China Akan Perluas Investasi ke Luar Negeri

Jangan Fokus ke Negara Barat
Selasa, 13 April 2010 | 04:02 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/13/04020665/jangan.fokus.ke.negara.barat

Boao, Kompas – Negara berkembang di Asia tidak perlu harus fokus dan menjadikan negara Barat sebagai inspirasi pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan pasar yang kuat. Cukup banyak peluang bagi negara berkembang di wilayah Timur melakukan perdagangan saling menguntungkan.

Negara-negara berkembang di Asia sudah seharusnya mulai saling belajar satu sama lain serta saling memberikan keuntungan melalui perdagangan ataupun investasi secara bersama-sama.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia Gita Wirjawan dalam diskusi panel dengan tema ”Emerging Markets: Time to Turn to One Another”. Diskusi ini merupakan satu dari sejumlah diskusi panel yang dilaksanakan pada acara Boao Forum for Asia Annual Conference 2010 di Boao, sekitar 180 kilometer dari Haikou, ibu kota Provinsi Hainan, China, Minggu. Hari Senin (12/4) lebih banyak diisi dengan pertemuan informal.

Selain Gita, tampil sebagai panelis dalam diskusi tersebut adalah Chairman National Council for Social Security Fund China Dai Xianglong, Sekretaris Jenderal Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry Amit Mitra, Managing Director Khazanah Nasional Bhd Malaysia Azman Mokhtar, dan Chairman Prudential Corporation Asia Donald Kanak.

Dalam diskusi, Gita menegaskan keterbukaan Indonesia untuk bekerja sama dengan negara berkembang mana pun selama itu saling menguntungkan. Gita menyatakan, tidak satu pun negara dapat berjalan sendiri. Setiap negara harus bekerja sama dengan negara lain karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

”Indonesia memiliki banyak keunggulan komparatif, antara lain sumber daya alam berlimpah, kondisi sosial politik cukup stabil, jumlah penduduk yang besar, termasuk dalam negara G-20, dan perekonomian yang terus bertumbuh. Namun, di sisi lain, kami membutuhkan investor dari berbagai negara untuk mempercepat pembangunan infrastruktur,” kata Gita.

Menurut dia, untuk lima tahun ke depan, Indonesia membutuhkan dana 150 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.372 triliun untuk membiayai sejumlah proyek pembangunan infrastruktur, antara lain pembangunan jalan, pelabuhan, dan pembangkit listrik. Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmennya menyediakan dana 40-50 miliar dollar AS untuk membiayai pembangunan infrastruktur, yang akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sementara itu, 90-100 miliar dollar AS lagi diharapkan dari investor dalam dan luar negeri, baik dalam bentuk utang maupun ekuitas.

Gita juga menyinggung rencana kunjungan Perdana Menteri China Wen Jiabao ke Indonesia, akhir bulan ini. Menurut dia, kunjungan itu menandakan perkembangan hubungan politik dan ekonomi yang signifikan antara China dan Indonesia. Kunjungan Wen Jiabao diharapkan membuka peluang lebih besar bagi Indonesia dan China dalam membangun perekonomian.

Sementara itu, Dai Xianglong yang juga mantan Bank Sentral China mengatakan, China tidak hanya perlu menarik investasi asing, tetapi juga memperluas saluran untuk investasi luar negeri.

(Reinhard Nainggolan, dari Hainan, China)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: