Mengubah Tatanan Dunia Internasional

GLOBALISASI CHINA
Senin, 26 April 2010 | 04:17 WIB
Rene L Pattiradjawane

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/26/04174060/mengubah.tatanan.dunia.internasional

Kita terkesima melihat pertumbuhan China, yang menjadi sebuah model pembangunan baru di dunia. Model China ini berbeda dengan modernisasi yang pernah dilakukan negara-negara Barat melalui tahapan kolonialisasi dan imperialisme pada abad yang lalu.

Dalam konteks regionalisasi, perdagangan bebas, dan 60 tahun hubungan bilateral RI-RRC, China mendadak ibarat seekor gajah yang mendadak ada di dalam ruangan.

Bukan itu saja, China pun dilihat sebagai ancaman bagi siapa saja, termasuk AS yang didera krisis keuangan dan ekonomi terdalam pada abad ke-21 ini. Bisa dipastikan, China akan bisa mentransformasikan dunia secara fundamental dengan kekuatan lebih besar jika dibandingkan dengan negara-negara kekuatan global selama dua abad ini.

Isyarat yang dikeluarkan China selama ini selalu memberi kesan bahwa para penguasa di Beijing menginginkan kebangkitan RRC pada abad teknologi informasi ini. Ditegaskan pula, niat itu tidak akan menyebabkan perubahan drastis tatanan global yang selama ini dikendalikan Barat. Namun, secara perlahan tapi pasti, kebangkitan China mulai menggeser posisi yang selama ini dikuasai Barat.

Negara-negara maju sepertinya tidak mengakui eksistensi China sebagai gajah di dalam ruangan. Barat menilai pertumbuhan dan perkembangan globalisasi, yang kini didorong oleh China, seharusnya mengikuti norma-norma universal, termasuk soal etika, kemanusiaan, demokrasi, hak asasi, kebebasan, dan semua norma lain beraliran liberalisme. Barat menganggap mustahil asas sosialisme-komunisme akan mampu mengubah tatanan dunia yang dibangun selama dua abad terakhir ini.

Namun, tanpa disadari, kini mulai terjadi pergeseran luar biasa dalam perimbangan kekuatan global yang terjadi secara sotto voce (mengecilkan nada suara), bahkan hampir tidak terlihat.

Fenomena ini menunjukkan perbedaan signifikan antara kebangkitan China dan kebangkitan Jerman atau Jepang dalam dua Perang Dunia. Kebangkitan China juga berbeda dengan kebangkitan Uni Soviet pada era Perang Dingin.

Lantai pabrik

Sejak dimulainya keterbukaan dan reformasi dalam sistem ekonomi dan perdagangan China tahun 1978, perjuangan China cukup panjang dan berat untuk bisa diterima sebagai komunitas internasional dengan segala privilese dan posisi yang setara dengan negara adidaya lainnya. Sebagai kekuatan yang baru bangkit, China diharuskan untuk berubah dan menerima norma-norma internasional.

Di sisi lain, secara perlahan banyak pengamat dan politisi dunia mulai melihat China sebagai ancaman terselubung dan mengatakan dunia kini menuju apa yang disebut sebagai ”The Coming China Wars”, seperti judul buku yang ditulis oleh Peter Navarro pada tahun 2008.

Navarro melihat China secara perlahan menaklukkan satu per satu negara-negara kuat, dan bangkit di tengah globalisasi sebagai ”lantai pabrik”. Kebangkitan itu muncul dengan mencurangi perdagangan internasional dengan menggunakan slogan ”harga produk China” yang relatif murah dibanding negara mana saja.

Pertumbuhan ekonomi China yang tinggi selama dua dekade terakhir ini selalu dipacu lewat ekspor. Pertanyaannya adalah apakah dengan terus-menerus memacu ekspor akan membuat China mampu bertahan dan meraih pertumbuhan berkesinambungan di tengah resesi global yang menurunkan daya beli?

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat tinggi tidak pernah dialami oleh negara mana pun di dunia ini. Prestasi China ini dianggap tidak adil dengan tuduhan China telah mempraktikkan merkantalisme, mencakup subsidi ekspor, pembajakan hak cipta, dan berbagai aspek yang dituduh telah menjadi penopang ”harga produk China” yang murah itu.

Hal yang menarik adalah di tengah menurunnya daya beli konsumen, China tetap aktif mencari berbagai peluang untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi serta memperluas jaringan pasar, termasuk mencari sentra kerja sama baru untuk menopang kebutuhan dalam negeri, terutama sumber-sumber energi baru.

Kekuatan dominan

Wajar ketakutan terhadap China muncul di mana-mana, termasuk dengan diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China. Banyak yang merasa akan sulit sekali untuk bisa bersaing dan bertahan dalam melakukan perdagangan dan kerja sama ekonomi dengan China, yang condong akan menguntungkan RRC.

Kita pun harus memahami kalau persoalan China akan tetap ada di masa mendatang, seperti ketimpangan pendapatan, pembangunan berkelanjutan, polusi, korupsi, dan lainnya yang tidak serta-merta hilang begitu saja. Bersamaan dengan itu ada titik-titik kritis lain yang mengancam sumber mata air atau impor minyak yang mengharuskan para penguasa di Beijing menghadirkan pemikiran baru untuk menyelesaikannya.

Regionalisasi China di kawasan Asia-Pasifik harus memberikan pilihan menarik, termasuk di antaranya gagasan yang diajukan Beijing, yakni diperlukannya mata uang global baru yang secara de facto menggantikan mata uang dollar AS sebagai alat tukar internasional. China pun secara aktif mulai mencari cara secara progresif untuk memberi peran bagi mata uang renminbi di arena internasional.

Tidak bisa dihindari, China adalah sebuah kekuatan dominan di kawasan Asia Tenggara. Ini adalah tahapan untuk menjadikan China sebagai sebuah kekuatan global setara AS. China menunjukkan ambisinya untuk menjadi lokomotif pertumbuhan regional. Ini adalah pendekatan untuk menjadikan China sebagai pasar bagi negara-negara regional sekaligus penyedia investasi dan teknologi.

Kebetulan di tengah resesi global sekarang ini, kebangkitan China dan tenggelamnya AS sebagai kekuatan dunia terjadi hampir bersamaan. Ini menghadirkan terjadinya pergeseran signifikan dalam perimbangan kekuatan ekonomi dunia maupun di antara kedua negara tersebut. Kita berharap pergantian penjaga (changing of the guard) tidak menimbulkan guncangan dahsyat yang membahayakan pertumbuhan ekonomi maupun perdagangan di mana-mana. (RLP)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: