Harga Gula Tidak Wajar; Pedagang Lakukan Aksi Spekulasi

Rabu, 26 Agustus 2009 | 04:27 WIB

kompas_white

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/04270691/harga.gula.tidak.wajar

Jakarta, Kompas – Petani tebu serta pengusaha makanan dan minuman meminta pemerintah bijaksana menerapkan instrumen bea masuk gula impor. Dalam situasi harga gula dalam negeri yang terus naik, langkah penurunan bea masuk gula impor dinilai akan efektif menurunkan harga gula.

Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Kerja Sama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi Lukman dan Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil secara terpisah di Jakarta, Selasa (25/8).

Adhi mengatakan, instrumen bea masuk (BM) hendaknya benar-benar dimanfaatkan sebagai katup stabilisasi harga gula.

Dengan demikian, harga gula yang terbentuk dapat tetap memberikan insentif bagi petani dan produsen gula untuk berproduksi.

Di sisi lain, BM tidak memberatkan konsumen maupun industri pengguna. ”Ketika harga gula di luar negeri tinggi, BM segera diturunkan, bila kembali rendah, dinaikkan,” kata Adhi.

Harga jual gula rafinasi produksi dalam negeri saat ini masih belum ideal. Dengan harga gula rafinasi impor 615 dollar AS per ton, harga jual gula rafinasi dari industri gula rafinasi idealnya Rp 7.800 per kilogram.

Namun, saat ini industri makanan dan minuman membeli gula dari mereka Rp 8.300-Rp 8.500 per kg. Harga itu sudah termasuk BM gula rafinasi Rp 790 per kg dan gula mentah Rp 550 per kg.

Menurut Arum, harga gula di dalam negeri masih bisa diturunkan. Naiknya harga gula yang terus berlangsung diperkirakan karena terkatrol kenaikan harga gula rafinasi dalam negeri.

”Karena harga gula rafinasi dalam negeri terus naik, harga gula kristal putih juga ikut terkerek,” kata Arum.

Harga lelang gula kristal putih saat ini Rp 8.300 per kg. Adapun harga di tingkat konsumen mendekati Rp 10.000 per kg.

Stok mencukupi

Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman mengungkapkan, stok gula dalam negeri cukup.

Berdasarkan data Asosiasi Gula Rafinasi, produksi gula pasir dari 58 pabrik gula sekitar 2,9 juta ton. Produksi gula rafinasi oleh industri gula rafinasi dalam negeri 1,5 juta ton.

Adapun impor gula rafinasi 379.000 ton. Stok akhir gula 2008 sebesar 1,008 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan gula nasional 5,708 juta ton.

Sementara total kebutuhan gula dalam negeri diperkirakan 4,85 juta ton, terdiri atas konsumsi langsung 2,7 juta ton dan kebutuhan industri 2,15 juta ton. Dengan demikian, surplus ketersediaan gula nasional 858.000 ton.

Melonjaknya harga gula lebih karena spekulasi para pedagang dan lemahnya kontrol pemerintah.

Harga gula di Pasar Cinde, Palembang, Rp 9.500-Rp 11.000 per kg. Menurut Ali, seorang pedagang, kenaikan harga gula kali ini luar biasa. Harga gula selalu naik saat bulan puasa, tetapi tidak pernah setinggi sekarang.

(MAS/WAD/HLN/ITA/GRE/NIT/ APA/ABK/ETA/INK/BRO/ILO/ WHO/ARA/WHY)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: