Belajar Membaca, Belajar Mengelola Keseharian

BERITA UTAMA
Koran Ibu, Edisi I/Th 1
Indah Sri Wulandari*

Pandangan terhadap penyandang buta aksara cenderung dipertautkan dengan kemiskinan pengetahuan, keterampilan, serta keterbelakangan. Untuk itu, pelaksanaan PBA (Pemberantasan Buta Aksara) diintegrasikan dengan pemberdayaan ekonomi melalui pola kelompok. Pendekatan ini dilakukan agar warga buta aksara –yang umumnya berasal dari kalangan ekonomi lemah– tidak sekadar bisa membaca, menulis, dan menghitung, melainkan juga bisa terangkat martabat kehidupannya.

Daya Annisa merupakan salah satu lembaga yang diberi amanah pemerintah untuk memfasilitasi pengadaan Koran Ibu bagi anggota dampingannya. Daya Annisa memiliki fokus kegiatan pada pemberdayaan khususnya pelaku usaha mikro-kecil yang meliputi penguatan ekonomi, sumber daya manusia, dan kapasitas usaha. Koran Ibu ini merupakan program pendidikan pemberdayaan perempuan untuk pemberantasan buta aksara.

Pelaksanaan PBA melalui pola kelompok yang diintegrasikan dalam pemberdayaan ekonomi yang telah dilakukan oleh Daya Annisa yaitu sebelum atau sesudah pembelajaran keaksaraan dilakukan kegiatan simpan pinjam. Kegiatan simpan pinjam ini dimaksudkan agar pembelajaran keaksaraan lebih menarik dan sekaligus dapat memenuhi kebutuhan modal usaha bagi anggota.

Selama proses pendampingan masyarakat, Daya Annisa banyak menemui perempuan dengan keterbatasan keberaksaraan.

Proses Pelatihan Keaksaraan Daya Annisa di Dusun Kepek Timbulharjo Sewon, Bantul

Keterbatasan ini yang sungguh sangat merugikan perempuan itu sendiri. Contohnya adalah Mbah Adi, warga Rendheng Wetan Timbulharjo Sewon Bantul. Pekerjaan Mbah Adi adalah penjual makanan enthok-enthok (makanan yang terbuat dari jagung) di Pasar Patangpuluhan, Yogyakarta. Karena Mbah Adi buta aksara, beliau tidak bisa membaca huruf maupun angka yang tertera pada selembar uang. Maka dalam proses jual-beli barang dagangannya, untuk membedakan antara uang yang satu dengan yang lainnya, Mbah Adi hanya berpedoman pada warna uang. Menurut Mbah Adi, uang yang berwarna biru nilainya Rp 50.000, yang merah nilainya Rp 100.000 dan Rp 10.000. Tidak terbayang betapa pusingnya Mbah Adi untuk membedakan uang yang beredar di masyarakat karena warnanya hampir sama.

Lain lagi kisah yang disampaikan Ibu Bartini pembuat lempeng legendar (kerupuk berbahan dasar nasi) dari Kepek, Timbulharjo Sewon, Bantul. Beliau hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 3 SD, karena keterbatasan biaya saat itu.

Beliau sudah mengenal huruf tetapi belum lancar membaca. Dan ini yang merepotkan, beliau mempunyai keterbatasan dalam membaca angka. Saat beliau memasukkan uang untuk menabung atau mengambil uang tabungannya, beliau mempercayakan kepada petugas bank, baik untuk pengisian lembar formulir setoran tabungan atau pengambilan tabungan.

Keterbatasan Bu Bartini dapat merugikan diri, karena bisa saja saat transaksi dengan bank, ada oknum petugas bank yang menuliskan jumlah nominal uang tidak seperti yang dikehendaki Bu Bartini.

Kasus yang dialami Mbah Adi dan Bu Bartini tentu menimbulkan “trenyuh” di dada. Di jaman sekarang, yang mensyaratkan kemampuan untuk dapat membaca dan menulis, masih ada dan banyak anggota masyarakat yang tertinggal dalam keberaksaraan. Keterbatasan keberaksaraan menghambat warga dalam membaca dan mengelola kegiatan keseharian.

Keterbatasan ini menutup informasi dan komunikasi yang boleh jadi penting dalam memaknai kehidupan sehari-hari. Sebagai anggota simpan pinjam di Daya Annisa, Mbah Adi dan Bu Bartini termasuk anggota yang lancar dalam proses pembayaran simpan pinjam. Usaha merekapun tergolong bagus. Tetapi karena keterbatasan keaksaraan menyebabkan pengelolaan usahanya menjadi terhambat.

Memang banyak kendala dalam belajar keaksaraan. Antara lain faktor ekonomi dan usia yang tidak muda lagi. Masyarakat yang menjadi sasaran belajar keaksaraan sebenarnya mau belajar, tetapi terhalang oleh kewajiban bekerja untuk mendapatkan uang bagi keluarga. Sedangkan faktor usia menyebabkan mereka merasa tidak perlu lagi untuk belajar.

Dinyatakan secara berbeda, motivasi belajar yang rendah berbarengan dengan masalah penglihatan dan transportasi menuju tempat belajar. Belajar dari pengalaman, ternyata cukup susah untuk mengumpulkan 10 warga belajar di satu tempat karena di lokasi anggota yang berjauhan.

Ibu-ibu di Dusun Kepek Timbulharjo Sewon, Bantul semangat mengikuti pelatihan keaksaraan

Program pelatihan keaksaaraan ini sebenarnya pernah dilakukan Daya Annisa di Dusun Gabusan, Timbulharjo Sewon Bantul, Juni-Juli 2008 secara swadaya, yang diikuti 14 orang anggota dampingan. Tetapi ada hal menggembirakan saat disosialisasikan pelatihan keaksaraan lagi bagi anggota dampingan, yang merupakan keberlanjutan dari program Koran Ibu. Banyak ibu-ibu yang buta huruf dan mengalami keterbatasan dalam keaksaraan di Desa Gabusan dan Kepek sangat antusias serta akan turut mengikuti program pelatihan keaksaraan. Untuk program pelatihan keaksaraan di Dusun Gabusan, pertemuan pertama telah dilaksanakan dengan 7 orang peserta, di gardu ronda pada hari Kamis, 17 Desember 2009.

Untuk mengelola PBA dibutuhkan sentuhan khusus, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Sentuhan khusus tersebut, misalnya, memakai bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pembelajaran, waktu disesuaikan dengan waktu senggang warga sehingga tidak menggganggu aktivitas dalam mencari rejeki, metode disesuaikan dengan kondisi peserta, serta tempat pelaksanaan dipilih yang membuat peserta nyaman dan lokasinya dapat dijangkau.

Program PBA untuk warga berusia lanjut memang perlu dilakukan dan menjadi prioritas. Di samping struktur usia warga Jogja yang lebih banyak berusia lanjut, angka harapan hidup yang semakin naik, Daya Annisa berkomitmen untuk keberdayaan Mbah Adi dan Ibu Bartini. Mbah Adi, Ibu Bartini, dan yang lain nyata-nyata telah memaknai budaya ekonomi warga, yaitu tetap mencari nafkah dan menafkahi serta mengelola keseharian keluarga. Keberdayaan ekonomi dengan belajar membaca adalah salah satu jawaban. Dan semua yang kasat mata bisa dipelajari, asalkan kita bersungguh-sungguh berusaha.

Indah Sri Wulandari, Staf Ahli Daya Annisa

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: