BI Mengubah Filosofi API: Modal Minimum Bank Tidak Lagi Menjadi Isu

Jumat, 16 Oktober 2009 | 03:28 WIB

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/16/0328232/bi.mengubah.filosofi.api

Jakarta, Kompas – Bank Indonesia mengubah filosofi Arsitektur Perbankan Indonesia. Perubahan itu terjadi karena tantangan perbankan yang berubah dan pengalaman saat krisis keuangan global. Perubahan filosofi tersebut akan menyebabkan revisi API secara mendasar.

API, yang diluncurkan pada tahun 2004, merupakan visi dan peta jalan pengembangan perbankan nasional ke depan. API menjadi acuan BI dalam mengeluarkan kebijakan dan mengarahkan perkembangan perbankan nasional.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad di Jakarta, Kamis (15/10), mengatakan, BI saat ini sedang menyusun revisi API, yang akan diumumkan pada awal 2010.

Menurut dia, API yang diluncurkan tahun 2004 didasari atas sejumlah dasar pemikiran. Pertama, API dibangun atas dasar penataan struktur perbankan yang belum jelas.

Kedua, API lebih menekankan peningkatan fungsi intermediasi perbankan Indonesia. Ketiga, fokus pada konsolidasi perbankan melalui pemenuhan modal inti minimum.

Dasar pemikiran tersebut muncul karena intermediasi perbankan saat itu masih sangat rendah, tecermin dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) di bawah 50 persen.

Selain itu, jumlah bank yang saat itu sebanyak 133 juga dinilai terlampau banyak dan didominasi oleh bank-bank kecil dengan pangsa pasar yang sangat tidak signifikan.

BI menginginkan bank-bank kecil tersebut bergabung satu sama lain guna membentuk bank yang lebih besar dengan harapan bisa bersaing dengan bank-bank yang telah mapan.

Dasar-dasar pemikiran itu lalu menjadi fondasi semua kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan BI. Untuk mendorong merger, misalnya, BI menetapkan modal minimum sebesar Rp 100 miliar.

Namun, setelah lima tahun, dasar-dasar pemikiran itu dinilai sudah tidak relevan lagi. Fungsi intermediasi, misalnya, tidak lagi menjadi persoalan perbankan mengingat dana pihak ketiga sudah mencapai 75 persen.

Pengalaman krisis global 2008 juga mengajarkan bahwa kuat-lemahnya bank ternyata bukan ditentukan oleh besar-kecilnya modal.

Stabilitas sistem keuangan

Oleh karena itu, filosofi API ke depan akan diubah. Pertama, API akan dibangun atas dasar penguatan stabilitas sistem keuangan, bukan penataan struktur.

Kedua, API ke depan lebih menekankan aspek likuiditas ketimbang intermediasi meskipun intermediasi tetap menjadi perhatian.

Ketiga, fokus pada ketahanan kelembagaan dan penguatan daya saing, antara lain melalui peningkatan efisiensi.

Salah satu turunan dari filosofi tersebut adalah ke depan BI tidak lagi mempermasalahkan besarnya nominal modal sepanjang bank bersangkutan mampu menutup semua risiko.

Terkait hal itu, konsolidasi melalui akuisisi dan merger akan diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. BI hanya akan mengingatkan bahwa untuk tumbuh dan memenangi persaingan, bank pada dasarnya tetap membutuhkan penambahan modal.

Wakil Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta Lisawati menyambut positif jika BI tidak lagi mengutak-atik besarnya modal nominal.

”Meskipun bermodal kecil, kami optimistis tetap bisa hidup dan berkembang karena kami memiliki segmentasi pasar sendiri,” katanya. (FAJ)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: