Peta Perokok di Kalangan Wakil Rakyat di Senayan; PKS dan PDS Zero, Golkar Terbanyak

Jumat, 18 Mei 2007

jp30

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285796

Tiada hari tanpa rokok. Itu adalah prinsip para pecandu. Sebagian para anggota DPR di Senayan termasuk yang mabok rokok itu. Terkadang aktivitas merokok mereka lakukan saat sidang penting maupun ketika tengah diwawancarai wartawan.
Priyo Handoko, Jakarta

Departemen Kesehatan RI baru-baru ini merilis sebuah hasil survei mengenai perokok. Survei itu menjadi menarik karena yang menjadi objek penelitian adalah anggota DPR RI. Apalagi, saat ini para wakil rakyat tersebut mendapat desakan publik untuk segera merampungkan draf RUU tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan.

Survei dilakukan dengan membandingkan antara anggota dewan yang perokok (smoke) dan yang bukan perokok (not smoke). Dari riset itu, ditemukan fakta bahwa persentase perokok tertinggi berada di Fraksi Partai Golkar. Hampir 60 persen anggota partai tersebut perokok. Urutan selanjutnya adalah Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) yang mencapai angka 55 persen.

Berturut-turut selanjutnya, FPAN (42 persen), FPDIP (38 persen), FBPD (36 persen), FPPP (28 persen), FPD (24 persen), dan FPBR (15 persen). Sedangkan FPKS dan FPDS mengukir prestasi luar biasa, yaitu nol persen. Artinya, tak ada satu pun kader PKS di parlemen yang perokok.

“Prestasi” PKS itu ternyata ada yang berkaitan dengan aturan yang diterapkan partai tersebut. Ketua DPP PKS Untung Wahono memaparkan, di PKS memang ada lima tingkatan keanggotaan. Mulai yang paling bawah, yaitu anggota pemula, anggota muda, anggota madya, anggota dewasa, hingga anggota ahli di level tertinggi.
Dalam kurikulum kaderisasi PKS, seorang kader PKS yang telah mencapai level dewasa memang tidak diperbolehkan merokok. Ada pedoman sanksi kepartaian yang mengatur. “Kedapatan merokok dihitung pelanggaran ringan,” katanya.

Bila pelanggaran serupa berulang, itu akan menjadi penilaian tersendiri yang memengaruhi jenjang karir kader bersangkutan di internal PKS. Kendati demikian, Untung mengatakan, banyak juga kader PKS di level pemula hingga madya yang belum bisa meninggalkan kebiasaan merokok.

Fenomena itu sesekali bisa dilihat di ranting-ranting PKS yang berada di desa maupun kelurahan. Namun, mekanisme sanksi tidak diberlakukan kepada mereka. “Paling-paling hanya sebatas pengarahan,” ujar anggota Komisi I DPR itu, lantas tersenyum.

Untung menjelaskan, seluruh kader PKS yang saat ini duduk di DPR paling tidak telah mencapai level dewasa. Sebagian besar di antara mereka bahkan pada level ahli. Karena itulah, tidak ada satu pun anggota Fraksi PKS yang “terdeteksi” memiliki kebiasaan merokok.

“Persoalannya sudah bukan takut sanksi lagi. Tapi, matangnya pengendalian diri,” katanya. Di level ini, pemahaman bahwa merokok merupakan perilaku yang boros dan merusak kesehatan telah terintermalisasi dengan sangat baik.

Berbeda partai berbeda pula prinsip. Salah seorang kader PBB yang di DPR tergabung Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (FBPD), Yusron Ihza, justru merupakan salah seorang anggota dewan yang tergolong perokok berat. Siang itu, ketika ditemui Jawa Pos, dia tampak asyik menyulut pipa rokok di depan ruang rapat komisi I.

Asap halus terlihat keluar dan terbang mengambang dari kedua hidungnya. Namun, adik kandung mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra itu tidak mengisap rokok batangan yang konvensional. Dia memilih untuk membakar tembakau murni, langsung di pipa hitamnya yang bermerek Porche.

Harga pipa kayu itu ternyata Rp 5 juta. “Di rumah, saya masih punya 60 lebih koleksi pipa rokok,” katanya. Menurut Yusron, pipanya itu termasuk murah. Sebab, di Jepang, dia pernah menemukan pipa rokok seharga Rp 600 juta. “Tapi, saya tak berani beli. Takut nanti dituduh korupsi,” ujarnya.

Untuk tembakau, Yusron memilih menggunakan tembakau yang bermerek Blend Eleven. Meskipun harga sebungkus hanya Rp 27 ribu, tembakau kesukaannya itu hanya dijual di Kuala Lumpur, Malaysia. “Karena satu bungkus ini habis dalam 3 hari, teman saya di sana rutin mengirimi saya stok setiap bulan,” kisahnya.

Yusron mejelaskan, dirinya mulai meninggalkan rokok batangan dan beralih mengisap pipa sejak 6 tahun lalu. Dia mempunyai sejumlah alasan tersendiri. Bagi Yusron, pipa bukan semata-mata alat, tapi juga barang seni. “Merokok pipa ini masalah life style. Jadi, terkesan lebih elegan,” katanya.

Dari segi kebersihan, lanjut dia, perokok pipa tidak perlu membuang puntung dan abu rokok kemana-mana. Bahkan, roko tembakau lebih sehat daripada mengisap rokok batangan. Sebab, yang dihisap hanya asap dari tembakau murni yang terbakar. Berbeda dengan rokok biasa yang juga tercampur dengan asap dari kertas dan caos yang terbakar. “Mengisap pipa juga tidak terlalu dalam-dalam,” tandas Yusron, lantas kembali menyulut pipa rokoknya. (*)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: