Nasib Buruh dan Dana Bagi Hasil Cukai

Zamhuri
Sabtu, 15 September 2007

skt32

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/15/jogja/1042422.htm

Perjuangan daerah produsen penghasil cukai untuk mendapat dana bagi hasil cukai seakan terjawab. Belum lama ini, melalui Panitia Khusus Cukai, DPR menyepakati revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Daerah produsen cukai rokok yang meliputi Kabupaten Kudus, Kota Surabaya, Kota Kediri, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Pasuruan akan mendapat pembagian dana bagi hasil sekitar dua persen dari total peneriman realisasi cukai nasional.

Setidaknya revisi tersebut merupakan jawaban dari surat Bupati Kudus selaku koordinator Badan Kerja Sama Kabupaten/Kota penghasil cukai dengan surat tertanggal 24 Februari nomor 976/0592/16 yang dialamatkan kepada DPR lewat Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang perubahan UU Nomor 11 Tahun 1995 saat kunjungan kerja di Kudus pada 24 Februari 2007.

Di Kudus sendiri, menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, jika mengacu pada realisasi cukai semester pertama tahun 2007, sumbangan cukai Kudus sebesar Rp 5,42 triliun, maka dalam satu tahun Kudus menghasilkan cukai Rp 10,84 triliun.

Berdasarkan revisi RUU cukai tersebut, cara pembagiannya adalah 40 persen dari pembagian itu jatuh ke delapan daerah produsen, 30 persennya ke provinsi, dan 30 persen sisanya ke daerah kabupaten/kota bukan penghasil rokok. Jika dihitung, Kudus akan memperoleh pembagian sekitar Rp 86,72 miliar. Belum termasuk pemasukan pembagian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Jumlah ini tentu cukup besar karena pendapatan asli daerah (PAD) Kudus hanya Rp 53 miliar. Bagi hasil Rp 86,72 miliar dari cukai rokok ini lebih kurang sama dengan 1,5 kali dari PAD Kudus.

Dalam revisi RUU tersebut pada Pasal 66, antara lain, disebutkan, alokasi dana bagi hasil cukai penerimanan negara dari tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar dua persen yang digunakan untuk mendanai kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, serta pemberantasan tentang barang cukai ilegal.

Kedua, alokasi dana bagi hasil cukai, hasil tembakau ditetapkan berdasarkan realisasi penerimaan cukai hasil tembakau pada tahun berjalan.

Ketiga, gubernur mengelola dan menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau dan mengatur distribusi dana bagi hasil cukai, hasil tembakau, kepada bupati atau wali kota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil tembakau. Kepentingan buruh.

Walaupun sudah ditentukan peruntukan dana bagi hasil cukai dalam revisi RUU tersebut, peraturan teknis pelaksana yang berbentuk peraturan pemerintah atau Peraturan Menteri Keuangan belum diterbitkan sehingga peluang pengelolaan bagi daerah untuk mengelola dana bagi hasil cukai yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan kedaerahan masih memungkinkan untuk dibuat regulasi di tingkat teknis.

Karena itu, daerah perlu berjuang juga agar peraturan teknis pelaksanaannya mengakomodasi problem dan prioritas pembangunan di daerah. Hal ini karena pengelolaan dana tersebut harus mengacu pada ketentuan perundangan dan peraturan-peraturan lainnya yang diregulasikan. Pendapatan cukai tentu saja tidak lepas dari jerih payah para karyawan/buruh. Setiap hari sejak subuh para buruh/karyawan sudah berangkat kerja menuju brak-brak rokok untuk membuat lintingan batang per batang. Karena itu, pemerintah daerah perlu memperjuangkan konsep regulasi teknis untuk memikirkan nasib buruh/karyawan.

Jika dilihat dari tingkat kesejahteraan, kehidupan para buruh tentu masih belum seluruhnya layak. Pendapatannya masih berkisar pada angka upah minimum kabupaten (UMK), yang untuk Kudus sendiri UMK pada 2007 sebesar Rp 650.000. Jika dibandingkan dengan pendapatan dari pegawai negeri sipil (PNS) yang jam kerjanya relatif lebih santai dan pendek tentu masih jauh. Ini karena PNS golongan I saja pendapatan rata-rata di atas Rp 1 juta.

Karena itu, pemerintah kabupaten perlu memprioritaskan nasib para buruh dalam regulasi di tingkat teknis dalam pengelolaan dana bagi hasil cukai tersebut. Upaya-upaya perbaikan nasib buruh oleh pemerintah daerah bisa dilakukan, misalnya, dengan cara pemberian beasiswa bagi putra-putri buruh, memberikan tambahan penghasilan (tunjangan) bagi para pendidik yang mengelola lembaga pendidikan swasta yang kebanyakan berasal dari keluarga buruh, membangun sarana dan prasarana pendidikan, pemberian pelayanan hibah atau kredit lunak, peningkatan jaminan kesehatan, peningkatan sarana dan prasarana publik yang bermanfaat baik secara langsung atau tidak langsung terhadap produktivitas pabrik-pabrik penghasil cukai, serta pemberian subsidi perumahan, dana rehab atau bedah rumah bagi para buruh yang tidak memiliki rumah atau memiliki rumah yang tidak layak huni.

Baik langsung atau tidak, pemanfaatan dana bagi hasil cukai di atas akan lebih produktif jika ditujukan untuk
kepentingan para buruh. Dengan tingkat kesejahteraan yang belum layak saja mereka sudah menjadi motor penghasil cukai, apalagi jika kesejahteraan meningkat, maka akan berkonsekuensi meningkatnya produktivitas. Dengan meningkatnya produktivitas, maka penghasilan cukai akan meningkat pula sehingga pendapatan daerah menjadi bertambah.

Kepentingan dan kesejahteraan buruh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kudus selama ini belum terakomodasi secara layak. Ini karena Pemkab Kudus baru memprogram kesejahteraan PNS, aparatur, dan pegawai daerah, termasuk kesejahteraan para anggota DPRD, yang mendapatkan berbagai tunjangan dan kenaikan setiap tahun.

Zamhuri Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus Jawa Tengah

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Nasib Buruh dan Dana Bagi Hasil Cukai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: