DIY Keluarkan Larangan Merokok; Asbak Tak Lagi Disediakan di Ruang Rapat DPRD DI Yogyakarta

Mawar Kusuma
Selasa, 10 Juli 2007

skt73

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/10/jogja/1039587.htm

Yogyakarta, Kompas – DI Yogyakarta akan mulai menerapkan peraturan daerah yang memuat tentang larangan merokok. DPRD dan eksekutif akan mengesahkan Perda tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang memuat pasal pencegahan pencemaran sumber orang merokok tersebut pada Selasa (10/7) malam ini.

“Setelah pengesahan perda diharapkan semua pihak mulai mengatur diri untuk tidak merokok di tempat umum. Merokok memang nikmat, tapi orang lain punya hak menghirup udara segar,” ujar Ketua Panitia Khusus Perda tentang Pengendalian Pencemaran Udara Sukamto kemarin.

Nantinya setiap orang hanya boleh merokok di kawasan-kawasan tertentu. Sukamto bahkan meminta supaya asbak rokok tak lagi disediakan di setiap ruang rapat di DPRD DIY seusai pengesahan perda.

Penetapan kawasan dilarang merokok tersebut akan diatur dengan Peraturan Gubernur maksimal satu tahun setelah pengesahan. Ini kemudian harus dilanjutkan dengan Peraturan Bupati dan Wali Kota maksimal dua tahun setelah pengesahan.

Mereka yang melanggar larangan merokok akan dikenai hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda paling tinggi Rp 50 juta. “Saya yakin, perda ini akan menjadi satu-satunya peraturan yang paling banyak dilanggar. Namun, asap rokok sudah sangat membahayakan sehingga layak diatur,” kata Sukamto.

Pansus, lanjutnya, telah mencari masukan terkait larangan merokok dari masyarakat, pakar, hingga kunjungan kerja ke DKI Jakarta. “Tidak ada yang menolak pengaturan ini,” tuturnya.

UGM dukung
Sekitar 30 perwakilan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada juga menyatakan dukungan terhadap pengaturan larangan merokok dengan mendatangi DPRD DIY, kemarin. Mereka bahkan bersedia mengawal pelaksanaan perda tersebut.

Menurut Direktur Center for Bioethics and Medical Humanities Fakultas Kedokteran UGM Soenarto Sastrowijoto, satu batang rokok mengandung sekitar 4.000 racun. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dua per tiga dari asap rokok terisap oleh orang lain di sekitar perokok.

Pada 2003 sekitar 4,9 juta orang meninggal karena penyakit akibat rokok, 50 persen terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Rokok juga terbukti semakin memiskinkan orang miskin. Sekitar dua per tiga laki-laki dari 12 juta kepala keluarga miskin ternyata merupakan perokok aktif sehingga belanja rokok per tahun mencapai Rp 23 triliun. Sementara APBN untuk Departemen Kesehatan hanya Rp 17 triliun.

Tingginya pajak rokok, menurut Koordinator Tim Quit Tobacco Indonesia Siwi Padmawati, tidak sebanding dengan mahalnya pengobatan terhadap penyakit akibat merokok. Tanpa larangan merokok dipastikan upaya penegakan keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia akan pincang.

Selanjutnya, untuk melindungi perokok pasif, perlu pemisahan tegas ruangan yang ditempati perokok dan bukan perokok. Ruangan yang digunakan oleh perokok juga harus dilengkapi penyedot udara.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: