Wapres Tak Setuju Jam Operasi Dibatasi

RITEL
Sabtu, 20 Maret 2010 | 03:38 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/20/0338225/wapres.tak.setuju.jam.operasi.dibatasi

Bekasi, Kompas – Wakil Presiden Boediono menyatakan, ia kurang setuju jika pemerintah harus membatasi jam beroperasi supermarket atau pasar modern meskipun alasan pembatasan itu untuk memberikan kesempatan kepada pedagang kecil dan pasar tradisional agar bisa lebih berkembang.

Upaya memberdayakan pedagang kecil dan pasar tradisional, menurut Boediono, bisa dilakukan tanpa harus membatasi jam beroperasi supermarket dan pasar modern.

Demikian disampaikan Boediono saat menjawab pertanyaan peserta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di Kelurahan Aren Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (19/3). Dalam kunjungan kerja itu, Wapres didampingi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II lainnya.

Peserta PNPM menanyakan alasan Pemerintah Indonesia tidak membatasi jam beroperasi supermarket atau usaha ritel modern lainnya.

Pembatasan jam beroperasi itu, misalnya, telah diterapkan oleh Pemerintah Australia, yang menetapkan supermarket beroperasi hingga pukul 17.00. Ketentuan ini untuk memberikan kesempatan bagi usaha kecil.

”Menurut saya, kita memang tidak harus membatasi kegiatan satu kelompok usaha untuk mendorong kelompok usaha lainnya. Untuk meningkatkan satu kelompok usaha bukan dengan cara pembatasan seperti itu,” ujar Boediono.

Menurut Wapres, mendorong pengembangan pedagang kecil dan pasar tradisional seharusnya dilakukan justru dengan mengaitkan pengembangan pasar kecil dan pasar tradisional dengan usaha besar atau pasar modern.

Oleh karena itu, Boediono berpendapat, untuk mengembangkan pasar tradisional dan pedagang kecil, yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan dukungan.

”Daripada dengan menghambat jam kerja kelompok usaha lainnya,” ujar Wapres.

Boediono meyakini ada cara yang lebih berkelanjutan dan memberikan dampak lebih luas bagi pengembangan pasar tradisional. ”Ada cara lain yang lebih sustainable (berkelanjutan) dan bisa memberikan dampak yang lebih luas, seperti dengan dukungan dana, teknologi dan riset serta kajian dari kegiatan usaha lainnya dengan kursus-kursus,” tutur Boediono.

Menurut Boediono, dengan cara seperti itu dampaknya akan terasa lebih luas, tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha ritel, tetapi juga oleh pihak-pihak terkait, seperti petani dan pekerja.

Dia menjelaskan, daerah punya peranan penting untuk menetapkan pembatasan bagi usaha baru. Daerah, kata Boediono, bisa melakukan hal itu dengan pengaturan kawasan.

”Lewat pembagian zona yang baik, dengan pengaturan tempat yang baik bagi supermarket maupun pasar tradisional. Jadi, kita tidak perlu mencontoh apa yang dilakukan di Australia,” ujar Wapres. (har)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: