Rokok

Muki Hernowo – suaraPembaca
Senin, 28/05/2007 17:49 WIB

skt45

http://suarapembaca.detik.com/read/2007/05/28/174949/786207/471/rokok

Jakarta – Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara). Diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.

Merokok adalah kegiatan mengeluarkan asap dengan membakar tembakau secara langsung melalui mulut atau dengan menggunakan pipa. Banyak orang memulai habitat merokok sebagai wujud kemandirian dan kebanggaan.

Kebanyakan orang dewasa merokok untuk mengurangi kepenatan akibat beban kerja dan beban kehidupan. Karena efek nikotin yang terdapat dalam rokok membuat merokok menjadi lebih nikmat. Kepenatan pun akan terasa hilang.

Sungguh amat disayangkan. Kenikmatan itu hanyalah semu karena rokok –perlahan tapi pasti, dapat membunuh. Nikotin dalam tembakau merangsang kerja sistem sistem saraf tubuh di jantung, paru-paru, dan organ lainnya. Efek terhadap sistem saraf membuat seseorang menjadi kecanduan merokok.

Tetapi, nikotin bukanlah satu satunya penyebab orang menjadi ketagihan merokok. Penelitian di Brookhaven National Laboratory melaporkan dengan menggunakan scan otak, peneliti menemukan bahwa pada otak seorang perokok terdapat lebih sedikit 40% enzim otak yang bernama monoamine oxidase B (MAO B) pada otak seseorang yang tidak merokok.

Kegunaan MAO B untuk menghancurkan dopamine, cairan kimia otak yang ada hubungannya dengan perasaan dan kenikmatan. Dengan memiliki lebih sedikit MAO B berarti lebih banyak dopamine yang akan meningkatkan kenikmatan. Nikotin bereaksi meningkatkan dopamine.

Dalam rokok terdapat lebih dari 4000 jenis racun yang terdiri atas 599 bahan kimia. Mulai dari Acetanisole sampai Xylenol. Untungnya, semua bahan itu tidak berbahaya untuk tubuh. Tapi, jika bahan-bahan kimia tadi dibakar, mereka akan berubah menjadi bahan kimia lain. Bisa sampai 4000 jenis bahan kimia yang kebanyakan di antaranya adalah zat racun berbahaya buat tubuh.

Ada dua konsekuensi kesehatan akibat merokok. Pertama, perokok dengan cepat ketagihan nikotin. Sifat-sifat kecanduan nikotin telah terdokumentasikan dengan baik tetapi seringkali diremehkan konsumen atau perokok.

Kini sekitar 500 juta orang yang masih hidup akan mati karena mengkonsumsi tembakau. Lebih dari separo angka ini adalah anak-anak dan remaja. Pada tahun 2030, tembakau diperkirakan menjadi satu-satunya penyebab terbesar kematian di seluruh dunia. Sekitar 10 juta kematian per tahun.

Di Amerika Serikat, penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah menengah atas menemukan ternyata dua di antara lima perokok percaya mereka mampu berhenti merokok dalam lima tahun. Sekitar tujuh dari 10 remaja perokok di negara berpendapatan tinggi mengatakan bahwa mereka menyesal telah memulai kebiasaan itu dan menyatakan ingin berhenti.

Setelah melalui beberapa dekade dan akibat meningkatnya pengetahuan tentang akibat merokok, negara-negara berpendapatan tinggi telah memiliki sejumlah besar mantan perokok yang telah sukses menghentikan konsumsi rokoknya.

Tetapi, upaya perorangan menghentikan merokok menunjukkan angka keberhasilan yang rendah. Mereka yang mencoba berhenti merokok tanpa bantuan program penghentian merokok sekitar 98 persen di antaranya akan mulai merokok lagi dalam setahun.

Merokok dapat mengakibatkan penyakit serta kecacatan yang fatal. Bila dibandingkan dengan perilaku berisiko lainnya risiko kematian dini akibat merokok luar biasa tingginya. Separo dari perokok jangka panjang akhirnya akan meninggal karena tembakau. Separuhnya akan mati dalam usia produktif. Mereka menyia-nyiakan 20-25 tahun sisa hidupnya.

Penyakit yang berhubungan dengan rokok telah terdokumentasikan. Antara lain kanker paru-paru, penyakit jantung ischemic, penyakit yang berhubungan dengan peredaran darah, dan penyakit pernapasan seperti emfisema (emphisema).

Di daerah-daerah di mana TBC berkembang, risiko terkena TBC bagi para perokok lebih besar dibandingkan mereka yang tidak merokok. Kemungkinan lebih banyak warga miskin dibandingkan warga yang kaya. Risiko penyakit yang berhubungan dengan rokok dan kematian dini juga lebih besar di kalangan warga miskin.

Di negara berpendapatan tinggi dan menengah, kemungkinan mati pada usia setengah baya bagi laki-laki dari kelompok sosial ekonomi terendah adalah dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki dari kelompok sosial ekonomi tertinggi. Merokok minimal menyumbang separo dari risiko kematian.

Merokok juga mempengaruhi kesehatan orang yang tidak merokok. Bayi-bayi dari ibu perokok lahir dengan berat badan yang rendah, menghadapi risiko tinggi terjangkit penyakit pernapasan. Selain itu juga menghadapi risiko sindrom bayi meninggal secara mendadak (sudden death syndrome) yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu bukan perokok.

Orang dewasa bukan perokok menghadapi risiko kecil. Tetapi, risiko untuk mendapat penyakit dan kecacatan yang fatal terus meningkat karena berhadapan dengan orang lain yang merokok.

Dapat diambil beberapa pandangan. Hiduplah untuk menjadi hidup. Jangan hidup untuk membunuh diri sendiri. Jalani semua cobaan, rintangan, dan tantangan yang ada. Alasan di balik merokok karena kepenatan dan ingin kenikmatan adalah alasan menyedihkan. Dengan merokok telah menanam investasi kepenatan di masa yang akan datang. Sakit yang berujung kematian.

Muki Hernowo
International Program Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia
muki56mk@yahoo.com
(msh/nrl)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: