“Mematahkan” Mitos Ekonomi Tembakau

REGULASI
Senin, 7 Juni 2010 | 04:12 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/04121178/mematahkan.mitos.ekonomi.tembakau

Sebagai satu-satunya negara di Asia Pasifik yang belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control, keputusan Pemerintah Indonesia untuk membuat Rancangan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2009 tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan merupakan sebuah kemajuan.

Indonesia termasuk 21 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang belum meratifikasi kerangka hukum pengendalian produk tembakau tersebut.

Sejalan dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tersebut mengatur pelarangan iklan dan sponsor rokok. Selain itu, RPP juga mengatur pembatasan area tembakau secara bertahap dan pengaturan rokok bernikotin rendah. Tujuannya adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat terhadap insidensi penyakit fatal dan penyakit yang menularkan kualitas hidup akibat penggunaan produk tembakau.

Terlepas dari tujuan itu, bagaimanapun, RPP tersebut jika disahkan nanti akan berdampak besar bagi kehidupan sejumlah orang yang selama ini bergantung pada tembakau dan produk tembakau. Mereka terutama adalah petani tembakau dan para buruh pabrik rokok beserta keluarga mereka. Tanpa persiapan yang matang sebelum RPP tersebut disahkan, kehidupan mereka akan hancur.

”Kalau bicara soal jumlah orang yang hidupnya sangat tergantung dari tembakau, di Jawa Tengah (Jateng) tercatat tidak kurang dari 7 juta orang yang hidup dari produk tembakau, mulai dari hilir sampai hulu usaha,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jateng Tegoeh Winarno di Semarang, 17 Mei.

Dari 7 juta orang tersebut, sekitar 45 persennya adalah keluarga petani. Mereka tersebar di Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Banjarnegara, Kabumen, Purworejo, Klaten, Grobogan, Demak, Kendal, dan Kabupaten Semarang. Luas tanaman tembakau di Jateng, termasuk di daerah-daerah penghasil utama tembakau, pada tahun 2009 mencapai 38.566,30 hektar dengan produksi 28.766,17 ton.

Produksi itu memberikan pendapatan bagi daerah, termasuk dari bagi hasil cukai tembakau. Pada 2009, hasil cukai tembakau di Jateng sebanyak Rp 282 miliar, dengan pembagian Rp 84,6 miliar masuk ke provinsi dan Rp 197,4 miliar dibagikan kepada 25 kabupaten.

Emas hijau

Bagi petani, tanaman tembakau adalah ”emas hijau” yang belum tergantikan. Menanam tembakau pada musim kemarau jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam palawija. Bahkan, hasil bertanam tembakau lebih baik daripada hasil bertanam padi. Apalagi, pada musim kemarau menanam padi sangat berisiko karena membutuhkan banyak air.

Sebagai gambaran, dari satu patok lahan seluas 2.500 meter persegi, jika ditanami tembakau bisa menghasilkan Rp 6 juta dengan ongkos tanam Rp 1,5 juta. Jika ditanami palawija, misalnya jagung, hasilnya maksimal hanya Rp 1,8 juta dengan ongkos tanam Rp 1 juta, sedangkan jika bertanam padi hasilnya Rp 2 juta dengan modal Rp 1 juta.

”Kalau ada tanaman lain yang memberi hasil lebih bagus dibanding tembakau, kami mau beralih menanam tanaman itu. Namun apa, sampai sekarang tidak ada yang menyaingi hasil tanaman tembakau,” kata Jumakir (43), petani tembakau di Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jateng.

Di sejumlah daerah, bertani tembakau bukan saja menguntungkan, melainkan juga sudah mendarah daging seperti halnya di Kabupaten Temanggung. Kemampuan bertani tembakau ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi keahlian yang ”wajib” diajarkan orangtua kepada anak-anaknya. Jumlah petani tembakau di wilayah ini mencapai sepertiga jumlah penduduk, atau sebanyak 47.642 keluarga.

Markamah (40), petani tembakau di Kecamatan Bulu, misalnya, mengajarkan keahliannya bertanam tembakau yang dia kuasai selama 20 tahun ini kepada anaknya yang masih duduk di bangku SMP. ”Bagi kami, keahlian bertani tembakau harus diajarkan secara terus-menerus kepada anak-anak dan cucu tanpa putus,” kata dia.

Oleh karena itu, tidak heran jika perekonomian di Temanggung sangat bergantung pada tembakau. Saat panen sekitar bulan Agustus-September, tembakau pun ”menguasai” semua pasaran di Temanggung. Pada saat itu, ramai pula perputaran uang di segenap sektor dan semua bersumber dari pertanian dan perdagangan tembakau.

Menurut Bupati Temanggung Hasyim Afandi, produktivitas tembakau di Temanggung mencapai 8.400 ton per tahun dengan nilai sekitar Rp 588 miliar, di atas APBD Temanggung pada tahun 2009 yang hanya Rp 587 miliar. Sebagai penghasil tembakau terbesar di Jateng, pada tahun 2009 Temanggung menerima bagi hasil cukai tembakau sebesar Rp 8,5 miliar.

Dengan kondisi itu, terlepas dari masalah dampak buruknya bagi kesehatan, tembakau menjadi sumber kemakmuran bagi Temanggung. Maka, segala daya upaya pun dilakukan demi menentang RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan dan juga adanya fatwa haram merokok yang ramai dibicarakan beberapa waktu lalu.

Mereka mengirimkan pernyataan sikap kepada pemerintah pusat, istigosah, dan berunjuk rasa ke Jakarta. Pada awal Maret lalu, sekitar 4.000 petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng berunjuk rasa ke Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kesehatan, dan DPRD.

Apa yang dilakukan para petani tembakau itu patut diperhatikan. Namun, ini juga bukan berarti alasan untuk membatalkan RPP itu.

(WHO/EGI/EKI/IKA)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: