Tenggelamnya “Indonesia Incorporated”

Minggu, 6 September 2009 | 03:35 WIB
Simon Saragih

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/06/03351611/tenggelamnya.indonesia.incorporated

Kritik sering membuat pemerintah menjadi berang. Kita jadi bertanya, apakah kritik itu tidak disukai karena memang tidak tepat. Atau apakah hal itu menunjukkan ”telinga tipis”? Jika Indonesia ingin memaksimalkan potensi, jelas kritik harus dianggap sebagai pendorong atau katakanlah penghardik, dan bukan untuk ditakuti.

Demikian juga soal perdagangan internasional, terlalu banyak hal yang diajukan, atau katakanlah kritik. Dalam perundingan internasional, soal liberalisasi, soal tuntutan agar akses pasar di negara maju dibuka, Indonesia tidak ketinggalan.

Bersama Menteri Perdagangan India Anand Sharma dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim, Menteri Perdagangan RI Mari Pangestu tergolong sebagai kampiun pembela kepentingan negara berkembang. Sebagai Ketua G-33, kumpulan negara-negara berkembang yang mendobrak ketidakadilan perdagangan internasional, Mari Pangestu telah memiliki nama tersendiri. Apakah kemampuan perundingan di tingkat internasional memadai?

Di dalam kiprah perdagangan dunia, Indonesia tergolong lumayan, dengan berada di posisi ke-31 sebagai eksportir dunia dengan nilai ekspor 138,8 miliar dollar AS pada 2008. Ini adalah data berdasarkan catatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Namun, jika komposisi ekspor Indonesia dibedah, dengan mudah bisa disimpulkan bahwa Indonesia pada umumnya mengandalkan endowment factor. Indonesia lebih mengandalkan faktor kekayaan alam, seperti minyak dan gas. Di sektor pertanian, Indonesia lebih mengandalkan kesuburan lahan, seperti perkebunan sawit.

Adakah ekspor lain yang bernilai tambah tinggi? Jelas banyak jenisnya, seperti elektronik, tekstil, komponen komputer, dan mebel. Namun, porsinya tidak banyak dan tidak terlalu menonjol.

Mengapa ini terjadi?

Indonesia pernah gencar mengampanyekan Indonesia Incorporated. Ini meniru Japan Incorporated yang mengharumkan nama dan produk-produk Jepang di dunia. Kombinasi antara pembinaan pengusaha skala menengah dan kecil, pendanaan perbankan, pengadaan prasarana pelabuhan, jalan raya, kawasan industri, pelatihan, riset, dan pengembangan, serta trading house membuat Jepang merajai pasar di mana-mana.

Malaysia pun meniru keberhasilan ini, dan kini membuat Malaysia berada di urutan ke-20 sebagai eksportir terbesar dunia, dengan nilai ekspor 195,7 miliar dollar AS, juga pada 2008 berdasarkan data WTO. Ini sebuah prestasi Malaysia, yang sebagian murid-muridnya pernah dididik para guru asal Indonesia, terus melambung dari sisi perdagangan dunia.

Keberadaan infrastruktur jalan, pelabuhan kaliber internasional, pengembangan sektor pertanian, yang tidak saja di sektor hulu tetapi juga sektor hilir, membuat Malaysia menjadi sebuah negara industri baru berbasis pertanian. Ini melengkapi kebijakan industrialisasi dan jasa-jasa yang juga mengalami kemajuan di Malaysia.

Adakah Indonesia sudah melakukan itu? Apakah ada kesadaran dan implementasi dari Indonesia Incorporated yang dicanangkan dekade 1990-an itu?

Kita harus meragukan ini. Jangankan mengekspor, untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik saja, Indonesia harus sering bergantung pada impor pangan.

Sangat disayangkan, keberadaan jumlah penduduk dan keberadaan kekayaan alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa ada sentuhan kebijakan yang memadai, agar Indonesia memiliki produk unggulan, yang bahkan bisa diekspor dalam jumlah signifikan.

Dengan ekspor, akan banyak tercipta kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, packaging, armada, jasa keuangan, jasa asuransi, dan berbagai efek lain yang ditimbulkan kegiatan ekspor.

Dengan ekspor, Hongkong, Singapura, Taiwan, dan kini China, semakin merajai pasar ekspor dunia. Warga punya harga diri dengan kebangkitan ekonomi, dan salah satunya akibat keunggulan produk-produk untuk diekspor.

Siapa yang harus melakukan kebijakan yang menata industri sehingga Indonesia bisa mencapai prestasi seperti itu? Berbagai pengalaman di dunia menunjukkan, peran pemerintah sebagai fasilitator amat dibutuhkan dalam hal ini. Peranan pemerintah seperti inilah yang lenyap dan membuat Indonesia Incorporated menjadi tenggelam.

Menurut Mari Pangestu, sebenarnya ada banyak potensi yang bisa diraih dalam ekspor. Beberapa produk Indonesia sudah memasuki pasar.

Wakil Perwakilan Tetap RI di WTO Erwidodo mengatakan, produk-produk Indonesia telah memasuki pasar nontradisional. Dari tahun ke tahun, ekspor Indonesia terus meningkat.

Namun, jika dibandingkan dengan kesempatan dan potensi Indonesia, hal ini tetap tidak seberapa. Terbukti, jutaan warga Indonesia terpaksa eksodus ke luar negeri untuk mencari pekerjaan. Negaranya tidak mampu memberi lapangan kerja sehingga banyak yang rela pergi ke luar negeri dengan segala derita yang sudah sering menghiasi media massa.

Dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, ekspor senilai 138 miliar tidak begitu signifikan menampung kesempatan kerja.

Di sinilah peran pemerintahan Indonesia, dengan susunan kabinet baru, harus menjadikan potensi ekspor sebagai salah satu prioritas dalam bekerja.

Keandalan para diplomat perdagangan RI, khususnya di WTO, harus dilengkapi dengan keandalan para penyusun kebijakan di sektor pertanian, keuangan, dan perindustrian. Adalah saatnya meninggalkan pola lama, yaitu para anggota kabinet disusun berdasarkan bagi-bagi jatah untuk partai, dengan mengabaikan kepentingan Indonesia di dalam percaturan ekspor.

Jajaran kabinet baru sebaiknya meninggalkan pola penempatan orang-orang, yang pada akhirnya hanya akan berperan sebagai ”para pencari rente ekonomi untuk keuntungan ekonomi bagi diri sendiri dan kelompoknya”.

Perdagangan adalah salah satu cara untuk menjual produk-produk, yang menciptakan lapangan kerja, yang dampaknya akan luar biasa. Ini adalah salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan, yang melilit lebih dari 100 juta warga Indonesia.

Apakah nasib mereka yang miskin menjadi lenyap dan tak menjadi perhatian dengan keberadaan gedung-gedung pencakar di Jakarta? Apakah kemilau Jakarta membuat kita lalai bahwa di luar Jakarta ada banyak warga yang memerlukan pemerintah kuat? Apakah kemilau Jakarta membuat kita tidak lagi memerlukan Indonesia Incorporated? Hanya waktu yang akan membuktikan, apakah Indonesia Incorporated tetap tenggelam.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: