EKONOMI GLOBAL: Pemulihan Ekonomi Global, Seberapa Solid?

Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:07 WIB

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/03072047/pemulihan.ekonomi.global.seberapa.solid

Seperti genderang bersahutan, sejumlah lembaga dan ekonom terkemuka dunia beberapa bulan terakhir ini bergantian mengungkapkan paparan dan prediksinya mengenai mulai pulihnya perekonomian global dan berakhirnya resesi ekonomi dunia. Seberapa kuat dan berkesinambungan pemulihan ini dan bagaimana dampaknya pada Indonesia?

Setelah terjerembap ke titik terendah sejak Depresi Besar 1930 pada triwulan I-2009, sejumlah indikator makroekonomi dan finansial secara mengejutkan menunjukkan tanda-tanda kuat pemulihan pada triwulan berikutnya. Ini yang membuat sejumlah ekonom mengungkapkan keyakinan, perekonomian global bakal pulih cepat, seperti pola huruf V.

Langkah penyelamatan dan intervensi masif oleh pemerintahan dan bank sentral sejumlah negara di dunia memang membuat ekonomi global terhindar dari ancaman terulangnya Depresi Besar 1930, sebagaimana dikhawatirkan sebelumnya oleh para ekonom dunia.

Klaim pemulihan ditandai oleh adanya perbaikan pada sejumlah indikator finansial, menurunnya spread suku bunga surat utang dan obligasi korporasi dari negara berkembang, menguat (rebound)-nya sekuritas, harga komoditas, dan nilai tukar mata uang sejumlah emerging markets pada medio 2009.

Bank-bank dan lembaga-lembaga finansial di negara-negara maju yang sebelumnya dalam kesulitan besar, menyusul ambruknya Lehman Brothers pada September 2008, kini dilaporkan kembali likuid dan sebagian dari mereka bahkan mampu menambah modal.

Indikasi lain stabilisasi finansial terlihat dari menguatnya indeks-indeks saham utama dunia. Indeks S&P 500 menguat 57 persen dari titik terendah 9 Maret 2009 dan terus bertahan di atas 1.000 beberapa bulan terakhir. Demikian pula indeks rata-rata saham industri Dow Jones yang bertahan di atas level 9.000. Indeks MSCI EAFE dan MSCI EMF untuk saham emerging markets menguat 30 dan 42 persen selama kurun Maret-Juni 2009 saja.

Ketakutan bahwa sistem pembayaran bakal rontok juga teredam. Spread utang korporasi menyempit, demikian pula spread pasar antarbank yang juga menurun ke level mendekati sebelum ambruknya Lehman Brothers, September 2008.

Investor tak lagi hanya berani menaruh uang di surat utang pemerintah. Pulihnya keberanian mengambil risiko (risk appetite) ini ikut menyumbang pada melemahnya dollar AS dan menguatnya mata uang emerging markets.

Data resmi lembaga seperti OECD, IMF, Bank Dunia, ADB, dan UNCTAD sendiri menunjukkan perekonomian  negara-negara maju (di luar AS dan Inggris) sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi atau setidaknya perlambatan kontraksi.

Mulai ekspansi

IMF dalam World Economic Outlook 2009 yang diluncurkan 1 Oktober 2009 menyatakan, resesi global telah berakhir dan perekonomian global mulai mengalami ekspansi kembali secara signifikan, dimotori oleh kinerja kuat perekonomian emerging markets Asia dan stabilisasi atau pemulihan dalam skala sedang di negara-negara lain.

AS sebagai pusat pusaran krisis juga menunjukkan tanda stabilisasi, tecermin dari penurunan output triwulan II-2009 yang hanya 1 persen, menyusul penurunan 6,4 persen triwulan sebelumnya.

Perekonomian AS yang diperkirakan mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 2,75 persen pada 2009 diperkirakan mulai mencatat pertumbuhan positif pada paruh kedua 2009. Tahun 2010 AS diperkirakan tumbuh 1,5 persen, kendati angka pengangguran diperkirakan masih akan melonjak mencapai di atas 10 persen pada semester II-2010.

Defisit fiskal diperkirakan juga membengkak 10 persen dari PDB pada 2009/2010 dan 2010/2011 dengan utang pemerintah diperkirakan menggelembung mendekati 110 persen dari PDB pada 2014.

Asia menunjukkan penguatan paling solid dengan potensi pemulihan berkesinambungan lebih kuat. Pasar saham di ASEAN-4 (Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina) mengalami kenaikan 65 persen pada delapan bulan pertama 2009, negara-negara industri baru (NIES) 52 persen, dan Jepang 28 persen.

Semua mata uang Asia mengalami penguatan meski masih di bawah level sebelum krisis. Ini dibarengi dengan menurunnya spread obligasi korporasi lebih dari 250 basis poin sejak Januari yang berarti meringankan kendala pembiayaan sektor korporasi dan rumah tangga.

Dua perekonomian terbesar Asia, China dan India, diperkirakan tumbuh 8,5 persen dan 5,4 persen tahun ini dan tahun depan sudah pulih kembali ke level sebelum krisis, yaitu 9 dan 6,4 persen. Indonesia diprediksikan tumbuh 4 persen tahun ini dan 4,8 persen tahun depan.

Secara kelompok, negara maju akan tumbuh 1,25 persen pada 2010, menyusul kontraksi 3,5 persen pada 2009. Emerging markets 5 persen 2010, dari tahun ini 1,75 persen. Adapun ASEAN-5 (ASEAN 4 plus Vietnam) 0,7 persen 2009 dan 4 persen 2010, NIES dari minus 2,4 persen menjadi 3,6 persen. Jepang dari minus 5,4 persen menjadi 1,7 persen. Zona Euro dan Inggris diperkirakan keluar dari resesi paruh kedua 2009 dengan pertumbuhan 2010 diperkirakan 0,3 persen, menyusul kontraksi 4,2 persen 2009.

Secara keseluruhan, ekonomi global diperkirakan tumbuh 3,1 persen pada 2010 menyusul kontraksi 1,1 persen tahun ini. Baru pada 2010-2014 perekonomian global tumbuh di atas 4 persen atau di bawah level sebelum krisis yang 5 persen.

Risiko terkoreksi

Meski fase penurunan ekonomi yang dramatis dinilai telah berlalu dan ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda ekspansi, IMF memperingatkan pemulihan akan berjalan lambat beberapa tahun ke depan dan tak cukup kuat untuk menciptakan lapangan kerja (jobless growth).

Selain itu, perekonomian juga masih akan rentan terhadap kemungkinan berbagai kejutan (shock), mulai dari lonjakan harga minyak, merebaknya virus flu H1N1, problem geopolitik, hingga meningkatnya kembali proteksionisme.

Bahkan, sejumlah ekonom mengatakan, tidak menutup kemungkinan bakal terjadinya pembalikan di mana perekonomian global kembali terjerumus ke dalam resesi (downside risk) atau ancaman deflasi.

Salah satu risiko jangka pendek yang mengancam terhentinya proses pemulihan yang didorong oleh intervensi pemerintah dan bank sentral (policy-induced rebound) ini antara lain adalah penghentian (exit strategy) yang prematur dari kebijakan moneter dan fiskal kontrasiklis sekarang ini.

Seberapa kuat dan berkesinambungannya pemulihan, menurut IMF, bergantung pada tiga hal. Pertama, berlanjutnya stabilitas ekonomi dan sistem finansial. Kedua, timing dan seberapa mulus exit strategy yang ditempuh pemerintah dan bank-bank sentral dari kebijakan bailout serta stimulus fiskal yang ditempuh sekarang ini.

Selain itu, juga bergantung pada sejauh mana upaya mengatasi ketidakseimbangan (imbalances) jangka panjang, baik di sektor publik, rumah tangga, maupun finansial. Pemulihan hanya akan berkesinambungan jika ada jaminan pada investor dan pembayar pajak bahwa defisit fiskal AS yang mencapai 10 persen dari PDB sekarang ini dan utang yang mencapai 110 persen dari PDB pada 2014 akan bisa diatasi.

Langkah-langkah yang ditempuh juga belum sepenuhnya mengatasi tekanan di sektor finansial. Sekarang ini problem kredit macet sektor perumahan, sebagai sumber awal krisis finansial, nyaris belum tersentuh.

Rumah tangga dan korporasi juga masih dihadapkan pada kondisi sulit karena masih stagnan atau bahkan menciutnya kredit perbankan ke sektor swasta. Pasar kredit dan sekuritisasi masih lumpuh.

Laba sektor riil terus bertumbangan. Oversuplai di sektor real estat dan meningkatnya angka pengangguran akan tetap menjadi kendala bagi ekspansi konsumsi swasta dan investasi untuk beberapa waktu ke depan.

Dengan masih lemahnya fundamental makroekonomi, menguatnya indikator-indikator finansial pada paruh pertama 2009 oleh Konfederasi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) dilihat hanya sinyal temporer pemulihan setelah indeks jatuh ke level yang begitu rendah.

”Itu bukan cerminan menguatnya fundamental makroekonomi, tetapi pulihnya risk appetite di kalangan pelaku finansial. Sebagai konsekuensinya, tren tersebut bisa berbalik cepat, bergantung pada seberapa cepat pemulihan dan sentimen pasar finansial,” demikian diingatkan.

Peringatan lebih keras dilontarkan ekonom Nouriel Roubini dari New York University yang mengatakan untuk tidak berharap pada pemulihan ekonomi mengikuti huruf V.

Dikutip Bloomberg, ia menilai kenaikan saham sekarang ini sudah berlebihan, terlalu cepat dan terlalu tinggi, sehingga ada kemungkinan terjadi koreksi tajam yang memunculkan guncangan besar di pasar saham global. Kenaikan indeks saham ini, menurut dia, tak sejalan dengan kondisi ekonomi riil yang sama sekali belum membaik.

Pernyataan senada diungkapkan sejumlah ekonom terkemuka dunia lain, mulai dari Jeffrey Sachs, Paul Krugman,  Joseph Stiglitz, hingga Amartya Sen. Krugman adalah salah satu ekonom yang belum yakin tanda-tanda pemulihan di AS seperti terlihat sekarang ini bisa terus berlanjut.

Ia memperkirakan yang akan terjadi adalah muddle along, dengan kerusakan yang diakibatkan oleh resesi AS masih akan lama bertahan. Salah satunya, angka pengangguran masih akan tinggi, bahkan masih mungkin terus memburuk.

”Saya benar-benar melihat kemungkinan terjadinya versi global dari situasi dekade hilang seperti terjadi di Jepang tanpa adanya prospek pemulihan yang didorong oleh ekspor,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank for International Settlements (BIS) dalam laporan tahunan 2008-2009 yang terbit Juni 2009 juga mengingatkan kemungkinan paket stimulus masif global yang diluncurkan tahun lalu tidak akan bermuara pada pertumbuhan berkelanjutan.

Triliunan dollar AS yang digelontorkan hanya akan menuntun pada kenaikan pertumbuhan yang sifatnya temporer, untuk kemudian diikuti dengan stagnasi berkepanjangan (protracted stagnation).

Salah satu yang belum jelas sekarang ini adalah seperti apa kebijakan exit strategy yang akan ditempuh oleh pemerintah dan bank-bank sentral negara-negara maju.

Intervensi dan nasionalisasi lembaga finansial yang kolaps secara de facto oleh bank sentral menyebabkan neraca bank sentral didominasi toxic assets atau aset-aset berisiko tinggi yang diambil alih dari sektor finansial.

Pada saatnya, ini harus dibuang. Yang menjadi persoalan sekarang ini seberapa jauh pasar mampu menyerap. Pemerintah dan bank sentral dihadapkan pada dilema. Ekses likuiditas yang diakibatkan oleh program bailout dan stimulus fiskal skala masif serta kebijakan suku bunga rendah mengundang bahaya inflasi pada perekonomian.

Belum lagi bicara bagaimana AS dan negara-negara maju lain harus keluar dari kubangan dan menumpuknya utang serta defisit yang jadi ancaman baru yang tak kalah menakutkan bagi perekonomian global. Sebaliknya, pengetatan likuiditas terlalu cepat bisa menuntun pada deflasi dan ancaman kembali ke resesi. (sri hartati samhadi)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: