ARISAN BAHAN POKOK: Siasat Buruh Menjelang Lebaran

Kamis, 17 September 2009 | 04:10 WIB
Kris R Mada dan Cyprianus Anto SaptoWalyono

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/04105935/siasat..buruh.menjelang.lebaran

Kalau mengandalkan gaji bulanan, separuh pendapatan Suhartin tersapu untuk membeli bahan kue, sirup, dan kue jadi menjelang hari raya. Beruntung buruh salah satu pabrik makanan di Surabaya itu ikut arisan kue dan bahan pokok.

Biaya untuk membeli bahan kebutuhan pokok dan kue untuk Lebaran itu bisa dicicil lebih dari 10 bulan. Setiap peserta arisan akan mendapat bahan pokok, kue, dan bahan kue senilai Rp 480.000 atau sekitar separuh gaji pokoknya. Paket itu diterima seminggu menjelang Lebaran. ”Setiap minggu saya bayar Rp 10.000. Mulai bayar sekitar sebulan habis Lebaran sampai bulan puasa tahun depannya,” ujarnya, beberapa waktu lalu di Surabaya, Jawa Timur.

Cicilan itu lebih ringan daripada harus menyediakan dana dalam satu kesempatan. Gaji pokoknya hanya Rp 947.000 per bulan ditambah tunjangan transportasi Rp 7.000 per hari kali 22 hari kerja. Total penghasilannya rata-rata Rp 1.101.000 per bulan di luar upah lembur yang jumlahnya tidak pasti.

Dengan ikut arisan, Suhartin dan sekitar 600 buruh perempuan lain di Rungkut, Surabaya; dan Sidoarjo, Jawa Timur, tak lagi pusing soal sebagian kebutuhan Lebaran. Namun, ikut arisan itu tidak mudah. ”Harus dapat sponsor dari orang yang sudah ikut dulu. Kalau enggak ada yang dikenal di kelompok arisan, enggak boleh ikut,” ujarnya.

Salah seorang koordinator arisan, Maryati, mengatakan, setiap peserta harus dijamin peserta lain. Ia tidak ingin ada orang tidak jelas yang bisa membebani kelompok. ”Kalau dia tidak lancar bayarnya, yang ngajak, kan, malu dan bisa ikut nagih,” ujarnya.

Karena itu, ia hanya menerima pendaftaran berkelompok. Tagihan bisa lewat ketua kelompok. Nanti ketua kelompok menagih kepada para peserta di kelompoknya. ”Saat membagi bahan pokok juga begitu, tinggal ketua kelompok ambil ke sini. Kalau ke sini semua, saya pusing,” ujar Maryati.

Ia sudah cukup pusing menyusun paket bahan pokok. Maklum, ia harus menyediakan paket bahan kue dan bahan pokok untuk lebih dari 600 buruh peserta arisan. Isi paket harus disepakati oleh koordinator dan perwakilan peserta.

Untuk paket itu, Maryati bisa membeli ratusan kilogram untuk setiap jenis bahan atau kue jadi. Biasanya ia menyediakan 20 jenis kue atau makanan kecil.

Untung ia punya langganan pedagang kue. Karena mengambil banyak dan sudah langganan, Maryati bisa mendapat harga lebih miring. Sering ia membeli dengan harga Rp 2.000 per kilogram lebih murah dibandingkan dengan harga pasar eceran.

Selain dana pembelian, Maryati juga menyiapkan bonus untuk pencari peserta. Untuk bonus, rata-rata dialokasikan hingga Rp 20 juta. Total kebutuhan dana untuk sekali putaran arisan bisa mencapai Rp 250 juta.

Arisan pedagang

Arisan hampir serupa dilakukan pedagang pasar di Pasar Besar Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Haji Syarifuddin, pedagang bahan pokok di sana, akhir pekan lalu, dengan antusias menunjukkan tumpukan kardus berisi sirup aneka rasa, gula pasir, tepung terigu, minyak goreng, biskuit, dan juga beras dalam karung. Sebagian barang yang banyak dibutuhkan saat Ramadhan dan Lebaran itu miliknya, sebagian lain kepunyaan saudaranya.

”Kami tak lagi bingung mencari barang yang dibutuhkan saat Ramadhan dan Lebaran karena sudah ikut arisan,” kata Syarifuddin ketika ditemui di kiosnya, Selasa pekan lalu. Kelompok arisan yang ia ikuti sudah berjalan aktif selama enam tahun terakhir dengan jumlah anggota sekitar 70 orang.

Arisan seperti disebut Syarifuddin bukan seperti yang lazim dikenal dengan cara mengundi untuk menentukan siapa yang mendapat giliran memperoleh barang. Namun, arisan yang banyak diikuti pedagang di Pasar Besar dan Pasar Kahayan ini justru lebih tepat disebut sebagai kegiatan menabung bersama. Sedikit demi sedikit—ada yang Rp 3.000 per orang per hari, ada yang Rp 5.000—selama sekitar 10 bulan sebelum Ramadhan.

Seminggu sebelum Ramadhan, para penabung di kelompok arisan yang dikelola istri Haji Supian ini dapat ”mencairkan” tabungannya dalam wujud uang atau dalam bentuk paket barang kebutuhan pokok.

”Pengalaman yang sudah-sudah, kalau tidak disiplin menabung dikit-dikit seperti ini sulit mengumpulkan uang untuk membeli kebutuhan selama Ramadhan dan Lebaran,” kata Syarifuddin.

Dengan menabung bersama, para peserta—kebanyakan mencari nafkah di kios ikan hasil tangkapan di sungai dan rawa atau budidaya keramba—setiap menjelang Ramadhan mengambil tabungan senilai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: