Gudang Garam Optimis; Tidak Terpengaruh Kebijakan Tarif Spesifik

Senin, 08 Oktober 2007

kompas-cetak208

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/08/ekonomi/3905364.htm

Kediri, Kompas – Salah satu produsen rokok nasional, PT Gudang Garam Tbk, optimistis akan terus mengalami pertumbuhan bisnis pada tahun 2008. Penguatan strategi promosi dan inovasi produk baru diandalkan untuk
merealisasikan pertumbuhan tersebut.

“Kami yakin akan terus tumbuh tahun 2008. Pertumbuhan ini akan meliputi semua produk, baik sigaret keretek tangan (SKT) maupun sigaret keretek mesin (SKM),” kata Direktur Produksi Gudang Garam Rinto Harno, di sela-sela kunjungan kerja Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno di Kediri, pekan lalu.
Akan tetapi, Rinto menolak menyebutkan pertumbuhan yang ditargetkan tersebut. Menurut dia, perseroan optimistis pertumbuhan tetap tercapai.

Gudang Garam membukukan penjualan bersih senilai Rp 26,3 triliun pada tahun 2006. Sebesar Rp 25,1 triliun di antaranya berasal dari pemasaran di dalam negeri, dan sisanya Rp 1,1 triliun dari hasil ekspor.

Rinto mengatakan, perseroan akan meningkatkan porsi promosi untuk memperluas pangsa pasar domestik dan internasional. Selain itu, perseroan juga berupaya memperluas pangsa pasar ekspor di kawasan Timur Tengah dan Malaysia yang saat ini berkontribusi sebesar 5 persen pada penjualan. Menurut Rinto, Gudang Garam memiliki kapasitas produksi 8 miliar batang SKT dan 52 miliar batang SKM per tahun.

Sementara, jumlah karyawan tetap sebanyak 38.000 orang.

Dalam laporan keuangan konsolidasi PT Gudang Garam Tbk dan anak perusahaan per 30 Juni 2007 dan 2006 yang belum diaudit, nilai cukai dan pajak pertambahan nilai (PPN) rokok yang harus dibayar naik.

Pada 30 Juni 2006, nilai PPN yang harus dibayarkan Rp 2,6 triliun, sementara untuk periode yang sama tahun 2007 telah naik menjadi Rp 3,6 triliun.

Tidak signifikan
Saat ditanya dampak penerapan cukai spesifik mulai Juli 2007 terhadap pemasaran, Rinto mengaku tidak signifikan. Menurut dia, produksi SKT justru mengalami kenaikan.

“Memang produksi SKM turun sedikit. Namun, penurunannya tidak sampai 1 persen sehingga kami tidak merasakan imbas yang signifikan akibat kebijakan tersebut,” ungkap Rinto.

Pemerintah memang terus berupaya meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dari industri rokok. Sejak 1 Maret 2007, harga jual eceran (HJE) rokok naik 7 persen dan penerapan tarif spesifik berlaku mulai Juli 2007.

Besarnya tarif spesifik disesuaikan dengan golongan masing-masing pabrik rokok. Untuk pabrik rokok yang memproduksi 2 miliar batang per tahun (golongan I) dikenai tarif spesifik sebesar Rp 7 per batang. Pabrik yang memproduksi 200 juta sampai 2 miliar batang rokok per tahun (golongan II) sebesar Rp 5 per batang, dan pabrik yang memproduksi rokok di bawah 500 juta batang per tahun (golongan III) sebesar Rp 3 per batang.

Dalam APBN-Perubahan Tahun 2006, pemerintah menargetkan penerimaan cukai Rp 38,5 triliun. Sementara dalam APBN 2007 target penerimaan cukai sebesar Rp 42,034 triliun.

Mennakertrans Erman Suparno mengatakan, pabrik rokok merupakan industri yang menyumbang pajak dan menyerap tenaga kerja. Keduanya penting bagi negara. (ham)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: