PERTUMBUHAN EKONOMI; Tak Maksimal Tanpa Dukungan Sektor Keuangan

Selasa, 11 Agustus 2009 | 03:07 WIB

kompas_white

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/11/03073078/.tak.maksimal.tanpa.dukungan.sektor.keuangan

Jakarta, Kompas – Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 masih bisa mencapai 4 persen. Pada semester II-2009, pertumbuhan akan lebih baik dibandingkan dengan semester I-2009, antara lain karena membaiknya ekonomi global.

Namun, tanpa dukungan sektor keuangan yang efisien, pertumbuhan ekonomi semester II-2009 tidak akan maksimal.
Demikian pendapat yang disampaikan secara terpisah oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya, ekonom senior Indef Fadhil Hasan, dan pengamat ekonomi Prasetyantoko di Jakarta, Senin (10/8).

Ketiganya menanggapi pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin, yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2009 sebesar 4 persen, padahal pada kuartal I-2009 4,4 persen.

”Perekonomian Indonesia tahun 2009 akan bertumbuh 3,5-4 persen dengan kemungkinan besar mencapai batas atas,” kata Budi Mulya.

Bila merujuk kepada Tinjauan Kebijakan Moneter Agustus 2009 yang dirilis BI, perlambatan pertumbuhan ekonomi
diperkirakan akan tertahan pada triwulan III-2009.

Dalam laporan itu dijelaskan, dari sisi permintaan, hampir seluruh komponen diperkirakan membaik. Pertumbuhan
konsumsi swasta stabil ditopang daya beli yang memadai seiring membaiknya upah riil, melambatnya pertambahan pemutusan hubungan kerja, dan menguatnya keyakinan konsumen.

Dari sisi eksternal, optimisme membaiknya kinerja ekspor didukung oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia.

Optimisme para pelaku usaha akan mendorong tumbuhnya investasi dan geliat berproduksi.

Faktor perayaan hari besar keagamaan akhir triwulan III-2009 diperkirakan juga menjadi pendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait, antara lain sektor industri, perdagangan, serta pengangkutan dan komunikasi.

Sementara pertumbuhan investasi triwulan III-2009 diperkirakan membaik seiring membaiknya permintaan eksternal dan domestik. Ini didukung oleh optimisme perbaikan ekonomi global yang ditunjukkan oleh membaiknya permintaan ekspor dari beberapa negara.

Hal senada disampaikan Fadhil Hasan. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II-2009 akan lebih baik, yakni di kisaran 4,6-4,7 persen. Hal ini disebabkan antara lain oleh mulai membaiknya ekonomi Amerika Serikat, diikuti penguatan India dan China.

”Harga komoditas juga mulai membaik dan konsumsi masyarakat akan meningkat relatif terhadap semester I-2009,” ujar Fadhil.

Suku bunga kredit

Pendapat berbeda disampaikan pengamat ekonomi Prasetyantoko. Ia mengatakan, perekonomian Indonesia masih akan bergerak perlahan pada semester II-2009.

Penyebab utamanya, kata Prasetyantoko, adalah suku bunga kredit yang tidak kunjung turun meskipun sudah dipancing penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 250 basis poin, hingga saat ini menyentuh 6,5 persen.

Menurut Prasetyantoko, suku bunga bank sulit turun karena bersaing dengan suku bunga obligasi yang bertengger tinggi.

Situasi itu diperburuk struktur perbankan nasional yang didominasi empat bank besar, serta adanya dominasi debitor besar, yang menyebabkan sulitnya penurunan biaya bank atas simpanan.

”Tanpa dukungan sektor keuangan yang efisien, pertumbuhan ekonomi pada semester II- 2009 tidak akan maksimal,” ujar Prasetyantoko.

Namun, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto menyangkal bahwa tingginya suku bunga bank disebabkan tingginya imbal hasil surat berharga yang diterbitkan pemerintah.

Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa memengaruhi tingkat imbal hasil. Hanya pasar yang bisa menentukannya. ”Itu juga disebabkan oleh komposisi deposan yang tidak sehat, yakni 1 persen deposan menguasai 50 persen dana deposito,
sehingga bank tidak memiliki kekuatan menawar. Sebaiknya perbankan bersama-sama sepakat menentukan suku bunga
deposito yang rendah agar deposan tidak memiliki pilihan,” ujar Rahmat.

Indeks

Sementara itu, pengumuman BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2009 ditanggapi positif oleh pelaku pasar modal. Pertumbuhan ini melebihi ekspektasi pelaku pasar, yaitu 3,8 persen.

Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 40,42 poin atau 1,72 persen ke level 2.389,56. Indeks LQ-45 naik 8,72 poin atau 1,89 persen menjadi 469,46 dan Indeks Kompas100 menguat 10,25 poin atau 1,79 persen ke level 582,07.

Seiring penguatan harga saham di BEI, pada perdagangan di pasar valuta asing nilai tukar rupiah juga menguat signifikan. Sampai penutupan perdagangan, rupiah diperjualbelikan pada harga Rp 9.930 per dollar AS, atau menguat Rp 30 dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, yaitu pada level Rp 9.960 per dollar AS.

President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia Bernard Thien mengatakan, penguatan indeks harga saham dalam negeri ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal.

Menurut Bernard, sekalipun pertumbuhan ekonomi kuartal II-2009 lebih rendah dari kuartal sebelumnya, pemerintah
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 mencapai 4-4,5 persen.

Adapun sentimen positif dari eksternal, lanjut Bernard, adalah menguatnya indeks di bursa regional menyusul keluarnya data pengangguran di AS. Data pengangguran di AS itu lebih baik dari konsensus analis.

Jumat pekan lalu, pemerintah setempat mengumumkan tingkat pengangguran di negara itu hanya 9,4 persen, sedangkan konsensus analis memperkirakan 9,6 persen.

Selain itu, harapan pelaku pasar terhadap membaiknya perekonomian Jepang semakin kuat setelah keluarnya data tentang permintaan mesin di Jepang, yang menguat 9,7 persen. Penguatan ini lebih tinggi dari konsensus analis, yaitu 2,6 persen.

Kecuali di pasar saham China, pada perdagangan saham kemarin indeks di semua bursa regional ditutup menguat. Indeks Nikkei225 di Jepang menguat 1,08 persen dan Hang Seng di Hongkong menguat 2,72 persen.

Adapun aktivitas perdagangan saham di BEI cukup semarak. Saham yang diperdagangkan tercatat 17,61 miliar saham dengan nilai Rp 7,89 triliun.

Dari 278 saham yang diperdagangkan, sebanyak 145 saham harganya naik, 64 saham turun, dan 69 saham tetap.

Saham yang harganya naik signifikan antara lain Astra Agro Lestari naik Rp 1.800 menjadi Rp 21.100, Bumi Resources naik Rp 225 menjadi Rp 3.200, dan Indofood naik Rp 175 menjadi Rp 2.400. Adapun yang turun harganya antara lain saham Indo Tambangraya turun Rp 400 menjadi Rp 24.400, Tambang batubara Bukit Asam turun Rp 100 menjadi Rp 13.500, dan Lippo Cikarang turun Rp 35 menjadi Rp 295. (OIN/REI/FAJ)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: