Banyak Perusahaan Rokok Skala Kecil Belum Berizin Cukai, Kamis, 31 Mei 2007

Cukai, Kamis, 31 Mei 2007

skt1

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/31/jogja/1037953.htm

Yogyakarta, Kompas – Masih banyaknya perusahaan rokok skala kecil yang belum mengantongi izin membuat kantor bea cukai kehilangan potensi pendapatan. Untuk menekan angka kerugian, Kantor Bea Cukai Wilayah X Jawa Tengah-DI Yogyakarta menggelar sosialisasi cukai hasil tembakau secara intensif.

Sosialisasi itu diharapkan bisa menyadarkan para pengusaha rokok untuk membayar pajak cukai. Tahun ini wilayah Jateng-DIY menargetkan penerimaan cukai sebesar Rp 11,06 triliun. “Target tersebut memang cukup tinggi karena total target secara nasional Rp 42 triliun. Tahun lalu pendapatan yang kami terima sebesar Rp 9,7 triliun,” kata Kepala Bidang Kepabean dan Cukai Kantor Bea Cukai Wilayah X Jateng- DIY Iwan Riswanto, seusai membuka acara sosialisasi cukai hasil tembakau di Jogja Expo Center, Senin (28/5).

Menurut Iwan, ada sekitar 54 perusahaan rokok yang sudah terdaftar di wilayah DIY. Bila disurvei ke lapangan, total
perusahaan yang ada akan lebih besar. “Kami minta kerja sama dengan pemerintah daerah setempat terkait perizinan ini. Masyarakat harus mengerti bahwa rokok termasuk barang kena cukai karena merupakan hasil tembakau. Selain rokok, masih ada etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol,” ujarnya.

Hasil tembakau lain yang juga dikenai cukai adalah sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya. “Di masyarakat kita banyak yang mengelola usaha tembakau iris. Kalau sudah dikemas dan diperjualbelikan secara komersial, tembakau itu seharusnya kena biaya cukai,” kata Ristola Nainggolan, Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea Cukai Tipe A-4 Yogyakarta.

Ristola mengatakan pajak cukai hasil tembakau 4-20 persen dari harga eceran. Untuk tembakau kemasan, biaya berkisar empat persen, sementara rokok produksi pabrik pajak cukainya bisa mencapai 20 persen. Pajak itu disetorkan ke negara dan akan dikembalikan ke masyarakat sebagai dana pembangunan.

“Untuk masyarakat umum, sebaiknya juga mewaspadai peredaran rokok palsu yang kemasannya sangat mirip dengan produk aslinya. Untuk wilayah DIY, peredaran rokok palsu memang tidak banyak, tetapi tetap harus diwaspadai,” tuturnya. (ENY)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: