Pengawas Bank Dikucilkan

Washington Mutual Tidak Mengindahkan Peringatan Soal Risiko
Kamis, 15 April 2010 | 03:41 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/15/03410749/pengawas.bank..dikucilkan.

WASHINGTON, SELASA – Mantan CEO Washington Mutual Kerry Killinger, Selasa (13/4), justru menyalahkan regulator dan kepicikan budaya Wall Street yang terkenal rakus atas kematian bank tersebut. Namun, dua anak buahnya yang sudah memberi peringatan malah dikucilkan.

Washington Mutual (WaMu) adalah bank terbesar di AS yang khusus berbisnis di bidang kredit perumahan. Ambruknya sektor perumahan AS menyebabkan kebangkrutan WaMu.

Namun, Killinger berkelit. Dia menyebutkan, perusahaan-perusahaan dari kelompok tertentu dilindungi dari kejatuhan akibat krisis finansial yang terjadi pada tahun 2008. Dia bersaksi di hadapan Senat Keamanan Dalam Negeri dan Komisi Urusan Pemerintahan.

Killinger mengatakan, WaMu telah diperlakukan tidak adil ketika jatuh dan dijual ke JP Morgan Chase. Kejatuhan WaMu merupakan kejatuhan bank terbesar dalam sejarah AS.

Killinger berpendapat, penyitaan di WaMu tidak perlu. Perusahaan seharusnya diberi kesempatan bertahan dan memperbaiki diri melewati krisis. Regulator tidak memberikan keuntungan kepada WaMu seperti yang ditawarkan kepada bank lain.

Killinger mengatakan, ada berbagai macam dana talangan pemerintah, seperti Program Penyelesaian Aset Bermasalah dari Departemen Keuangan, Penjaminan dari Lembaga Penjaminan Simpanan (FDIC), serta suntikan likuiditas dari bank sentral. Namun, WaMu tidak diberi fasilitas itu.

Menurut Killinger, tampaknya WaMu telah dikesampingkan dalam ratusan rapat dan telepon antara eksekutif Wall Street dan para pengambil keputusan yang menentukan siapa yang bisa diselamatkan.

”Mereka yang dekat lingkaran dalam jelas mendapatkan keuntungan. Mereka yang di luar lingkungan mendapatkan hukuman yang kejam,” keluhnya.

Killinger mengatakan, karena pasar perumahan yang terus menurun, pada awal 2008 WaMu telah mewacanakan akan mengumpulkan modal lagi atau mencari mitra untuk merger. Dikatakan, ada pihak-pihak yang tertarik membeli WaMu.

Ketika dicecar oleh Senator Tom Coburn (Republik) untuk mengidentifikasikan perusahaan mana saja yang tertarik membeli WaMu, Killinger menolak memberi jawaban.

Subkomisi investigasi yang merupakan bagian dari Senat Keamanan Dalam Negeri dan Komisi Urusan Pemerintahan memfokuskan acara dengar pendapat mengenai WaMu. Menurut temuan panel, pinjaman berisiko tinggi mendominasi neraca WaMu mulai 2003 hingga 2008 karena pinjaman yang disalurkan itu tidak menguntungkan.

Surat elektronik yang dapat diambil oleh panel memperlihatkan para eksekutif perusahaan sangat khawatir mengenai kucuran kredit berisiko tinggi. Nasabah yang tak layak juga diberi pinjaman.

Sebuah surat elektronik yang dibuat pada Februari 2007 ditujukan kepada eksekutif WaMu, David Schneider dan David Beck. Isi surat ini menggambarkan kekhawatiran mengenai pasar perumahan yang suram.

Tak diikutkan rapat

Pernyataan Killinger dimentalkan dua mantan pejabat WaMu bidang risiko bisnis. Dua pejabat itu bersaksi bahwa perusahaan lebih menekankan pada penyaluran pinjaman kepada nasabah berisiko tinggi dan mengabaikan saran dari eksekutif yang menangani risiko.

James G Vanasek, mantan Chief Credit Officer dan Chief Risk Officer antara tahun 2001 hingga 2005, mengatakan, dalam berbagai kesempatan kepada para petinggi WaMu untuk memperbaiki praktik penyaluran pinjaman yang sembrono.

Vanasek mengatakan, peringatan itu mendapat tantangan dari para manajer di perusahaan itu yang berkuasa. ”Kami tak memiliki jalan keluar,” katanya.

Ronald Cathcart, juga pejabat bidang risiko bisnis WaMu, mengatakan hal serupa. Dia mengatakan, sejak 2008 sudah dikucilkan penuh dan tidak diikutkan lagi dalam rapat-rapat, bahkan kemudian dipecat oleh Killinger. Padahal, mereka sudah sejak lama memberi peringatan bahaya. (AP/AFP/joe)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: