Membaca Prospek Pemulihan Ekonomi AS

Senin, 9 November 2009 | 03:18 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/09/03181388/membaca.prospek.pemulihan.ekonomi.as

Gejolak di pasar modal akhir-akhir ini membuat banyak kalangan bertanya-tanya akan kesinambungan pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Ketidakpastian ini tentu saja berdampak negatif pada pasar modal Indonesia. Apakah harus khawatir pada prospek pemulihan ekonomi AS dan ekonomi kita?

Angka pertumbuhan ekonomi AS pada triwulan III 3,5 persen, berada di atas perkiraan para analis. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa perekonomian AS mulai keluar dari resesi.

Akibatnya, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) pun naik lebih dari 2 persen pada hari data pertumbuhan ekonomi AS tersebut diumumkan.

Sebagian dari kita tentu berpikir inilah akhir tren penurunan saham di AS. Ke depan, saham di sana pasti terus memasuki tren kenaikan yang berkesinambungan.

Namun, pada Jumat (30/10) pasar modal AS justru mengalami koreksi tajam. Pada hari itu DJIA turun 2,51 persen.

Arah ekonomi AS

Ada banyak alasan yang sering dikemukakan para analis untuk menjelaskan kejatuhan kembali pasar saham AS pada 30 Oktober itu. Alasan tersebut antara lain keadaan sektor perbankan dianggap masih mengkhawatirkan.

Di samping itu, angka pengangguran masih tinggi, membuat sulit mengharapkan belanja rumah tangga akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Alasan lain, pertumbuhan positif yang terjadi pada triwulan III lalu adalah karena banyaknya stimulus dari pemerintah maupun dari bank sentral di sana.

Pendeknya, pemulihan yang sedang terjadi dalam perekonomian AS saat ini dianggap tidak berkesinambungan. Ekonomi AS akan segera terpuruk lagi.

Pendapat di atas tampak dapat meyakinkan pemain pasar, paling tidak pada Jumat (30/10). Namun, kita juga harus waspada karena pendapat yang diterima pasar dapat juga berubah dalam waktu yang tidak lama.

Menentukan arah perekonomian AS dari pergerakan harga saham maupun dari komentar analis sering membuat kita bingung.

Adakah alat untuk melihat arah perekonomian AS dengan lebih jernih? Salah satu perkakas yang dapat digunakan melihat arah perekonomian AS adalah coincident economic index (CEI) dan leading economic index (LEI).

CEI adalah indeks yang menunjukkan keadaan ekonomi pada suatu saat. CEI (versi Conference Board) disusun dengan menggunakan informasi tenaga kerja di sektor nonpertanian, pendapatan pribadi, produksi industri, serta penjualan sektor manufaktur dan perdagangan.

CEI yang naik menggambarkan aktivitas perekonomian yang sedang meningkat. CEI yang turun menggambarkan aktivitas perekonomian yang sebaliknya.

Adapun LEI adalah indeks yang menunjukkan prospek keadaan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. LEI disusun dengan menggunakan informasi upah di sektor manufaktur, klaim terhadap asuransi pengangguran, order baru di sektor manufaktur, pengiriman supplier, izin mendirikan bangunan, harga saham, suplai uang (M2), selisih suku bunga, dan indeks ekspektasi konsumen.

LEI yang turun menggambarkan prospek perekonomian yang memburuk. LEI yang naik menggambarkan prospek perekonomian yang membaik.

LEI mengalami penurunan sejak Agustus 2007 dan terus menurun tajam pada bulan-bulan berikutnya. Tren penurunan ini mengindikasikan prospek perburukan ekonomi AS. Prediksi perburukan ini mulai terealisasikan sejak Februari 2008, seperti yang ditunjuk-kan oleh jatuhnya CEI yang tajam sejak bulan tersebut.

Pada bulan-bulan berikutnya CEI mengalami penurunan amat tajam, yang menggambarkan semakin terpuruknya perekonomian AS ke dalam resesi.

Akan tetapi, LEI sudah mencapai titik terendah pada Maret 2009. Sejak itu, LEI mengalami kenaikan terus-menerus.

Sampai September 2009, LEI sudah naik enam kali berturut-turut. Kenaikan ini menggambarkan prospek ekonomi AS yang akan semakin membaik. Memang saat ini CEI belum meningkat tajam. Namun, melihat perilaku CEI (yang bergerak mendahului LEI) yang naik tajam, kenaikan CEI yang tajam tinggal soal waktu.

Artinya, ada indikasi proses pemulihan perekonomian AS akan lebih kuat dari yang dibayangkan sebagian ekonom.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, siklus bisnis perekonomian AS biasanya dapat berlangsung selama 10 tahun. Artinya, biasanya ekonomi AS mengalami ekspansi selama 10 tahun sebelum memasuki fase resesi lagi.

Salah satu fase ekspansi terpendek terjadi pada periode 2001 (akhir)-2007 (akhir) atau ekspansi selama sekitar enam tahun. Jadi, bila ekonomi AS memasuki fase ekspansi lagi, kita dapat mengharapkan ekspansinya akan terjadi selama enam tahun (terpendek) atau 10 tahun (terpanjang) ke depan.

Stimulus fiskal

Salah satu faktor yang memulihkan perekonomian AS saat ini adalah besarnya stimulus fiskal dan moneter yang diberikan oleh pemerintah dan bank sentral AS. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan uang (M0 maupun M1) yang positif.

Tampaknya, otoritas moneter AS tak mau mengulangi kesalahan tahun 1930-an. Salah satu faktor utama yang sering disalahkan membuat ekonomi AS terpuruk dalam dan terlalu lama pada krisis tahun 1930-an adalah kegagalan bank sentral AS menciptakan laju pertumbuhan uang yang positif.

Saat ini laju pertumbuhan uang M0 di AS lebih dari 100 persen, sedangkan laju pertumbuhan uang M1 berada pada kisaran 18 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding keadaan tahun 2001, ketika AS terpuruk ke dalam masa resesi, di mana laju pertumbuhan tertinggi M1 hanya pada kisaran 8 persen. Artinya, kini sudah cukup banyak uang yang dipompa ke sistem finansialnya untuk memicu pertumbuhan ekonominya.

Memang ada pandangan bahwa stimulus yang berlebihan akan menimbulkan kerentanan pada perekonomian AS. Namun, sering dilupakan bahwa proses pemulihan sulit dapat terjadi tanpa stimulus yang cukup.

Laju pertumbuhan uang yang positif memberikan harapan perekonomian AS tidak terpuruk sedalam dan selama krisis era 1930-an. Keberhasilan langkah kebijakan ini terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi AS yang mulai positif lagi pada triwulan III-2009.

Keraguan akan kesinambungan pemulihan ekonomi di AS wajar timbul, mengingat ketika suatu perekonomian baru keluar dari masa resesi tidak otomatis semua sektor kinerjanya langsung menjadi baik. Perbaikan yang terjadi di perekonomian akan perlahan-lahan menyebar ke semua sektor.

Lonjakan penciptaan lapangan kerja tidak serta-merta terjadi dengan tajam di semua sektor secara bersamaan. Namun, bila keadaan perekonomian secara keseluruhan terus membaik, para pengusaha akan yakin pemulihan yang terjadi berkesinambungan. Dengan demikian, mereka mulai memperluas kapasitas produksinya, termasuk merekrut tenaga kerja baru.

Ekonomi Indonesia

Indonesia sendiri akan diuntungkan dengan perbaikan yang terjadi pada perekonomian AS. Biasanya perekonomian Indonesia dapat tumbuh dengan baik ketika ekonomi AS berekspansi. Data historis menunjukkan, siklus bisnis perekonomian Indonesia rata-rata berlangsung sepanjang tujuh tahun.

Artinya, ekonomi Indonesia mengalami ekspansi selama tujuh tahun sebelum jatuh ke masa resesi, yang biasanya berlangsung selama satu tahun.

Perhitungan posisi siklus bisnis yang dilakukan oleh Danareksa Research Institute menunjukkan, perekonomian kita memasuki fase ekspansi lagi sejak Maret 2009. Artinya, jika perilaku pelaku ekonomi kita tidak berubah, ada peluang cukup besar bagi ekonomi kita untuk terus berekspansi sampai tujuh tahun ke depan. Ekonomi kita akan terus berekspansi sampai 2016.

Diskusi di atas menunjukkan, proses pemulihan perekonomian AS tampaknya berkesinambungan. Prospek ekonomi Indonesia pun akan cerah dalam beberapa tahun mendatang. Dengan prospek ekonomi yang demikian, gejolak jangka pendek yang kini terjadi pada pasar saham global dan pasar saham kita tidak seharusnya membuat investor domestik ketakutan berlebihan.

Purbaya Yudhi Sadewa Chief Economist Danareksa Research Institute

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: