Para Investor Panik

BURSA GLOBAL
Sabtu, 22 Mei 2010 | 04:44 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/22/04442984/para.investor.panik

LONDON, Jumat – Bursa saham global kembali turun pada perdagangan Jumat (21/5) di seantero dunia. Para investor masih terus panik dan takut soal utang di zona euro. Hal ini diperburuk lagi dengan meningkatnya jumlah pengangguran di AS serta prospek reformasi di Wall Street.

Penurunan indeks-indeks saham di bursa global merupakan yang terbesar dalam satu tahun terakhir ini. Penurunan indeks di New York, Kamis, menjalar ke Asia dan Eropa.

Indeks di London turun lebih dari 2 persen. Indeks FTSE 100, yang merupakan indeks dari 100 perusahaan terbagus di Inggris, turun hingga di bawah level 5.000 poin, terendah sejak Oktober 2009.

Begitu pasar AS dibuka, Jumat, indeks Dow Jones Industrial sudah turun 100 poin, melewati batas 10.000 menjadi 9.965 poin. Indeks Standard & Poor’s 500 turun 11 poin menjadi 1.060, dan indeks saham gabungan Nasdaq turun 31 poin menjadi 2.173 poin.

Di Asia, indeks Nikkei di Tokyo merosot 2,45 persen dan mencapai titik terendah sejak 2 Desember 2009.

”Kepanikan tampaknya belum berakhir. Para investor masih terus menjual saham hingga menekan FTSE ke bawah level 5.000,” ujar pialang dari ETX Capital, Manoj Ladwa. ”Sentimen di pasar masih terus negatif, dan jika ada sedikit kenaikan akan digunakan untuk mengambil untung,” katanya.

Data resmi dari Pemerintah AS menunjukkan bahwa jumlah penganggur mencapai 471.000 orang per 15 Mei, naik tajam 5,6 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Prihatin soal pertumbuhan

Adapun di Frankfurt, indeks turun lebih dari 2 persen dan Paris melemah 1,55 persen.

”Para pelaku pasar di Eropa terus menjual saham perbankan dan melarikan dananya ke aset yang berisiko lebih rendah,” ujar analis dari City Indeks, Joshua Raymond.

Raymond menjelaskan, investor sangat sensitif soal obligasi pemerintah di Uni Eropa yang akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi untuk beberapa tahun ke depan, ditambah lagi program perampingan anggaran pengetatan peraturan ekonomi.

Obligasi pemerintahan di Eropa kurang diminati, padahal itu merupakan sumber anggaran pemerintah. Berkurangnya anggaran bisa memerosotkan perekonomian. ”Isu ini telah menurunkan kepercayaan para investor sepanjang pekan,” kata Raymond lagi.

Hal itu diperburuk dengan indikasi pelemahan pemulihan ekonomi di AS. ”Pemulihan di AS mungkin akan berjalan lamban, sementara kekacauan di Eropa dan pengetatan di China juga menambah beban. Ketiga hal itu membuat optimisme semakin meredup,” ujar Raymond.

(Reuters/AP/joe)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: