Pilih Rokok daripada Gizi Anak

Senin, 01 Mei 2006

skt4

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/01/humaniora/2619146.htm

Persoalan gizi pada anak- anak di bawah lima tahun masih merupakan masalah serius pada sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia. Data yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2004 ada 5.119.935 anak balita yang menderita gizi kurang dan gizi buruk.

Kondisi gizi buruk, termasuk busung lapar yang belakangan terungkap, sebenarnya dapat dicegah. Gizi buruk sebenarnya masalah yang bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan. Juga karena aspek sosial-budaya yang ada di masyarakat kita, sehingga menyebabkan tindakan yang tidak menunjang tercapainya gizi yang memadai untuk balita (masalah individual dan keluarga).

Menurut antropolog FISIP-UI Achmad F Saifuddin, pekan lalu, gizi dan masalah gizi bukan semata masalah kesehatan.

Dalam masyarakat berkembang masih ada pemikiran bahwa laki-laki dianggap lebih baik/tinggi dibandingkan perempuan, sehingga kepentingan laki-laki lebih diutamakan. Ini masalah budaya, cara berpikir masyarakat.

Contoh cara berpikir dalam masyarakat yang tidak menunjang gizi anak terwujud dengan konsumsi rokok yang dilakukan oleh orangtua laki-laki (bapak/ ayah). Ada banyak keluarga di Indonesia yang anaknya mengalami gizi buruk, namun bapaknya terus saja merokok. Padahal kebiasaan merokok itu berarti mengeluarkan uang. Banyak uang “dibakar” sia-sia padahal sebenarnya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan protein atau menambah gizi anak.

Keluarga Atika adalah contohnya. Anaknya yang pertama, kini berusia 6,5 tahun, dulu sempat menderita marasmus (gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat), tapi sekarang sudah sehat. Namun anak keduanya—berusia 1,7 tahun—saat ini menderita gizi kurang. Berat badannya hanya tujuh kilogram.

Suami Atika bekerja sebagai buruh tani yang mendapat penghasilan Rp 10.000 per hari. Suaminya merokok dua kali sehari dan menghabiskan Rp 3.300 untuk membeli rokok. Atika sendiri tak tega bila suaminya yang sudah capai bekerja di sawah tidak merokok setelah bekerja.

Memprihatinkan
Kondisi seperti ini jelas memprihatinkan. Faktor budaya seperti lebih mementingkan rokok daripada gizi anak ini tentu sebaiknya tak dipertahankan agar kita memiliki generasi mendatang yang sehat, cerdas, dan produktif. Bukan generasi yang suatu saat justru menjadi beban.

Tatang S Falah, Kepala Subdit Bina Kewaspadaan Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan, menyatakan, ada empat masalah utama gizi yang terjadi di Indonesia, yaitu kekurangan protein, vitamin A, gizi besi dan yodium.

“Lima dari 10 ibu hamil menderita anemia gizi dan bisa meningkatkan risiko ibu melahirkan serta berat badan bayi
rendah. Status gizi anak balita ini menjadi siklus. Empat dari 10 anak sekolah menderita anemia, tiga dari 10 anak sekolah kekurangan yodium,” kata Tatang.

Di tengah persoalan ini kita sadar bahwa solusi yang hanya bersifat kuratif tidaklah cukup. Kita tidak bisa berharap masalah gizi buruk bisa ditangani sepenuhnya tanpa menyelesaikan akar masalahnya. Karena itu, harus ada pendekatan promotif dan preventif yang bisa membuka kesempatan bagi pemberdayaan masyarakat, terutama kelompok masyarakat yang terpinggirkan…. (LOK)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: