Garam Impor Banjiri Pasar

Kamis, 23 Juli 2009 | 03:58 WIB

kompas_white

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/23/03582572/garam..impor.banjiri.pasar…

Jakarta, Kompas – Para petani garam mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah. Saat panen raya harga garam petani selalu anjlok, bahkan sering hanya Rp 80 per kilogram. Adapun garam impor terus membanjiri pasar domestik. Saat ini 60-70 persen kebutuhan garam nasional dari impor.

Dibukanya lebar-lebar peluang impor garam, kata koordinator petani garam di Kecamatan Suranenggala dan Kapetakan Cirebon Jawa Barat, Muhammad Taufikkurohim, membuat harga garam petani jatuh.

Indikasi pemerintah ”membiarkan” impor itu, antara lain, tampak dari ketidakakuratan pemerintah mencatat produksi garam petani.

Data produksi garam petani Cirebon dan Indramayu, misalnya, hanya tercatat 60.000 ton per tahun. ”Bagaimana mungkin data produksi serendah itu, padahal di kedua kabupaten ini terdapat 7.000 hektar lahan garam,” kata Taufik, Rabu (22/7) di Cirebon. Produktivitas garam petani per hektar 60-80 ton, bergantung pada curah hujan.

Dengan membuat data produksi garam petani yang sangat rendah, lanjut Taufik, ada peluang memasukkan garam impor dalam volume lebih besar. Situasi ini membuat petani tidak bersemangat memproduksi garam.

Harga garam di tingkat industri dan konsumen saat ini Rp 2.500-5.000 per kilogram. Adapun harga di tingkat petani hanya Rp 500-Rp 600 per kilogram.

”Itu pun sekarang petani sudah tidak punya garam dan panen belum tiba,” katanya.

Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) wilayah Indramayu, Jawa Barat, Karno Dirga’admaja, kebijakan pemerintah yang bias ke impor menunjukkan tidak ada keberpihakan pada petani garam.

”Tidak ada keadilan bagi petani garam. Selama ini harga garam selalu dikendalikan pembeli,” tuturnya.

Direktur Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Harmoni Idrus Zen menyatakan, yang diperlukan petani garam adalah dukungan kebijakan pemerintah yang memihak kepada mereka.

”Baik kebijakan tata niaga dalam bentuk pengendalian importasi garam, jaminan penyerapan pasar produksi garam petani, maupun dukungan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas garam,” katanya.

LPB Harmoni adalah lembaga swadaya masyarakat yang sejak tahun 2005 mendampingi para petani garam.

Idrus menjelaskan, kebergantungan pada garam impor terus meningkat. Saat ini Indonesia rata-rata mengimpor 1,63 juta ton garam per tahun, atau sekitar 60-70 persen dari total kebutuhan nasional. ”Kebergantungan pada impor terus meningkat. Padahal, ada peluang meningkatkan produktivitas dan kualitas dengan melakukan inovasi teknologi budidaya garam,” katanya. (MAS)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: