China Akhirnya Alami Defisit

PERDAGANGAN GLOBAL
Senin, 12 April 2010 | 03:59 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/12/03594959/china.akhirnya.alami.defisit.

China akhir pekan lalu menyatakan mengalami defisit perdagangan pertama sejak enam tahun terakhir. Dengan adanya defisit itu, China membuktikan bahwa bukanlah kurs mata uangnya yang menciptakan ketidakseimbangan global. Banyak analis menyatakan, defisit ini sementara saja.

Selama ini, China mendapat tekanan besar dari mitra dagangnya agar mau membuat kurs yuan terapresiasi. China dianggap telah sengaja melemahkan yuan agar dapat meningkatkan ekspornya. Akibatnya, terjadi surplus perdagangan besar-besaran terhadap AS dan Eropa.

Isu

kurs yuan ini menjadi salah satu isu penting dalam hubungan AS-China. Akan tetapi, China tetap mempertahankan kursnya dengan alasan diperlukan untuk keberlangsungan manufaktur domestik serta mendukung pertumbuhan lapangan kerja.

Akhir pekan lalu, pejabat China mengumumkan bahwa China membukukan defisit pertama kalinya dalam enam tahun terakhir sebesar 7,2 miliar dollar AS. Ekspor bertumbuh 24,3 persen menjadi 112,1 miliar dollar AS dari bulan yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor naik 66 persen dari tahun lalu menjadi 119,3 miliar dollar AS.

Sudah diduga

Defisit ini tidak datang tiba- tiba. Menteri Perdagangan Chen Deming telah memperingatkan bulan lalu bahwa tampaknya China akan mengalami defisit. Akan tetapi, dia mengatakan juga bahwa defisit itu merupakan fenomena yang temporer saja.

Kementerian Perdagangan, yang tidak mau membiarkan yuan menguat, membuat tanggapan lain. ”Di bawah situasi seperti ini, yaitu membuat kurs yuan tetap terkendali, surplus perdagangan China terus mengecil sehingga defisit terjadi pada Maret lalu,” ujar Yao Jian, juru bicara kementerian perdagangan.

Naik lagi

”Hal ini menunjukkan bahwa dalam era globalisasi ekonomi ini, faktor ketidakseimbangan global bukanlah kurs mata uang, melainkan faktor lain seperti hubungan antara pasokan dan permintaan di pasar,” ujar Mark Williams, ekonom senior pada Capital Economics di London. Dia juga mengatakan, defisit China mungkin akan mengurangi tekanan untuk menguatkan kurs yuan dari sejumlah pihak.

”Akan tetapi, situasi belum tenang benar karena China akan segera mengalami surplus lagi. Walaupun demikian, masalah surplus perdagangan adalah masalah yang politis,” tambahnya.

Ken Peng, ekonom Citigroup di Beijing, sepakat dengan hal itu. ”Untuk sementara, defisit ini dapat melegakan China dari tekanan-tekanan, tetapi perlu diingat bahwa ini merupakan defisit yang temporer dan yuan bukanlah satu-satunya alasan terjadinya ketidakseimbangan global,” ujarnya.

Brian Jackson, strategis senior pada Royal Bank of Canada mengatakan, China akan tetap membiarkan kurs yuan menguat karena faktor domestik dan tidak untuk menanggapi tekanan internasional. ”Mereka masih akan bergerak karena ada kepentingan dalam negeri seperti memerangi inflasi,” ujarnya.

Jackson menambahkan, defisit itu bahkan merupakan pengaruh dari faktor musiman saja. Ekspor China segera akan kembali pada awal tahun dan setelah melampaui angka pada kuartal sebelumnya menjelang musim liburan di AS.

”Selain itu, ada juga penyesuaian pada neraca perdagangan tahunan. Jika neraca dihitung dalam 12 bulan, terlihat ada level yang ekstrem terjadi dari tahun 2006 ke tahun 2008 dan sekarang kenaikan ekstrem itu kembali menurun,” katanya lagi.

Krisis finansial membuat ekspor China juga terguncang sehingga negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu harus fokus pada permintaan domestiknya. Beijing telah berupaya meredam harapan bahwa ada kenaikan ekspor yang besar tahun ini. Menteri Perdagangan Chen mengatakan bulan lalu bahwa diperlukan waktu setidaknya tiga tahun untuk dapat mencapai level sebelum krisis.

Sementara itu, perekonomian China bergerak lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan di negara lain.

Baja AS

Ancaman perang dagang dengan AS masih terus berlanjut. Jumat (9/4) lalu AS telah menetapkan bea masuk antidumping yang berkisar antara 30 persen dan 99 persen dari pipa baja buatan China yang bernilai lebih dari 1 miliar dollar AS. Kasus ini merupakan kasus antidumping terbesar di AS.

Departemen Perdagangan AS mengumumkan hal itu hanya beberapa hari sebelum Presiden China Hu Jintao tiba di Washingtong untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi nuklir.

”Pemerintah China dan para eksportir telah diberi tahu soal ini,” ujar Leo Gerard, pemimpin Serikat Pekerja Baja AS.

Para pekerja di sektor baja telah mendesak pemerintah untuk bertindak melawan China. Kasus baja ini diajukan oleh tujuh produsen baja AS, yaitu United States Steel Corp, Maverick Tube Corp, Evraz Rocky Mountain Steel, TMK IPSCO, V&M Star LLP, V&M TCA, dan Wheatland Tube Corp.

Beijing telah memprotes peningkatan jumlah kasus antidumping di AS dan penyebutan China sebagai proteksionis. AS menyatakan akan terus melawan praktik perdagangan yang tidak wajar. Lebih dari 30 perusahaan China telah menerima tarif tambahan antidumping sekitar 30 persen, turun dari 36,5 persen seperti yang diumumkan November lalu.

Akan tetapi, Jiangsu Changbao Steel Tube Co, yang tidak terkena tarif awal, saat ini menghadapi tarif yang sangat tinggi, sebesar 99,14 persen untuk produknya. AS mengimpor pipa baja yang digunakan untuk memproduksi minyak dan gas alam senilai 2,7 miliar dollar AS pada tahun 2008.

(AP/AFP/Reuters/joe)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: