Maret Penerimaan Cukai Rokok Anjlok

Realisasi Hanya Separo Target
Senin, 12 April 2010

http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=127795

BANDUNG – Ditjen Bea dan Cukai, rupanya, harus bekerja keras untuk mengejar target penerimaan Rp 57,2 triliun. Sebab, Maret lalu penerimaan cukai justru anjlok.

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea Cukai Kushari Supriyanto mengatakan, realisasi penerimaan cukai Maret hanya Rp 3,93 triliun atau jauh di bawah penerimaan Februari yang mencapai Rp 7,16 triliun. ”Memang turun tajam,” ujarnya saat workshop APBN 2010 oleh Forum Wartawan Keuangan dan Ekonomi Moneter (Forkem) di Bandung Sabtu lalu (10/4).

Data Ditjen Bea dan Cukai menunjukkan, realisasi penerimaan cukai pada Januari sebesar Rp 5,3 triliun, kemudian melonjak pada Februari, tapi anjlok pada Maret. Apakah anjloknya penerimaan cukai tersebut disebabkan fatwa haram merokok? Kushari tidak bisa memastikan. ”Kami akan menganalisis dulu apakah penurunannya memang karena fatwa haram merokok atau yang lain,” katanya.

Kushari mengatakan, pola penerimaan bulanan cukai memang menunjukkan grafik menurun setiap Maret. Itu disebabkan periode Januari dan Februari merupakan batas akhir penggunaan pita cukai yang sudah dipesan. ”Tapi, biasanya, anjloknya memang tidak setajam Maret lalu,” terangnya.

Dia berharap, penerimaan cukai bisa kembali ke angka target rata-rata bulanan Rp 4,77 triliun pada April ini. Sebab, lanjut dia, pemerintah justru akan menaikkan target penerimaan cukai menjadi Rp 58,2 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2010 dari sebelumnya Rp 57,2 triliun. ”Jadi, perlu effort lebih,” ujarnya.

Sebelumnya, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Thomas Sugijata mengatakan, kontribusi cukai rokok dalam target penerimaan cukai memang dominan. Dari target Rp 57,2 triliun, sekitar Rp 54,2 triliun di antaranya diharapkan disumbang dari rokok. Sisanya diharapkan disumbang dari produk lain, seperti minuman beralkohol. ”Karena itu, penerimaan cukai rokok akan digenjot. Strateginya, menggencarkan operasi penindakan cukai ilegal,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan, banyak aturan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan berada di luar kompetensi untuk mengatur dampak tembakau. ”Karena itu, Kantor Menko (Perekonomian) protes. Kami minta dibahas ulang,” ujarnya di sela workshop tentang APBN 2010 di Bandung Sabtu lalu (10/4).

Menurut Edy, pihaknya sebenarnya setuju dengan iktikad untuk membatasi dampak produk tembakau. Namun, dia tidak setuju jika RPP tersebut terlalu mengatur detail industri rokok. ”Misalnya, soal aturan jumlah rokok dalam satu kemasan, soal iklan, itu kan berarti sudah masuk rumah (kewenangan, Red) orang (instansi, Red) lain,” katanya. ”Seperti soal iklan, itu kan sudah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen,” imbuhnya.

Saat ini pembahasan RPP Tembakau melibatkan empat kementerian. Yakni, Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perindustrian.

Edy mengatakan, salah satu penyebab RPP Tembakau memicu resistensi dari dunia usaha adalah karena sejak awal pembahasan para pelaku usaha tidak dilibatkan secara intens. ”Sebagian malah tahu (RPP Tembakau) dari koran,” ucapnya.

Menurut Edy, bisa jadi pelaku usaha diundang, namun tidak mewakili industri secara keseluruhan. Akibatnya, suara dari pelaku usaha belum sepenuhnya terakomodasi. ”Jadi, secara policy belum dibahas interdept dulu. Makanya kita minta dibahas lagi deh sama-sama, maksudnya (aturannya) jangan terlalu lebay (berlebihan, Red),” katanya.

Edy mengatakan, dengan draf RPP saat ini, industri akan terpukul karena aturannya dinilai terlalu drastis dengan membatasi produksi rokok maupun membatasi penjualan rokok. ”Isinya terlalu heavy (berat, Red). Bahkan, sudah melebihi pengaturan internasional,” terangnya. (owi/c4/kim)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: