Biarkan Asap Dapur Terus Mengepul…

NASIB INDUSTRI ROKOK
Senin, 7 Juni 2010 | 04:15 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/04155247/biarkan.asap.dapur.terus.mengepul…

Menggiling dan melinting rokok kretek adalah keahlian Kusriati (45), warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Keahlian yang ditekuninya sejak 25 tahun itu menjadi berkah bagi Kusriati. Pada saat suaminya—buruh serabutan—tidak bekerja, Kusriati-lah yang membuat asap dapur keluarga tetap mengepul.

”Sehari saya mampu menggiling dan melinting 2.000-3.000 batang rokok. Biasanya upah yang saya terima sehari Rp 18.000-Rp 27.000,” kata Kusriati, yang bekerja sebagai buruh giling rokok kretek, pertengahan Mei lalu.

Kastonah (45), buruh pabrik rokok Kembang Arum, juga mengaku bahwa rokok sangat berarti bagi keluarganya. Dengan uang hasil bekerja sebagai buruh pabrik rokok, keluarganya dapat makan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta menyekolahkan anak-anaknya. Sebagai tenaga penggiling rokok, Kastonah mampu menggiling 3.000 batang rokok per setengah hari dengan bayaran Rp 24.000.

Memang tidak setiap hari dia bekerja. Dalam sebulan rata-rata hanya 24 hari. Bahkan, kalau permintaan pasar sepi, dia hanya bekerja 15-20 hari. Biaya kebutuhan hidup sehari-hari yang harus ditanggung Kastonah rata-rata Rp 20.000.

Kusriati mengaku tidak begitu tahu soal peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah atau larangan yang diserukan lembaga keagamaan. Namun, yang pasti, dia berharap jangan sampai peraturan dan larangan itu mematikan industri rokok kecil. ”Aturan dan larangan itu yang membuat yang punya kuasa. Orang kecil hanya menuruti saja, asal aturan itu tidak merugikan kami,” ujar Kusriati.

Kusriati hanya peduli, apa pun peraturannya asap dapurnya harus terus mengepul. Ini pula yang menjadi harapan Kastonah dan mungkin juga ribuan buruh pabrik rokok lainnya.

Berdasarkan data Pengurus Cabang Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (RTMM) Kudus, jumlah buruh rokok di sembilan perusahaan rokok yang besar di Kudus pada tahun 2009 sebanyak sekitar 98.000 orang. Di Kudus saat ini ada sekitar 200 perusahaan rokok skala besar, sedang, dan kecil.

Jumlah buruh

Menurut Ketua Pengurus Cabang Serikat Pekerja RTMM Kudus Andreas Hua, jumlah buruh rokok di sembilan perusahaan tersebut sudah berkurang dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 106.000 orang. Penyebabnya adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan akibat kenaikan tarif cukai rokok. ”Itu baru terjadi di sejumlah perusahaan rokok besar, belum lagi perusahaan rokok kecil,” kata Andreas.

Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) Jawa Tengah mencatat, ada 70 pabrik rokok golongan industri kecil, dengan rata-rata jumlah buruh 100 orang per pabrik. Merekalah yang paling terancam oleh kenaikan tarif cukai rokok, ditambah lagi jika RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan, nanti disahkan. ”Jika RPP diberlakukan, sembilan perusahaan rokok besar di Kudus pun akan goyang. Setidaknya dalam 20 tahun ke depan hanya akan bertahan 5-6 perusahaan. Dan itu berarti akan ada gelombang PHK besar-besaran,” kata Andreas.

Apa pun itu, rokok menjadi gantungan hidup ribuan buruh pabrik rokok dan keluarganya, dan pemerintah tidak boleh mengabaikan kenyataan ini. Penulis Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (Equinox Publishing, 2000), Mark Hanusz, mengemukakan, rokok, terutama kretek, merupakan fenomena ekonomi yang menjadi bagian dari budaya Indonesia. Budaya itu tidak terlepas dari sejarah tembakau ratusan tahun lalu yang pada akhirnya membentuk industri rokok. Industri itu menjadi penopang ekonomi Indonesia sekaligus menghidupi ribuan warga Indonesia. Rokok juga membentuk komunitas-komunitas kalangan tertentu.

Dalam pengantar Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menuliskan, kretek selalu menjadi bagian penting ekonomi lokal. Ketika pemerintah turut campur tangan, dengan memberi dan mengatur pajak serta mengendalikan pengusaha, buruh, dan petani tembakau menjadi bagian ekonomi nasional. (HENDRIYO WIDI)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: