Mencari yang Menguntungkan

ALIH EKONOMI
Senin, 7 Juni 2010 | 04:12 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/04125818/mencari.yang.menguntungkan

Tumpukan rigen (tempat menjemur tembakau) teronggok di dinding bambu rumah Sutego, petani tembakau di Desa Beringinsari, Kecamatan Patean, Kendal, Jawa Tengah. ”Tanaman tembakau saya baru berumur 20 hari,” kata Sutego pada pertengahan Mei lalu.

Di sejumlah rumah lainnya di desa itu, rigen-rigen juga menganggur, sebagian karena petani memang tidak menanam tembakau lagi. Menurut Sutego, banyak petani tembakau di desanya mulai beralih menanam jambu merah seiring dengan kegemaran masyarakat mengonsumsi buah yang banyak mengandung vitamin C ini.

”Jambu menjadi pilihan petani tembakau setelah ada tawaran bantuan ternak kambing pula. Saat ini, petani yang menanam sudah mulai panen, rata-rata usia tanaman jambu 2-3 tahun,” kata Mujaedi, Ketua Kelompok Tani Beringinasri.

Mujaedi mengatakan, petani tembakau di Kendal rata-rata lahannya sempit, lebih kurang seperempat hektar. Karena itu, hasil panen tembakau paling hanya bisa 25 keranjang isi 40-50 kilogram, dengan harga Rp 25.000 per keranjang. Dengan menanam jambu biji, kata Mujaedi, penghasilan petani lebih baik karena jambu biji bisa dipanen sepanjang tahun. Untuk lahan satu hektar dengan jumlah tanaman 388 pohon dan masa panen rata-rata tiga bulan sekali, petani bisa mendapatkan Rp 250.000-Rp 1 juta. Harga jambu biji rata-rata Rp 3.000 per kilogram.

Mekanisme untuk petani yang mau beralih dari tembakau, menurut Mujaedi, sangat gampang. Tersedia bibit jambu biji untuk petani, hanya saja syaratnya petani harus masuk kelompok tani dan tidak lagi menanam tembakau. Sutego belum masuk kelompok tani, seperti umumnya petani tembakau.

Sekarang ini, kata Mujaedi, kelompok taninya beranggotakan 121 orang, 80 persen anggotanya semula adalah petani tembakau. ”Selain memperoleh bibit jambu, kami juga bagikan kambing untuk diternak. Seorang petani memperoleh sepasang kambing yang diharapkan bisa beranak-pinak,” katanya.

Petani lain di Desa Tlatar, Patean, Somadi, juga lebih senang setelah dikenalkan budidaya jambu biji. ”Petani itu sebenarnya mau ganti tanaman tembakau. Lha, sawahnya sempit mau diperas tembakaunya juga tidak maksimal. Syukur kalau juga dapat ternak kambing atau sapi,” katanya.

Jambu biji

Berdasarkan catatan Dinas Perkebunan Jateng, budidaya tanaman jambu biji di Kabupaten Kendal berkembang pesat. Meski jambu biji sebagai pengganti tanaman tembakau masih terhitung baru, tetapi budidaya jambu itu telah diikuti 667 petani, dengan jumlah tenaga kerja terserap 1.400 orang. Selain di Kecamatan Patehan, sentra jambu biji terdapat di Kecamatan Sukorejo, Plantungan, dan Paguryurung, dengan total 32 desa sentra jambu biji. Produksi per bulan 1.333 ton senilai lebih dari Rp 5 miliar.

Menurut Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Jateng Sigit Larsito, jambu biji menjadi salah satu pilihan selain tanaman kopi untuk diverfisikasi tanaman tembakau. Bagi petani tembakau di dataran rendah, masih ditawarkan tebu sebagai pengganti tanaman tembakau.

Diversifikasi itu dilakukan karena, menurut Kepala Dinas Perkebunan Jateng Tegoeh Winarno, luas tanaman dan produksi tembakau di Jateng sudah melebihi kebutuhan. Luas areal tanaman tembakau akan diturunkan dari 38.566,30 hektar dengan produksi 28.766,17 ton pada tahun 2009 menjadi hanya 26.650 hektar dengan produksi 20.575 ton. ”Kebutuhan pasar yang didominasi pabrik-pabrik rokok besar hanya sekitar 20.000 hingga 25.000 ton per tahun,” kata Tegoeh.

Tanaman kopi, arabica ataupun robusta, menjadi pilihan bagi sejumlah petani tembakau di Tlahab, Kabupaten Temanggung, dan Kaligesing di Jambu, Kabupaten Semarang. Tanaman kopi yang sudah disebar mencapai satu juta pohon, yang bisa dipanen setelah 4-5 tahun.

Kesadaran petani

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia Jateng Imam Sardjo mengatakan, kesadaran petani tembakau beralih ke kopi memperkuat jumlah anggota kelompok tani kopi yang kini lebih dari 250 kelompok tani. Per kelompok tani menaungi 15-30 anggota yang tersebar di sentra-sentra penghasil tembakau.

Petani juga dapat melakukan tanaman campursari sebelum benar-benar total menekuni tanaman kopi.

”Petani yang beralih dari tembakau ke kopi biasanya mereka sudah memahami bahwa kopi merupakan tanaman perkebunan yang harganya stabil dan budidaya jangka panjang. Selama harga kopi masih di atas Rp 7.000 per kilogram, petani tidak rugi. Padahal, harga kopi tiga tahun terakhir ini rata-rata di atas Rp 14.000 per kilogram,” kata Imam Sardjo.

Namun, tidak semua petani tembakau bersedia beralih menanam komoditas lainnya. Sejumlah petani berusaha beralih menanam tanaman lain, seperti dilakukan Edi Subakir, petani asal Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Edi dan sejumlah petani di wilayah itu pernah mencoba menanam kopi, tetapi gagal.

Sebagian besar petani tembakau di Temanggung memang enggan beralih menanam jenis tanaman lain karena tembakau ibarat ”emas hijau” bagi mereka dan sudah menjadi mata pencarian secara turun-temurun. Budidaya tembakau adalah saka guru perekonomian keluarga mereka dan belum ada jenis tanaman lain yang bisa menggantikan.

Saka guru

Selain sebagai saka guru perekonomian keluarga, menurut Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Kabupaten Klaten (APTIK) Kadarwati, bertanam tembakau baik untuk memutus mata rantai hama yang biasa menyerang jika lahan hanya ditanami padi sepanjang tahun. Bertanam tembakau, katanya, juga dianggap baik untuk mengembalikan unsur hara tanah yang hilang jika tanah hanya ditanami padi.

”Banyak petani di Juwiring (Kabupaten Klaten) yang sawahnya terserang hama wereng hebat minta agar tanah mereka bisa ditanami tembakau. Setelah ditanami tembakau, jika kemudian ditanami padi akan memberi hasil panen yang baik,” kata Sekretaris APTIK Suwarno yang berharap pemerintah lebih berpihak kepada petani.

Sunarto, petani tembakau di Klaten, mengatakan, alih tanaman dari tembakau ke jenis tanaman lain tidak bisa dilakukan secara mendadak.

”Kami harus melihat dulu bukti empiriknya. Misalnya, proyek tanam wijen yang katanya bagus, ternyata jeblok. Tembakau itu paling mudah dibudidayakan dan hasilnya bagus,” kata Sunarto yang juga Ketua Divisi Bidang Pengembangan Usaha APTIK.

Bupati Temanggung Hasyim Affandi berharap pemerintah berpikir secara multidimensional dalam membahas Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai zat adiktif bagi kesehatan. Pemerintah agar tidak semata-mata melihat dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi juga memikirkan nasib jutaan orang yang bergantung pada jenis komoditas ini.

Dengan pertimbangan itu, Pemkab Temanggung menggalang dukungan dari tujuh kabupaten penghasil tembakau di Jateng untuk membuat draf usulan bersama terkait RPP tersebut. Tujuh kabupaten itu adalah Magelang, Wonosobo, Klaten, Kendal, Boyolali, Grobogan, dan Demak.

Pemkab Temanggung telah menyusun tiga poin penting yang akan dicantumkan dalam draf usulan bersama tersebut dan telah disetujui Pemkab Magelang dan Wonosobo. Salah satu poin adalah pemerintah wajib melindungi petani tembakau dan memberikan solusi. ”Dalam hal ini, jika memang nantinya pertanian tembakau dilarang atau dibatasi, pemerintah terlebih dahulu harus menyiapkan petani untuk beralih profesi atau menanam tanaman lain,” kata Hasyim. (WHO/EKI/EGI)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Mencari yang Menguntungkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: