Dari CSR ke Inovasi Sosial

VISI BISNIS
Kamis, 1 April 2010 | 02:38 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/02384656/dari.csr.ke.inovasi.sosial

Pemikiran soal partisipasi usaha swasta dalam masalah sosial dan lingkungan terus berkembang. Dari waktu ke waktu bentuk partisipasi itu terus berubah dan dikoreksi. Di Inggris bentuk partisipasi ini setiap saat selalu dikaji dan dikritisi. Harapannya ada bentuk ideal soal partisipasi itu dalam mengantisipasi masalah-masalah dunia ke depan.

Model partisipasi perusahaan dalam menangani masalah-masalah sosial dan lingkungan melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) telah tergantikan. Perusahaan tidak lagi cukup hanya menyisihkan keuntungan untuk kegiatan-kegiatan sebagai wujud tanggung jawab mereka kepada masyarakat. Melalui inovasi sosial (social innovation) atau IS, perusahaan terlibat langsung menangani masalah-masalah yang ada.

Bila kita kembali ke sejarah partisipasi sosial perusahaan, hal itu sebenarnya sudah muncul pada era 1960-an. Pada masa itu tuntutan agar perusahaan memerhatikan masalah sosial lebih banyak ditolak oleh perusahaan. Akan tetapi, karena tuntutan hak asasi manusia dan lain-lain, perusahaan memenuhi hak-hak pekerja dan lingkungan. Namun, saat itu pemenuhan tersebut hanya karena demi pemenuhan tuntutan legal saja.

Pada periode berikutnya, tahun 1970-an sampai 1980-an, perusahaan mulai memperbaiki citra kaitannya dengan pemasaran. Produk-produk perusahaan lebih bisa diterima bila mereka memerhatikan tuntutan-tuntutan konsumen. Pada saat itu perusahaan lebih maju, yaitu selain memenuhi tuntutan legal, demi pemasaran produk mereka, perusahaan memenuhi tuntutan-tuntutan konsumen.

Berikutnya, pada tahun 1990-an hingga tahun 2000, perusahaan mulai melihat bahwa mereka juga merasa mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial. Di samping untuk membentuk citra perusahaan, mereka juga terpanggil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Perusahaan terlibat dalam penanganan masalah pendidikan, air bersih, energi, dan lain-lain.

Direktur Eksekutif Volans—sebuah perusahaan jasa konsultasi dan perantara untuk pengembangan inovasi sosial—Charmian Love di London mengatakan, bila CSR hanya ditentukan oleh kepentingan legal, pemasaran, dan sumber daya manusia, dalam inovasi sosial terdapat faktor penentu lainnya, yaitu visi para eksekutifnya.

Charmian berbicara dalam forum East Asia Skills for Social Entrepreneurs yang diadakan British Council di kota London pada akhir Februari. Forum ini menginformasikan seluk-beluk wirausahawan sosial (social entrepreneur) di London dan segala aktivitasnya.

Para eksekutif harus bisa melihat masalah-masalah yang ada, seperti krisis energi, kelaparan, perubahan iklim, wabah penyakit, dan perdagangan global yang timpang. Berangkat dari sejumlah masalah itu, para eksekutif merumuskan kebijakan-kebijakan yang bisa ikut menyelesaikan masalah tersebut melalui produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaannya.

Para eksekutif juga harus memastikan aplikasi-aplikasi berbagai kebijakan di dalam bisnisnya sehingga benar-benar perusahaan tersebut ikut terlibat dalam menyelesaikan berbagai masalah itu. Dalam hal ini mereka tidak lagi berada di luar program-program untuk menyelesaikan masalah, tetapi terlibat langsung menangani masalah.

Sejumlah perusahaan di dunia disebutkan mulai menerapkan IS. Salah satu contohnya adalah sebuah jaringan perusahaan kafe internasional yang telah menggunakan label Fairtrade untuk produk-produknya.

Dengan label itu, perusahaan memberi harga bahan dasar yang digunakan oleh perusahaan tersebut dengan harga yang pantas ke petani. Perusahaan itu bisa memastikan bahwa bahan dasar yang dibeli dari petani dibayar dengan harga yang layak. Dengan cara demikian, perusahaan tersebut ikut terlibat menyelesaikan masalah perdagangan global yang timpang.

Contoh lainnya, sebuah perusahaan panel surya di Inggris bekerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan media di Afrika untuk mengurangi krisis energi. Melalui sebuah LSM, mereka mengidentifikasi orang-orang yang bisa menjadi wirausahawan dalam produksi energi. Para calon wirausahawan itu dilatih merencanakan bisnis, meriset pasar, dan lain-lain sehingga mereka mampu mengembangkan bisnis mikro untuk memasok listrik ke masyarakat.

Dengan cara ini, perusahaan panel surya itu ikut menyelesaikan kekurangan energi yang dialami masyarakat. Meski mereka menjual produknya, dengan inovasi yang dilakukan bersama LSM, mereka telah membantu menangani masalah yang dialami masyarakat.

Mereka juga menumbuhkan wirausahawan sosial di tengah masyarakat. Mereka bukan lagi sekadar menjadi pemberi bantuan, tetapi juga menumbuhkan wirausahawan sosial di tengah komunitas yang tengah dilanda masalah.

Di Indonesia, beberapa perusahaan juga sudah mengembangkan IS. Salah satunya adalah perusahaan air minum yang mengembangkan air bersih di sebuah provinsi. Kemampuan perusahaan itu memproduksi air bersih diimplementasikan dalam menangani masalah masyarakat, yaitu kekurangan air bersih.

Kita masih menunggu lebih banyak lagi peran perusahaan di Indonesia untuk menangani berbagai masalah sosial dan lingkungan. Melalui berbagai inovasi dan usaha kreatif dari sejumlah perusahaan, kita bisa berharap mereka mampu terlibat di dalam penanganan masalah-masalah sosial dan lingkungan.

Melihat perkembangan IS, pemikiran dan sikap CEO menjadi kunci bagi perkembangan perusahaan. CEO tidak lagi hanya berkutat dengan bisnis atau mengurus memaksimalkan keuntungan semata, tetapi mereka juga harus terlibat dalam menangani masalah sosial.

Sekolah-sekolah bisnis sepertinya perlu mengembangkan kurikulum yang bisa mengembangkan sikap-sikap filantropi siswa-siswanya sehingga bisa menghasilkan pebisnis yang bukan hanya mampu melipatgandakan keuntungan perusahaan, tetapi juga mampu menjawab masalah sosial dan lingkungan yang menghadang.

Para pengajar sekolah bisnis perlu memberikan tantangan kepada para calon pebisnis tidak hanya berupa problematika dunia bisnis, tetapi juga menghadapkan mereka dengan tantangan global, seperti krisis energi, kelaparan, krisis air bersih, dan penurunan derajat kesehatan.

Kita membayangkan bahwa seorang pebisnis yang berusaha keras memikirkan perkembangan bisnisnya, tetapi pada saat yang sama mereka juga memikirkan seluruh aktivitas bisnisnya dan juga aktivitas pendukungnya terlibat dalam menangani masalah-masalah dunia. (ANDREAS MARYOTO)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: