Demonstrasi; Lindungi Anak dari Bahaya Tembakau

Senin, 30 Juli 2007

kompas-cetak202

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/30/humaniora/3724695.htm

Jakarta, Kompas – Ratusan remaja dan mahasiswa unjuk rasa menuntut agar negara melindungi anak-anak dari zat adiktif, termasuk rokok, pada Minggu (29/7) pagi di depan Tugu Monas, Jakarta. Anak-anak rentan terpapar asap rokok dari orang-orang di sekitarnya sehingga kesehatannya terancam.

Aksi damai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional itu diikuti Komisi Nasional Perlindungan Anak, Yayasan Jantung Sehat Indonesia, Forum Remaja Indonesia Bebas Tembakau, dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia.

Mereka membagi-bagikan pamflet dan poster-poster yang di antaranya berbunyi, “Perokok pemula usia 5-9 tahun naik 700 kali lipat, tanya kenapa”, “Setiap harinya 1.172 jiwa meninggal karena rokok”.

Kian marak
Selain orasi, juga dilakukan happening art. Seorang demonstran membacakan puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Tuhan Sembilan Senti” yang berkisah tentang kebiasaan merokok yang kian marak di semua lapisan masyarakat dan di berbagai tempat. Sejumlah anggota Forum Remaja Indonesia Bebas Tembakau membacakan petisi.

Mereka mendesak agar pemerintah melindungi anak-anak dan remaja dengan melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok, serta menaikkan harga rokok agar tidak terjangkau oleh anak-anak Indonesia. Mereka juga menuntut pelarangan penjualan rokok secara batangan, membatasi tempat penjualannya, dan menjadikan tempat-tempat umum bebas dari asap rokok.

Negara wajib melindungi
Koordinator Program Layanan Komnas Perlindungan Anak Lisda Sundari menegaskan, negara wajib melindungi anak-anak dari zat adiktif, seperti diamanatkan Pasal 59 UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. “Mayoritas perokok mulai merokok saat masih anak-anak,” katanya.

Sebanyak 78 persen perokok memulai di bawah usia 19 tahun. Global Youth Tobacco Survey tahun 2006 menunjukkan, 3 dari 10 siswa mencoba merokok di bawah usia 10 tahun.

Sekitar 43 juta anak Indonesia usia di bawah 14 tahun hidup serumah dengan perokok. Di tempat umum 81 persen anak 13-15 tahun terpapar asap rokok.

Hasil evaluasi pengawasan iklan rokok tahun 2006 oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan menyebutkan, anak-anak dikepung 14.249 iklan rokok yang tersebar di media elektronik, media luar ruang, dan media cetak. Iklan-iklan ini secara masif dan agresif menyajikan citra gaul, keren, kreatif, gagah, kritis, dan penuh petualangan, sehingga rokok tidak lagi dianggap sebagai ancaman hak hidup mereka. (EVY)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: