Berdaulat dengan Tembakau

KOMODITAS
Senin, 7 Juni 2010 | 04:15 WIB
Regina Rukmorini

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/04152398/berdaulat.dengan.tembakau

Musim panen tembakau adalah masa yang dinantikan, di mana semua mimpi dan keinginan para petani tembakau disandarkan. Tak terkecuali bagi Suhartoyo (52), petani tembakau di kaki Gunung Sumbing.

Warga Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu berencana menyisihkan uang hasil penjualan tembakaunya untuk membiayai anaknya, Mira Maulina (26), yang ingin kuliah S-2 kedokteran, spesialis bedah jantung.

”Memang dana yang dibutuhkan Mira banyak, Rp 325 juta. Namun, setelah melalui tiga kali panen tembakau, saya yakin uang yang dibutuhkan Mira bisa terkumpul,” ujar Suhartoyo ketika ditemui beberapa waktu lalu, dengan yakin.

Dengan lahan tembakau seluas 2 hektar, Suhartoyo yakin mampu memenuhi keinginan anaknya. Sama seperti rata-rata petani tembakau di Desa Legoksari, selama tiga bulan musim panen tembakau, petani dapat meraup keuntungan bersih sebesar Rp 110 juta per hektar tembakau yang ditanam.

Desa Legoksari berpenduduk 320 keluarga, 90 persen di antaranya adalah petani tembakau. Kepemilikan lahan per keluarga berkisar 0,5 hektar hingga 5 hektar. Setiap hektar menghasilkan 900 kilogram tembakau kering.

Pendapatan yang demikian besar ini bisa diperoleh karena setiap tahun, mendekati akhir musim panen, semua petani tembakau di Desa Legoksari mampu memanen tembakau totol A—kualitas terendah—hingga F atau G. Tembakau totol F atau G disebut juga tembakau srintil yang laku Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per kilogram tembakau kering. Bahkan, jika beruntung, mereka pun bisa memetik tembakau srintil istimewa yang tahun lalu laku hingga Rp 850.000 per kilogram kering.

Tak heran, kendati bermata pencarian sebagai petani—profesi yang selama ini kerap dianggap sebagai warga kelas bawah—kehidupan masyarakat Desa Legoksari jauh dari kekurangan.

Sutopo, warga lainnya, mengatakan, di lingkup rukun warga (RW) tempat dia tinggal, yang terdiri dari 170 keluarga, sebanyak 96 keluarga di antaranya masing-masing memiliki 3-4 unit mobil. Selain itu, setiap keluarga di Desa Legoksari juga memiliki lebih dari satu sepeda motor.

”Tidak hanya petani pemilik lahan, sepeda motor juga banyak dimiliki para buruh tani penggarap yang dipekerjakan dengan upah Rp 30.000 per hari,” ujarnya. Sebanyak 100 keluarga di Desa Legoksari masing-masing memiliki 7 hingga 20 buruh tani sehingga diperkirakan jumlah buruh tani mencapai 700-2.000 orang.

Musim panen tembakau yang berlangsung pada Agustus-November juga menjadi masa menuai rezeki bagi para pedagang barang kebutuhan rumah tangga. Tahu petani tembakau sedang ”panen uang”, pedagang dari Weleri, Tegal, Pekalongan, Magelang, Yogyakarta, hingga Bandung berduyun-duyun datang ke desa di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut ini untuk menjual aneka macam barang, mulai dari pakaian, sepatu, peralatan rumah tangga hingga sepeda motor dan mobil.

”Biasanya, barang dagangan digelar di pekarangan rumah warga, depan balai desa, atau di mana saja asalkan ada lahan sisa yang bisa dipakai berjualan,” ujar Muji Raharjo (49), warga yang lain.

Berdaulat

Dengan besarnya nominal uang yang dihasilkan, tembakau menjadi jalan bagi warga desa untuk ”berdaulat”, melengkapi segala fasilitas dan sarana prasarana desa yang tidak bisa dicukupi oleh pemerintah.

Sesepuh Desa Legoksari, Rembyong Soedarmo (90), mengatakan, tahun 1971, berbekal uang jimpitan tembakau, masyarakat Desa Legoksari dapat mewujudkan keinginan membangun gedung SD sendiri, dan tidak lagi menumpang di desa tetangga di Desa Tlilir. Waktu itu dana yang dihabiskan mencapai puluhan juta rupiah.

Bahkan, pada tahun 2001, masih dengan memakai uang hasil menjual tembakau, masyarakat dapat merehabilitasi gedung SD tersebut. ”Dari biaya rehab sebesar Rp 320 juta, Rp 250 juta diperoleh dari dana iuran warga dan Rp 70 juta sisanya adalah bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Dari tembakau, pada tahun 1978 warga dapat mengumpulkan uang untuk mengaspal jalan desa sepanjang 4 kilometer yang sebelumnya berupa jalan tanah berbatu, kemudian dilanjutkan dengan membangun balai desa, balai dusun, serta fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK).

Pada awal tahun 1980 warga juga mengumpulkan iuran untuk membeli sebuah generator. Ini menjadi solusi untuk menerangi desa, sebelum akhirnya jaringan PLN masuk ke desa ini sekitar tahun 1985.

Segala upaya warga untuk ”mempercantik” desa, melengkapi sarana prasarana dengan biaya sendiri, ini mengantarkan Desa Legoksari meraih juara II lomba desa percontohan se-Jawa Tengah pada tahun 1980-an.

Sejarah bertani tembakau

Tidak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana sejarah awal pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, khususnya di Desa Legoksari.

Rembyong mengatakan, dari cerita yang beredar di masyarakat, ada yang menyebut bertani tembakau di desa itu sudah dimulai sejak zaman para wali. Tokoh ulama masyarakat Temanggung, Kyai Makukuhan, diyakini juga berprofesi sebagai petani tembakau, yang kemudian melakukan perjanjian dengan Sunan Kudus bahwa Temanggung hanya boleh menanam tembakau, sedangkan Kabupaten Kudus hanya boleh mendirikan industri rokok. ”Entah benar atau tidak, tetapi dalam kenyataannya, di Temanggung tidak pernah ada industri rokok yang sukses dan terus eksis,” ujarnya.

Awalnya, pembelian tembakau dilakukan langsung oleh perwakilan pabrik rokok yang datang ke Kabupaten Temanggung. Namun, saat ini rantai pemasaran pun lebih tertata, dengan melibatkan subgrader dan grader yang langsung memasukkannya ke pabrik.

Aktivitas pembelian tembakau dimulai sekitar awal Agustus. Pabrik mengumumkan harga pembelian tembakau mulai dari kualitas A hingga G ke dalam pertemuan yang dihadiri para grader. Setelah itu grader memberitahukan standar harga dari pabrik kepada para subgrader dan harga itulah yang dipakai subgrader untuk membeli tembakau dari para petani. ”Sistem pemasaran ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, tidak pernah ada masalah, kami tidak pernah merasa dirugikan,” ujarnya.

Saat memetik pertama kali petani akan mendapatkan tembakau totol A, yang hanya laku Rp 30.000 per kilogram. Pada pemetikan kedua, ketiga, dan seterusnya, kualitas tembakau akan semakin bagus dan pada September, petani Desa Legoksari bisa mendapatkan totol F atau G, keduanya disebut tembakau srintil. Tembakau totol F atau G ini memiliki ciri-ciri warna daun yang cenderung hitam, dan terasa sedikit berminyak.

Setelah itu sebagian petani masih ada yang bisa memanen tembakau srintil istimewa. Khusus untuk totol ini, pabrik tidak memiliki standar harga. Harga pembelian untuk jenis srintil istimewa adalah harga kesepakatan antara grader dan petani.

”Kalau memiliki srintil istimewa, kami bisa bersikap jual mahal dan menentukan harga sendiri,” ujarnya. Sesuai dengan namanya, harga srintil jenis ini bisa sedemikian mahal karena cita rasa yang dihasilkan benar-benar ”istimewa”. Cita rasa 1 ons tembakau srintil istimewa hanya mampu ditandingi oleh 10 kilogram tembakau jenis lain dari totol A-E.

Srintil jenis ini hanya tumbuh di Desa Legoksari. Banyak peneliti, baik dari pabrik rokok maupun instansi pemerintah, melakukan penelitian kenapa tembakau jenis ini hanya bisa tumbuh di Desa Legoksari. ”Pegawai dari pabrik rokok bahkan ada yang sempat meneliti dan mencoba menanam tembakau di daerah lain dengan menggunakan sampel tanah dari sini. Namun, tetap saja tidak bisa memanen srintil istimewa,” ujarnya.

Srintil istimewa akhirnya membuat Desa Legoksari sungguh-sungguh istimewa. Dengan kekuatan itulah mereka berjaya sekalipun saat ini RPP tentang tembakau hadir sebagai kendala.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: