Cukai Rokok dan Minuman Keras Mudah Diselewengkan

Jumat, 22 September 2006

skt2

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/22/ekonomi/2970778.htm

Jakarta, Kompas – Akibat lemahnya pengawasan, mulai dari pemberian kuota dan pemeriksaan nomor registrasi, cukai untuk rokok dan minuman yang mengandung etil alkohol sangat mudah diselewengkan. Dampaknya, negara dirugikan tidak hanya karena kebocoran cukai, tetapi juga kehilangan potensi pendapatan karena tidak adanya pajak pertambahan nilai.

“Faktanya, cukai yang beredar di lapangan jumlahnya lebih banyak daripada yang ditetapkan pemerintah. Ironisnya lagi, cukai itu beredar karena tidak ada pengawasan yang ketat untuk menelusuri nomor cukai dari rokok dan minuman,” kata Ketua Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia Toto Dirgantoro dalam diskusi Membedah Problematika Cukai, Kamis (21/9) di Jakarta.

Toto menyebutkan, beberapa jenis pelanggaran lain terhadap cukai rokok dan minuman yang ditemukan di lapangan, antara lain, produk tanpa pita cukai, produk menggunakan pita cukai palsu, produk menggunakan pita cukai bukan haknya, dan produk menggunakan pita cukai yang tidak sesuai dengan jenis atau golongannya. Ada juga produk yang menggunakan pita cukai bekas atau cukai digunakan untuk merek lain.

“Sudah menjadi rahasia umum, ada banyak mafia dalam percukaian, baik di industri rokok maupun minuman. Pita cukai banyak dipesan pabrik rokok yang fiktif atau ada juga pabrik yang memanipulasi laporan kapasitas produksinya,” ujar Toto.

Menurut dia, pemerintah saat ini menghadapi dilema dalam penerapan kebijakan cukai. Di satu sisi pemerintah memikirkan penerimaan negara, tetapi pada lain sisi juga perlu memerhatikan pengembangan industri kecil.

Kalau pemerintah ingin memaksimalkan penerimaan negara dari cukai, menurut Toto, mestinya seluruh produksi rokok dikenai tarif cukai yang sama. Tentu saja kebijakan semacam ini akan berdampak pada matinya industri kecil.

“Di sisi lain, saat ini sangat banyak industri rokok yang diberi izin oleh Bea dan Cukai. Tetapi, persoalannya, apakah Bea dan Cukai mampu mengontrol seluruh pabrik, yang sebagian besar pabrik kecil,” ungkap Toto.

Sementara itu, untuk impor minuman, Toto mengatakan, masih banyak minuman yang diperjualbelikan secara bebas, tetapi tidak memakai pita cukai. Direktur Cukai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Frans Rupang mengakui semua kelemahan tersebut. Menurutnya, pesatnya pertumbuhan pabrik rokok saat ini, yang telah mencapai 3.615 pabrik, sangat sulit diawasi.

Lebih dari itu, menurut dia, pihak Bea dan Cukai sudah menemukan adanya indikasi pendirian pabrik rokok yang
motifnya hanya untuk jual beli pita cukai. Frans mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan institusi penegak hukum lain untuk menangani pelanggaran di bidang cukai. “Seluruh kantor pelayanan bea dan cukai juga sudah diimbau untuk melakukan operasi pasar peredaran barang kena cukai ilegal,” tutur Frans.

Toto menambahkan, Badan Pemeriksa Keuangan harus turun tangan untuk mengaudit kuota cukai yang dikeluarkan perusahaan importir yang ditunjuk pemerintah. “Tidak hanya itu, BPK harus mengaudit jumlah kertas cukai yang dicetak di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia,” kata Toto. (OTW)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: