 10 tahun lalu ide ini digulirkan, masih perlu usaha semua pihak dorong efisiensi, mengurai kemacetan di jalan raya, hingga mengurangi emisi karbon dioksida,” ujar Collier.

Alternatif teknologi

Sejumlah alternatif teknologi pun ditawarkan untuk penghematan energi, seperti peningkatan kualitas internal combustion engine, kendaraan bermesin hibrida, dan kendaraan listrik, baik dengan baterai maupun fuel cell. Efisiensi bahan bakar dilakukan dengan mengurangi berat kendaraan, penggunaan ban dengan resistansi kecil, dan pemanfaatan teknologi pintar untuk memperlancar arus lalu lintas.

Di sektor bahan bakar, dilakukan diversifikasi sumber energi fosil dengan menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih, penggunaan gas dan bahan bakar sintetis dari gas atau batu bara, serta biofuel.

Untuk memenuhi skenario emisi maksimum CO sebesar 450 part per million pada tahun 2030 sesuai amanat Konferensi Iklim Kopenhagen 2009, tinggal 40 persen dari perkiraan 1,5 miliar kendaraan yang masih menggunakan bahan bakar konvensional. Separuhnya sudah harus beralih ke kendaraan hibrida dan 10 persen sisanya bertenaga listrik.

Setidaknya dibutuhkan investasi sekitar 4,8 triliun dollar AS untuk melaksanakan skenario minimum itu pada periode tahun 2010-2030. Namun, efisiensi pengeluaran biaya bahan bakar pada saat yang sama diperkirakan 6,2 triliun dollar AS.

Namun, semua teknologi baru ini tak bisa segera mendatangkan hasil. Executive Vice President Global B2B and Lubricant Royal Dutch Shell Tan Chong Meng mengingatkan, butuh waktu 30 tahun bagi teknologi baru untuk bisa diterapkan, seperti yang dilewati gas alam cair (LNG) dan biofuel untuk menembus 1 persen pasar bahan bakar.

Karena itu, salah satu yang bisa dilakukan konsumen menghemat energi adalah pendekatan mobilitas yang cerdas. Menurut Direktur Downstream Royal Dutch Shell Mark Williams, dengan konsep ini konsumen dibantu melakukan efisiensi bahan bakar dengan dukungan infrastruktur, produk bahan bakar, dan penggunaan kendaraan yang benar. Salah satunya produk bahan bakar yang mampu menghemat bahan bakar hingga 1 liter per tangki bensin.

”Kelihatannya jumlah ini kecil. Namun, jika dilakukan bersama-sama di satu negara, katakanlah Jerman, bisa dihemat 927 juta liter bahan bakar per tahun dengan menghemat penggunaan 1 liter untuk setiap pengisian bensin,” ujar Williams.

(Johanes Waskita Utama, dari Rio de Janeiro)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

2 responses to “Saat Ada 1,5 Miliar Kendaraan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: