Bertahan di Jakarta dengan Mengandalkan Jaringan Kedaerahan

Rabu, 11 November 2009 | 03:15 WIB

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/11/03154966/bertahan.di.jakarta.dengan.mengandalkan.jaringan.kedaerahan

Bagaimana pedagang kecil mampu bertahan di tengah rimba persaingan kota Jakarta yang disesaki pemodal besar? Ketika Jakarta tampak kurang memberikan tempat buat mereka, nyatanya usaha orang-orang kecil yang dirintis dari desa itu tidak mudah tersingkir. Ternyata, kunci ”pertahanan hidup” mereka adalah kemampuan membangun jaringan usaha yang tersambung dari desa ke kota.

Untuk memelihara jaringan itu, mereka memanfaatkan tali persaudaraan atau tali kekerabatan sedesa, sekecamatan, atau sekabupaten. Sentimen kedaerahan itu mampu menjaga kepercayaan di dalam jaringan. Begitulah yang dilakukan kakak beradik, Casih (40) dan Suberi (38), bersama jaringannya. Kedua perempuan asal Cirebon ini tinggal di rumah kontrakan di kawasan pintu air Pejompongan, Jakarta Pusat.

Sehari-hari, keduanya berkeliling menjajakan perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Sebagian barang itu rata-rata berbahan bambu atau kayu seperti bakul, kukusan, tampah, dan kipas sate. Sebagian lagi berbahan plastik, kawat, dan seng seperti penggorengan, serokan, sodet, parutan, sendok sayur, sendok nasi, sikat kamar mandi, dan sapu.

Sudah belasan tahun mereka berdagang keliling menyusuri jalan-jalan berdebu di Jakarta.

Setiap hari, setelah mengambil barang dagangan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, keduanya berkeliling menggendong barang dagangan seberat sekitar 25 kilogram. ”Setiap hari kami berangkat pukul 08.00. Pulang pukul 18.00,” ujar Suberi saat ditemui sedang beristirahat di amben kayu, di salah satu deretan lapak pedagang yang kosong di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Barang dagangan diambil dari seorang grosir yang tak lain adalah bibi mereka. Sang bibi mendapat barang-barang itu dari para perajin di Cirebon. Barang dikirim ke Jakarta bila jumlahnya minimal sudah satu truk. Pembayarannya dilakukan belakangan setelah barang laku.

Peran sang bibi cukup dominan. Menurut keduanya, bibinya juga yang menyewakan rumah buat mereka tinggal selama di Jakarta. ”Jadi kami tinggal menghuni dan bekerja,” tutur Suberi. Di Jakarta, lanjut Casih, mereka tinggal di rumah kontrakan berdinding tripleks.

Dari Pejompongan, mereka mengambil barang yang dipusatkan di Jatinegara. Dari situlah mereka berkeliling menjajakan barang-barang perlengkapan rumah tangga ke berbagai wilayah, seperti Cipulir, Kebon Nanas, Rawa Belong, sampai Sukabumi Ilir, Jakbar. Hasilnya, setiap hari mereka memperoleh pendapatan bersih Rp 25.000. ”Umumnya kami sanggup menjual perabotan senilai total Rp 200.000. Setelah dipotong ongkos makan dan minum, kami masih bisa membawa uang sekitar Rp 25.000,” papar Casih.

Menurut mereka, meski barang-barang plastik pengganti barang anyaman bambu membanjiri pasar pada awal tahun 2000-an, usaha mereka tidak terganggu. Sebab, pasar utama mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang masih menganggap makanan yang dimasak menggunakan perabotan bambu lebih sedap dibanding perabot berbahan plastik. Selain itu, ujar Casih, perabotan bambu lebih ramah lingkungan dibanding barang-barang produk plastik.

Sudah tertata

Pola dagang yang mengandalkan jaringan serupa juga dilakukan Sutrisno (62) dan Suratmi (45), pasangan suami-istri asal Wonogiri yang menjual jamu keliling. Dibanding jaringan Cirebon, jaringan Wonogiri memang sudah jauh lebih lama, lebih kuat, dan lebih luas. Jaringan mereka tidak hanya sebatas kerabat dan saudara, tetapi sudah tertata dalam fungsi-fungsi, seperti fungsi pemodal, pemasok, dan penjual. Jaringan produk mereka yang sudah sangat kuat menggurita di Jakarta adalah jamu tradisional, bakso, dan mi ayam.

Sutrisno menjelaskan, ada pembagian fungsi antara para petani tanaman bahan jamu di desa, para pengelola perusahaan angkutan asal Wonogiri, dan pedagang jamu di kota. Mereka masing-masing memiliki loyalitas tinggi terhadap jaringannya.

Sutrisno-Suratmi yang sudah berdagang jamu di Pasar Palmerah sejak tahun 1967 ini mengaku memperoleh 90 persen bahan mentah jamu dari desa mereka. ”Cuma gula jawa, buah asam, dan telur saja yang kami beli di Jakarta. Lainnya harus dari Wonogiri,” ucap Sutrisno.

Jaringan bisnis para pengusaha kecil Cirebon dan Wonogiri hanyalah sebagian dari jaringan bisnis pengusaha kecil dari beberapa daerah yang mengepung Jakarta. Setiap daerah memiliki tawaran produk dan jasa yang khas daerah.

Contohnya, orang Tegal dikenal dengan wartegnya, orang-orang Padang dengan restoran padangnya, orang-orang Kuningan dengan soto mi pikulan, orang-orang Madura dengan sate ayamnya.

Dengan pola usaha jaringan kedaerahan itu, warga desa yang menjadi pedagang kecil di Jakarta itu mampu membangun hidup, bahkan mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke perguruan tinggi. (WINDORO ADI).

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

6 responses to “Bertahan di Jakarta dengan Mengandalkan Jaringan Kedaerahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: