Sultan Dukung Larangan Merokok; Pelanggar Akan Dikenai Denda Setinggi-tingginya Rp 50 Juta

Rabu, 11 Juli 2007

kompas-cetak212

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/11/jogja/1039637.htm

Yogyakarta, Kompas – Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan dukungannya terhadap Peraturan Daerah atau Perda tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang di dalamnya memuat pengaturan larangan merokok. Sultan mengaku tidak masalah dengan pencantuman larangan merokok tersebut.

Padahal, pada awal pembahasan raperda tersebut, Sultan sempat menyatakan bahwa larangan merokok belum saatnya diatur dalam bentuk perda. Alasan kala itu lebih karena belum ada ketentuan dari pemerintah pusat yang menyangkut baku mutu udara emisi dari komponen sumber pencemar orang merokok sehingga menyulitkan dalam penegakan hukum.

Selain menyatakan dukungannya, Sultan juga menegaskan perlunya untuk segera disiapkan ruang khusus untuk merokok di DIY. “Otomatis tiap pemerintah kabupaten dan kota, termasuk kalangan swasta, seperti rumah makan, harus membuat ruang khusus merokok seperti di Jakarta,” ucap Sultan.

Hingga Selasa (10/7) malam, Rapat Paripurna penetapan Perda tentang Pengendalian Pencemaran Udara ini masih berlangsung di gedung DPRD DIY. Sebelum penetapan, digelar Rapat Paripurna Pandangan Umum Masing-masing Fraksi.

Pasal 11 perda tersebut mencantumkan tentang pencegahan pencemaran sumber orang merokok. Disebutkan bahwa setiap orang dilarang merokok di kawasan dilarang merokok.

Penetapan kawasan dilarang merokok nantinya akan diatur dengan peraturan gubernur atau peraturan bupati atau wali kota paling lambat satu tahun setelah penetapan. “Kami hanya akan membuat pengaturan secara umum, penetapan detail kawasan dilarang merokok merupakan kewenangan kabupaten dan kota,” ujar Sultan.
Pelanggaran terhadap larangan merokok akan dikenai hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 50 juta. Denda itu akan menjadi pendapatan bagi daerah.

Ketua Panitia Khusus Raperda tentang Pencemaran Udara Sukamto mengungkapkan rasa pesimistis bahwa perda tersebut akan banyak dilanggar masyarakat. Selain itu, dia juga khawatir jika pemerintah provinsi tidak serius dalam melaksanakan perda tersebut.

Ruang khusus
Dalam Rapat Paripurna Pandangan Akhir Fraksi terhadap Raperda tentang Pengendalian Pencemaran Udara di Provinsi DIY, semua fraksi menyatakan dukungan terhadap pengaturan larangan merokok.

Sebelumnya, hanya Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang tidak mengusulkan untuk memasukkan larangan merokok dalam raperda. Kini, Ketua Fraksi PDI-P Mualiban menyatakan mendukung terhadap pengaturan terhadap orang merokok. Namun, pengaturan itu, menurut dia, harus diikuti dengan pemberian fasilitas berupa ruang khusus bagi perokok aktif. “Bukan berarti kami melarang orang merokok,” ungkapnya.

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera melalui juru bicaranya Tri Harjono juga menegaskan tentang perlunya penetapan kawasan tanpa rokok di DIY. Mereka mengimbau eksekutif untuk segera menetapkan kawasan tanpa rokok tersebut, terutama untuk melindungi perokok pasif.

Penetapan kawasan merokok diharapkan mampu memberikan perlindungan dan jaminan kesehatan yang menjadi hak dasar setiap warga negara. Apalagi asap rokok terbukti membawa sekitar 4.000 partikel racun yang berbahaya bagi kesehatan dan menimbulkan berbagai penyakit, seperti kanker, jantung, ginjal, hingga impotensi. (WKM)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Sultan Dukung Larangan Merokok; Pelanggar Akan Dikenai Denda Setinggi-tingginya Rp 50 Juta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: