Perda Pencemaran Udara; Satu Perokok, Seluruh Rumah Pun Bisa Kena Risiko

Agni Rahadyanti
Rabu, 11 Juli 2007

kompas-cetak213

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/11/jogja/1039638.htm

Sambil menyalakan sebatang rokok keretek, Slamet (35) menyatakan tak keberatan atas diterbitkannya larangan merokok dalam Peraturan Daerah tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

“Kalau ada instruksi yang jelas dari pemerintah dan ditempelkan stiker larangan merokok dalam bus, saya pasti akan taati,” ucap sopir bus perkotaan itu.

Ditemui di Terminal Bus Giwangan ketika menunggu penumpang, Selasa (10/7), Slamet mengaku belum mengetahui tentang rencana adanya larangan merokok di tempat-tempat umum, seperti di sarana kesehatan, tempat kerja, tempat spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, area kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.

Selama ini, Slamet terbiasa merokok di dalam bus ketika bus berhenti menunggu penumpang maupun ketika bus sedang berjalan. Selain karena kebiasaan, mengusir kantuk adalah alasan yang dikemukakannya untuk merokok di tengah kepadatan penumpang.

Sebenarnya, Slamet memahami bahwa merokok juga membahayakan bagi orang lain di sekitar yang ikut mengisap asap rokok. “Ada orang- orang yang langsung terbatuk-batuk ketika kena asap rokok,” ujarnya. Meski begitu, seperti kebiasaannya selama ini, ia merokok di mana saja ia inginkan. Ketika larangan ini diberlakukan, Slamet berharap nantinya tetap diizinkan merokok di luar bus atau di tempat-tempat khusus lain, meski mungkin akan sedikit merepotkan baginya.

Berbeda dengan Slamet, Bima (30) mendukung sepenuhnya perda tersebut. Bima yang sedang berusaha untuk berhenti merokok merasa terbantu dengan adanya larangan merokok di tempat-tempat umum itu.
“Setidaknya, ada sesuatu yang bisa memaksa saya untuk segan merokok di sembarang tempat. Dengan adanya larangan itu, saya yakin bisa mengurangi konsumsi rokok karena sudah tidak bisa sesuka hati merokok di mana saja saya inginkan,” tutur Bima.

Ia menambahkan, selama ini memang sudah ada kawasan-kawasan bebas rokok yang sering dijumpainya. Namun, kawasan-kawasan seperti di bandara atau di mal itu tidak banyak membantu karena ia hanya berada sebentar saja di kawasan tersebut.

Meski belum terkena suatu penyakit akibat kebiasaan merokoknya, Bima mengakui bahwa merokok tak baik bagi kesehatan. “Dari referensi yang saya baca, saya sebenarnya tahu kalau merokok itu menimbulkan banyak penyakit. Saya sendiri takut terkena jantung koroner. Merokok juga menghabiskan uang. Sehari saya beli satu bungkus Rp 8.000, satu bulan saya membakar Rp 240.000 hanya untuk rokok,” katanya.

Dokter Murdilan dari Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) DI Yogyakarta mengungkapkan, saat ini belum semua perokok sadar bahwa merokok juga membahayakan orang-orang di sekitar yang terkena asap rokok, atau para perokok pasif. “Jika dalam satu rumah ada satu orang perokok, seluruh rumah akan terkena risiko yang sama,” tutur Murdilan.

Merokok dan mengisap asap rokok sendiri dapat meningkatkan risiko terserang bermacam penyakit, seperti penyakit-penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di saluran napas, serta penyakit jantung koroner yang memiliki risiko kematian tinggi.

BP4 DIY mencatat, terdapat 4.215 kasus penyakit bronkitis kronis yang dikategorikan sebagai PPOK ditangani selama tahun 2006. Jumlah bronkitis kronis yang faktor penyebab utamanya karena rokok ini merupakan kasus terbanyak atau 40,18 persen dari keseluruhan kasus penyakit paru yang ditangani oleh BP4.

Untuk terus mengurangi angka perokok ini, BP4 bekerja sama dengan Center for Bioethics and Medical Humanities Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan program Konseling Rokok sejak Maret lalu. Melalui program ini, para perokok yang berobat di BP4 dirujuk oleh dokter untuk mengikuti konsultasi bagaimana menghentikan kebiasaan merokok.

Seperti diungkapkan Murdilan, penghentian kebiasaan merokok tidak akan tercapai tanpa adanya niat dari si perokok sendiri untuk berhenti merokok.

“Perda larangan merokok memang sangat mendukung upaya mengurangi rokok. Perda ini akan berhasil jika didukung adanya pembangunan budaya malu merokok di masyarakat. Tanpa rasa malu, perokok tetap akan merokok di sembarang tempat,” ujarnya. Selain itu, tentu pemerintah harus konsisten dengan menyiapkan tempat-tempat merokok khusus di ruang publik.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: