Rokok dan Perilaku Berkendara

Keliling Kota, Rabu, 25 Juli 2007

kompas-cetak214

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/25/jogja/1040250.htm

Jika memerhatikan perilaku beberapa pengemudi kendaraan bermotor di kota ini, sepertinya jargon “Yogyakarta Berhati Nyaman” yang sekian lama terpampang di dekat pertigaan Jalan Abu Bakar Ali, Kotabaru, hanya sebatas pajangan, tanpa wujud nyata yang maksimal. Dan memang, hal tersebut tercermin dari kelakuan sebagian besar pengemudi kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat, ketika berkendara di jalan sambil mengisap rokok.

Sebenarnya, tidak menjadi masalah jika pengemudi yang gemar merokok dalam mengendarai tunggangannya itu bersikap tertib dan tidak seenaknya. Artinya, mereka tidak membuang abu atau bahkan tidak jarang puntung rokoknya di jalanan. Tetapi sayang, hal tersebut sangat berbeda dengan apa yang terjadi di jalanan.

Para pengendara yang juga merokok, kerap kali enggan untuk berhenti sebentar sekadar untuk membuang abu atau puntung rokok. Mereka lebih memilih untuk membuang begitu saja di jalanan ketimbang di tempat sampah yang disediakan. Tentu saja itu dilakukan ketika mereka sedang melaju di atas kendaraannya. Ini mengindikasikan, etika berkendara yang dimiliki para pengemudi itu mulai meluntur.

Terus terang saja, saya termasuk orang yang sering berada di belakang pengemudi yang berkendara sambil merokok ini. Entah itu mobil atau motor. Semakin lama, kondisi ini saya rasakan bertambah parah saja. Selain makin seringnya pengendara perokok tersebut membuang puntungnya sembarangan, cara membuangnya pun kian tidak memedulikan pengemudi lain yang berada di belakang atau di samping kanan-kirinya.

Beberapa kali saya mengalami sikap kurang mengenakkan dari para pengendara yang mengemudi sambil merokok ini. Jika sebelumnya mereka mengarahkan terlebih dahulu puntung rokoknya ke bawah sebelum dibuang pelan-pelan, kini “cara” itu sudah berganti menjadi lebih gawat lagi. Mereka tidak segan-segan langsung melemparkannya, begitu rokok yang diisap akan segera habis.

Melihat hal tersebut, saya kadang bertanya dalam hati. Tidak sadarkah pengendara itu akan kelakuannya yang membahayakan pengemudi lain? Beberapa teman saya mengaku matanya kelilipan saat mengemudi di belakang orang yang merokok ketika berkendara. Sebab, abu rokok yang dijatuhkan tertiup angin dan mengenai indra penglihatannya. Yang lebih mengesalkannya lagi, kebanyakan dari pengemudi tersebut selalu berada di jalur tengah dengan kecepatan tanggung. Tentu ini membuat kendaraan di belakangnya mengalami kesulitan jika ingin mendahului.

Saya sendiri acap kali kaget saat puntung rokok dalam keadaan menyala dilempar begitu saja oleh pengendara yang merokok. Terlebih jika ini terjadi pada malam hari. Sebab, nyala api puntung rokok yang dibuang terlihat sangat mencolok di jalanan. Kontan saja saya terkejut dan menghindari. Tidak jarang keseimbangan saya dalam mengemudi menjadi labil karena tiba-tiba melihat puntung rokok menggelinding di jalan dalam keadaan menyala. Beruntung saya tidak sampai terjatuh dari sepeda motor.

Pernah saya mencoba untuk menegur salah seorang pengendara yang tidak tertib itu dengan mengimbangi kecepatan laju kendaraannya. Respons yang terlontar dari mulutnya cukup mengagetkan saya. “Maaf, Mas. Habis Masnya juga yang terlalu dekat jaraknya sama saya,” ujarnya sambil tancap gas mendahului. Sangat mengagetkan. Sungguh, hal itu membuat saya semakin merasa tidak nyaman di kota yang katanya “Berhati Nyaman” ini.

ALEXANDER PANDU BASKORO Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: