Pemerintah Harus Terus Benahi Citra Kumuh

PASAR TRADISIONAL
Rabu, 17 Maret 2010 | 03:40 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/17/03402698/pemerintah.harus.terus.benahi.citra.kumuh

Jakarta, Kompas – Pasar tradisional sudah saatnya dipersolek sebagai bagian dari upaya meredam ekspansi pasar modern yang tumbuh secara fantastis mencapai 162 persen dalam beberapa tahun ini. Beberapa pasar tradisional yang sudah bersolek terbukti bisa menarik lebih banyak pembeli ke sana.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (DPD Aprindo) Jawa Tengah Budi Handojo Soeseno mengakui, peraturan yang ketat soal ekspansi ritel modern bisa membantu menjaga eksistensi pasar tradisional. ”Tetapi, pemda harus dapat membenahi pasar tradisional sehingga tidak lagi kumuh dan bau,” kata Budi.

Bupati Bantul Idham Samawi yang dikenal dengan kebijakannya menolak keberadaan ritel modern karena bisa mengancam keberadaan pasar tradisional di wilayahnya, juga mengakui bahwa larangan ini bisa kontraproduktif jika tidak dibenahi dengan pembenahan pasar tradisional.

Pascagempa, Pemerintah Kabupaten Bantul berkomitmen merehabilitasi semua pasar tradisional secara bertahap. Tujuannya, agar pengunjung nyaman dan betah berbelanja di pasar tradisional. ”Kami masih konsisten menolak keberadaan mal sebab pasar tradisional jadi tempat bergantung bagi sekitar 30 persen penduduk Bantul,” ujarnya.

Kekumuhan pasar tradisional juga disorot oleh pakar manajemen, Rhenald Kasali. ”Pasar tradisional kini tak ubahnya seperti kapal pecah. Tidak terawat. Padahal, para pedagang menempati kios dan los dengan membayar retribusi keamanan dan kebersihan. Seharusnya, mereka punya hak menempati pasar yang terawat bersih,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia ini.

Rhenald mencermati, para pengelola pasar tradisional tak memahami adanya perubahan. Ini, misalnya, tampak dari pelayanan pasar tradisional kepada konsumennya. Pelayanan hanya diberikan pada pagi hari, padahal gaya hidup dan tuntutan kerja menyebabkan ibu-ibu rumah tangga tak dapat ke pasar pada pagi hari.

Pengelola pasar juga tidak mengakomodasi kebutuhan seluruh keluarga. Oleh karena itu, Rhenald menyarankan agar revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah dibarengi dengan perubahan kemampuan pengelola pasar.

Namun, Direktur Utama Perusahaan Daerah (Dirut PD) Pasar Jaya Djangga Lubis menegaskan, keberadaan pasar modern di sekitar Jakarta bukan saingan bagi pasar tradisional. Alasannya, segmen pasarnya berbeda. Pasar modern untuk kalangan menengah atas, sedangkan pasar tradisional untuk menengah bawah. Pesaing pasar tradisional adalah jaringan minimarket. Ini karena barang yang dijual sebagian besar sama, target pasarnya pun sama, dan harga bersaing.

”Untuk itu, PD Pasar Jaya harus berbenah diri. Selama ini, citra yang menempel di pasar tradisional bau, becek, kotor, dan tidak terawat. Citra itu membuat konsumen meninggalkan pasar tradisional,” ujar dia.

Djangga mengakui, membenahi pasar tradisional bukan pekerjaan mudah dan murah. Tahun 2008, di Jakarta, ada 151 pasar tradisional, kini ada 153 pasar tradisional. Dari jumlah itu, hanya 58 pasar yang kondisinya baik, sisanya memprihatinkan. ”Rata-rata usia pasar sudah 20- 30 tahun,” kata Djangga.

Pendanaan menjadi salah satu kendala peremajaan pasar. Dana APBD Pemerintah Kota Semarang, misalnya, tak cukup untuk meremajakan 47 pasar tradisional di kota itu. Dari retribusi pasar, Pemerintah Kota Semarang hanya mendapat Rp 12 miliar per tahun. ”Dana itu dikembalikan ke pasar untuk pemeliharaan, listrik, dan pembinaan. Pembenahan akhirnya hanya tambal sulam. Untuk pembenahan satu pasar kecil saja butuh Rp 400 juta, untuk pasar besar seperti Pasar Johar butuh Rp 5 miliar- Rp 15 miliar,” kata Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Ednawan Haryono.

Dirut PD Pasar Kota Denpasar I Made Westra mengaku tetap mengupayakan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bagi siapa pun yang berkepentingan dengan pasar tradisional meski hal ini tak mudah agar pembeli tetap datang ke pasar tradisional.

Perkembangan ritel modern di Pulau Dewata, khususnya Kota Denpasar, selama setahun terakhir makin menjamur. Namun, Westra yakin minat masyarakat datang ke pasar tradisional tetap tinggi. ”Masyarakat Bali masih memercayai transaksi di pasar tradisional lebih menguntungkan dan memuaskan dari segi tawar-menawar harga,” ujarnya.

Menurut Rhenald, persoalan yang kerap muncul dalam revitalisasi pasar karena permainan harga kios pascaperemajaan. Pedagang lama merasa tidak mampu menempati kiosnya lagi karena harganya terlalu mahal. Akibatnya, pedagang tumpah ke jalan. ”Sayang sekali kalau pembangunan pasar menghasilkan konflik baru,” ujarnya. (OSA/ARN/ARA/DEN/UTI/ays/eny/GAL)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: