Ketegaran Sinta

Minggu, 11 April 2010 | 04:27 WIB
Myrna Ratna

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/11/04271894/ketegaran.sinta

Sinta, satu dari sedikit perempuan yang bisa mencapai jabatan puncak di perusahaan multinasional yang jumlah karyawannya sekitar 20.000 orang. Kuncinya kompetensi. Bukan jender.

Bicaranya lembut. Malah terkesan pemalu. Namun, Sinta Sirait (42) sehari-harinya mengurusi sekitar 20.000 karyawan yang mayoritas berada di Papua dan dikenal memiliki karakter yang blak-blakan serta keras. Kadang, bila sedang berargumen, yang ia hadapi bukan hanya bentakan keras, tetapi juga gebrakan meja.

”Saya sudah tidak kaget lagi. Karakter masyarakat di sana memang sangat terbuka. Apa yang disampaikan adalah apa yang dipikirkan. Mereka juga tidak mengenal hierarki, bahkan orang lapangan yang posisinya paling bawah pun bisa langsung bicara ke pimpinan. Cara kerjanya memang begitu. Jadi jangan tersinggung,” kata Sinta sambil tertawa halus.

Sebagai Director-Executive Vice President sekaligus Chief Administrative Officer PT Freeport Indonesia, ia sibuk mengurusi persoalan ke dalam sekaligus ke luar perusahaan. Ke dalam, ia mengurusi semua persoalan terkait sumber daya manusia, mulai dari struktur gaji karyawan sampai persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK). Ke luar, ia juga ditantang untuk membangun persepsi positif tentang perusahaannya.

Sebagai perempuan, sulitkah upayanya mencapai posisi puncak? ”Sebetulnya, kalau seseorang sudah punya niat untuk membina karier di bidang profesional, ya dijalanin saja. Yang penting, harus konsisten. Saya melihatnya sebagai kesempatan, dan kesempatan itu tidak membedakan jender. Manfaatkan saja secara profesional, buktikan kalau kita punya kompetensi, pasti jalannya akan ke sana juga,” tuturnya.

Sinta meyakini profesionalitas tidak memandang jenis kelamin. Ia juga percaya bahwa kesuksesan itu 99 persen berasal dari keringat dan 1 persen dari inspirasi. ”Kita harus kerja keras, bukan saja dalam perencanaan, tetapi juga dalam eksekusi. Selama kita bisa memberikan yang lebih, continuous improvement, tidak cepat merasa puas, fokus, pasti akan terbangun tingkat kepercayaan yang lebih pada diri kita. Memang lelah sih kadang-kadang,” katanya.

Mengobrol dengan Sinta seperti sedang menimba ilmu manajemen. Misalnya saja tentang perlunya kerja tim. Ia percaya tak ada istilah superwoman atau superman. Semua orang saling membutuhkan. Tetapi khusus untuk perempuan, ia menandai satu hal.

”Maaf nih ya, yang sering terjadi pada perempuan, umumnya perempuan senang bekerja, tetapi kerjaaa… terus dan lupa membina hubungan, membangun network. Karena terlalu berkutat sendiri dalam dunia kecilnya, hasilnya kadang tidak efektif. Akan jauh lebih efektif kalau dia mengomunikasikan hasil pekerjaannya atau mengajak lebih banyak orang mengadopsi pemikirannya,” katanya.

Filosofi hidup

Mungkin etos kerjanya itu terinspirasi dari pengalaman hidup kedua orangtuanya, Prof Midian Sirait (82), ahli farmasi dari ITB dan salah satu sesepuh Golongan Karya, serta ibunya, Dra Ellen Sirait (80), perempuan asal Jerman yang ahli filsafat dan teologi.

”Yang saya pelajari dari mereka adalah filosofi hidup. Mereka bukan orang-orang yang berambisi di bidang materi, tetapi mereka percaya pada prinsip-prinsip hidupnya. Filosofi itu menjadi warna di keluarga saya,” lanjutnya.

Sewaktu kecil, setiap pulang sekolah dan usai tidur siang, Sinta bersama keluarganya berkumpul dan saling bercerita tentang pengalaman hari itu. Orangtuanya biasanya mengobrolkan beragam topik, mulai dari persoalan kehidupan, politik, ataupun organisasi. Ia mengaku tak paham akan apa yang dibicarakan orangtuanya, tetapi semakin besar, ada pengetahuan yang perlahan diserapnya.

”Misalnya saja mereka sering berdiskusi soal Immanuel Kant, Karl Marx, yang saya dulu mungkin tidak mengerti. Tetapi itu mendorong keinginan saya untuk membaca. Apalagi Ibu mempunyai perpustakaan yang besar. Mereka berdua sangat luas pengetahuannya. Itu yang saya pelajari dari orangtua saya,” kata Sinta.

Awalnya, ia sempat berpikir untuk menjadi ilmuwan. Namun, ia melihat bahwa profesi ilmuwan belum mendapat apresiasi yang sepadan di Indonesia. Usai menamatkan studinya di Universitas Indonesia, ia memutuskan untuk mengambil bidang manajemen di University of Colorado, Denver, Amerika Serikat.

Begitulah, perjalanan kariernya dimulai ketika ia ditawari magang di Chambers of Commerce di Denver, dan kemudian ditawari pekerjaan di kantor pusat Freeport di New Orleans, sampai kemudian kembali ke Jakarta.

Walaupun urung menjadi ilmuwan, dalam sikap kerjanya Sinta sangat mengandalkan apa yang disebutnya ”based on facts”. Dengan demikian, ia bisa mengambil jarak dengan subyektivitasnya dalam membuat keputusan, termasuk ketika ia harus mem-PHK seseorang.

”Inilah salah satu tugas terberat yang saya hadapi sebagai seorang profesional ketika harus memberhentikan seseorang. Karena kita sudah punya relationship dengan yang bersangkutan, kita tahu latar belakangnya, kita kenal keluarganya. Bagaimana memisahkan hubungan personal dan profesional itu tadi, terus terang menjadi tantangan bagi saya sampai hari ini. Itu membutuhkan energi yang luar biasa,” katanya.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: