Koran Ibu dan Kebermaknaan PBA

BERITA UTAMA Edisi I/Th 1
Indah Sri Wulandari*

Millenium Development Goals (MDG’s) atau tujuan pembangunan millennium: ”Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, kelestarian semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan”.

Pengantar
Keaksaraan adalah prasyarat untuk memperoleh berbagai kemampuan dasar belajar agar siapa pun dapat mencari, memperoleh, menggunakan, dan mengelola informasi untuk meningkatkan mutu hidupnya. Karena itu, keaksaraan penting dibelajarkan bagi siapapun dari berbagai kalangan dan kelompok usia. Dan membiarkan kebutaaksaraan merupakan pelanggaran HAM. Sebab, setiap orang di dunia harus memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan, sebagaimana tertuang dalam salah satu deklarasi PBB. Untuk itu, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Percepatan PBA (Pemberantasan Buta Aksara) semenjak 2004.

Banyaknya penyandang buta aksara di Indonesia memang cukup memprihatinkan. Penyandang buta aksara di Indonesia sebagian besar adalah perempuan. Dari sekitar 7,7 juta penyandang buta aksara, sebanyak 63 % adalah perempuan berusia di atas 15 tahun. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tinggal di daerah pedesaan seperti petani kecil, buruh, nelayan, dan kelompok masyarakat miskin perkotaan yaitu buruh berpenghasilan rendah atau penganggur. Penduduk dewasa (15 tahun ke atas) yang tidak dapat membaca ini berakibat aksesnya terhadap informasi dan komunikasi yang penting untuk membuka cakrawala kehidupan dunia menjadi terbatas, karena mereka tidak memiliki kemampuan keaksaraan yang memadai. Mereka kurang mempunyai harapan yang cerah karena tidak mempunyai keterampilan untuk menghadapi tantangan dan mencari penyelesaian terhadap permasalahan dalam kehidupan orang dewasa. Mereka juga tertinggal dalam hal pengetahuan, kemampuan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan.

Wartawan Koran Ibu “BANGKIT ANNISA”

Dalam PBA, perempuan perlu mendapat prioritas karena jumlah perempuan buta aksara dua kali lipat dibanding laki-laki. Selain itu, peran ibu yang penting dalam keluarga dan masyarakat menjadikan dasar pentingnya bebas buta aksara bagi ibu. Sebagai pendidik anak, seorang ibu harus pandai baik dalam menulis, membaca, dan berhitung yang akan ditularkannya kepada anak. Sebagai manajer keuangan dalam rumah tangga, ibu harus mengerti tentang uang –baik jumlah dan bentuk– maupun mengelola dan membaca pergerakan harga. Sebagai anggota masyarakat, seorang ibu dituntut dapat membaca dan tanggap situasi dalam masyarakat. Kemampuan seorang ibu dalam menyiasati kehidupan sangat dibutuhkan. Peluang dan kesempatan belajar bagi ibu sepanjang hayatnya sangat diperlukan.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Hamid Muhammad, Direktur Jendral Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, bahwa program PBA yang dilakukan pemerintah bersama organisasi masyarakat sebaiknya lebih difokuskan kepada pemberdayaan perempuan. Dalam pendidikan keaksaraan tersebut dimasukkan penguatan pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan berbasis potensi lokal. Selain itu, dilakukan pendidikan kecapakan hidup bagi perempuan marjinal, pendidikan keluarga berwawasan jender, dan pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang.

Tentang Koran Ibu
Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, PBA merupakan tanggung jawab dan tanggung gugat pemerintah. Pemerintah berupaya mengurangi jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas melalui pendidikan keaksaraan dan berbagai program pendidikan pemberdayaan perempuan. Salah satu program tersebut adalah melalui Koran Ibu.

Ibu Ambar dan Ibu Semiyati: Berburu Berita untuk Koran Ibu” BANGKIT ANNISA”

Koran Ibu tidak seperti koran pada umumnya, yang dibuat untuk dibaca. Koran Ibu bersifat sederhana, baik dalam pembuatan maupun muatan informasinya. Buat Lembaga Daya Annisa sebagai pengelola Koran ibu, kesederhanaan media ini diharapkan tidak mengurangi fungsinya sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi bagi pembacanya.
Koran Ibu yang dikelola oleh Daya Annisa diberi nama “BANGKIT ANNISA” dengan tema “Berbagi Prestasi untuk
Keberdayaan”. Makna dari nama tersebut adalah memberikan semangat bagi perempuan agar lebih berdaya untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Sebagai langkah awal, untuk proses pembuatan dan pengelolaan Koran Ibu, pada 12 Desember 2009 di Hotel Ros In Yogyakarta, diselenggarakan Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi Perempuan. Pelatihan tersebut diikuti oleh 35 peserta, yang terdiri dari tim Koran Ibu dan anggota dampingan Daya Annisa. Materinya adalah motivasi untuk menggali kemampuan diri menjadi penulis dan dasar-dasar jurnalistik.

Hasilan dari pelatihan tersebut adalah masyarakat –khususnya perempuan– mempunyai kemauan, keberanian, dan kemampuan untuk menuangkan aspirasi dan pandangannya melalui tulisan, tersedianya koran perempuan sebagai media pembelajaran, media komunikasi dan informasi, serta meningkatknya kemampuan keberaksaraan dan kualitas hidup. Kebermakanaan Koran Ibu adalah sebagai media pembelajaran lanjutan, khususnya ibu-ibu yang sudah menyelesaikan pembelajaran keaksaraan atau aksarawan baru. Sejalan dengan itu, Koran Ibu dibuat oleh dan diperuntukkan bagi masyarakat. Koran Ibu berniat untuk meningkatkan keberaksaraan, kualitas hidup, dan komunikasi aksarawan perempuan.

Indah Sri Wulandari, Staf Ahli Daya Annisa

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Koran Ibu dan Kebermaknaan PBA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: