Hari Tanpa Tembakau; Hampir 5 Juta Orang Meninggal akibat Rokok

Sabtu, 02 Juni 2007

skt5x2

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/02/humaniora/3570628.htm

Jakarta, Kompas – Saat ini ada 4,9 juta kematian tiap tahun akibat rokok, 70 persen di antaranya di negara
berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, tahun 2020 penyakit akibat rokok akan menjadi masalah kesehatan utama dunia dengan 8,4 juta kematian tiap tahun, separuhnya terjadi di Asia.

Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam sambutan yang dibacakan Indrijono Tantoro, Staf Ahli Menkes Bidang Perlindungan Faktor Risiko Kesehatan, Departemen Kesehatan, pada acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Jakarta, Kamis (31/5).

Angka perkiraan konsumsi tembakau di Indonesia 28.7 persen. Jika penduduk Indonesia 220 juta, ada 63,14 juta perokok. Dampak negatif merokok antara lain kanker paru, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru seperti bronkitis kronik dan emfisema. Merokok juga mengakibatkan gangguan kesuburan dan impotensi.

Menurut buku Panduan Promosi Perilaku Tidak Merokok terbitan Depkes yang diluncurkan pada kesempatan yang sama, asap rokok tidak hanya membahayakan perokok, tetapi juga orang yang ikut mengisap asap rokok. Dampak merokok memang tidak serta-merta, tetapi dirasakan puluhan tahun kemudian.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Depkes, Achmad Hardiman, perokok pasif mendapat ancaman bahaya akibat rokok lebih besar. Pasalnya, perokok hanya mengisap 30 persen asap, sisanya terisap orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, Perwakilan WHO di Indonesia Stephan Jost mengingatkan pentingnya mewujudkan lingkungan yang 100 persen bebas asap rokok. Misalnya, dalam alat transportasi publik, sekolah, rumah sakit, serta fasilitas umum lain.

“Setiap negara anggota WHO perlu memiliki peraturan untuk melindungi masyarakat dari dampak asap rokok,” kata Jost.

Terkait Indonesia belum meratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC), Achmad Hardiman menyatakan, yang diperlukan adalah undang-undang penanggulangan masalah tembakau.

Kalau sudah ada UU itu, Indonesia tinggal melakukan aksesi terhadap FCTC. “Saat ini Komisi IX DPR sedang memperjuangkan RUU tentang Rokok sebagai RUU inisiatif DPR serta mendapat prioritas masuk Prolegnas dan dibahas tahun 2008,” ujar Achmad. (atk)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: