Sistem Politik Made in China

F Harianto Santoso
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:40 WIB

kompas-cetak194

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02405791&channel=2&mn=44&idx=44

Gordon Chang, seorang pengacara Amerika Serikat yang hidup selama dua dasawarsa di China dan Hongkong, pada tahun 2001 menulis sebuah buku yang fenomenal: The Coming Collapse of China. Menurut Chang, sistem komunisme akan tumbang pada tahun 2011. Partai Komunis China warisan Mao Zedong ini hanya cocok untuk sebuah China yang menutup diri dari dunia luar. Begitu keterbukaan dan modernisasi dicanangkan Deng Xiaoping awal dasawarsa 1980-an, apalagi China masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia tahun 2001, sistem ini jadi mubazir.

Premisnya Partai Komunis China (PKC) tidak mampu mengendalikan perkembangan sosial yang didorong kemajuan ekonomi. Sistem yang tidak kompatibel ini menjadi problem ketimbang kondusif. Pemimpin China kemudian setengah mati mempertahankan sistem tersebut.

Akibatnya, arah pembangunan yang tadinya reformatif lalu berubah menjadi pembangunan jorjoran pada akhir dasawarsa 1990. Bukan kemakmuran rakyat yang dikejar, melainkan perlombaan membangun dan memproduksi.

Tuntutan masyarakat yang semakin kritis akibat ekses pembangunan dan program reformasi yang tidak berjalan di tingkat bawah, dibarengi sifat korup aparat pemerintah, membuat PKC kehilangan kendali atas China. Apakah prediksi ini bakal jadi kenyataan dalam tiga tahun ke depan?

Kepemilikan swasta
PKC di satu sisi menerima warisan sistem Mao Zedong yang Marxis, di sisi lain harus survive membawa China ke cita-cita sosialisme. Deng Xiaoping sebagai pemimpin generasi kedua dan menjadi peletak dasar sebuah China modern mencoba memahami duduk soal tersebut, yakni membuat kompatibel antara PKC dan China yang modern.

Prof Louis Putterman, sinolog dari Amerika Serikat, membaca Deng Xiaoping dan pembangunan ekonomi yang dijalankan sebagai dua sisi dalam satu mata uang. Apa yang dibangun China setelah tahun 1992 bukan lagi sosialisme pasar, melainkan kapitalisme pasar terkendali. Model ekonomi yang diterapkan lebih mengarah pada ekonomi campuran antara sistem sosialis dan kapitalis.

Apabila sebelumnya sektor publik (BUMN) mendominasi perekonomian negara, kini sektor swasta, baik asing maupun domestik, yang lebih dominan. Pemerintah China, meskipun demikian, tetap menyebut pembangunan ekonominya sebagai ekonomi pasar sosialis.

Pada dasarnya Deng Xiaoping bukanlah tipe seorang ideolog. Mau kucing hitam atau kucing putih tidak menjadi soal, yang penting kucing bisa menangkap tikus. Seperti itulah Deng. Seorang pragmatis. Sasarannya bukan pada format, melainkan pada materi. Begitu pula dalam pembangunan ekonomi. Apakah yang dijalankan sudah keluar dari definisi sebuah sistem, tidaklah menjadi penting. Pembangunan ekonomi harus sukses.

Berdasarkan struktur sosioekonomi, pada tahun 1998 setidaknya 65 persen bisnis China berada di tangan perusahaan swasta dan 35 persen di tangan BUMN. Di negara-negara Barat yang kapitalis bisnis swasta menguasai 75-80 persen perekonomian nasional.

Pada akhir tahun 2006 terdapat 4,9 juta bisnis swasta, dengan nilai investasi 7,5 triliun yuan. Perusahaan swasta bertambah kuat posisinya setelah adanya kepastian hukum bagi kepemilikan pribadi. Undang-undangnya sudah diteken oleh badan legislatif China dan berlaku efektif tanggal 1 Oktober 2007.

Eksperimen PKC
“Kita membangun sosialisme yang cocok dengan situasi dan kondisi China,” kata Deng yang berupaya melokalkan Marxisme. “Tugas utama kita adalah mengembangkan unsur-unsur produktif, memberantas kemiskinan, membangun sebuah negara yang kuat, meningkatkan taraf hidup rakyat. Tidak ada sosialisme yang nestapa. Sosialisme dicirikan bukan oleh kemiskinan yang dibagi rata, melainkan kesejahteraan yang dinikmati bersama-sama.”

Lebih lanjut ia mengakui konsep sosialisme yang diterapkan sebelumnya tidak tepat. “Kalau kita mempraktikkan egalitarianisme—apa yang kita sebut makan dari piring besar yang sama— maka tidaklah mungkin taraf hidup masyarakat dinaikkan dan inisiatif mereka ditumbuhkan.”

Deng memprediksi gagasannya membangun China modern akan tercapai saat China merayakan 100 tahun berdirinya Republik Rakyat China. Saat itulah China sampai pada kondisi sosialisme yang matang. Itu berarti China siap meletakkan dasar bagi terwujudnya komunisme di masa depan.

Untuk membangun dan mengamankan gagasannya, Deng butuh stabilitas politik lewat PKC yang kuat. Kalau tidak, akan terjadi disintegrasi nasional dan konflik di dalam militer. PKC yang pada tahun 2007 memiliki 73 juta anggota kemudian mengalami perubahan.

Salah satu indikasi berubahnya PKC adalah seperti apa yang dialami Chen Guohua. Ia menang mutlak dalam pemilihan kepala daerah Longxing, di kota otonom Chongqing. Chen harus berupaya benar memenuhi janji kampanyenya, yakni meningkatkan PDB empat kali lipat dalam tiga tahun karena sepertiga dari 900 anggota partai di Longxing ini menyoroti kinerjanya.

Longxing merupakan satu dari 200 daerah di Chongqing, Sichuan, dan Hubei, di mana pemimpin PKC dipilih secara langsung, sebagai bagian dari eksperimen PKC mengikuti perkembangan zaman. Pemilihan langsung yang diikuti banyak calon serta disertai masa kampanye telah diujicobakan di lebih dari 90 persen komite desa di seluruh negeri.

Kejutan lain dari PKC adalah diangkatnya Wan Gang, seorang ahli hematologi lulusan Perancis yang bekerja selama satu dasawarsa pada perusahaan mobil Audi, menjadi menteri riset dan teknologi. Sementara itu, Chen Zhu, seorang foreign associate pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat, diangkat menjadi menteri kesehatan. Kedua orang tersebut menjadi nonkomunis pertama yang duduk di pemerintahan sejak China membuka diri dan mereformasi ekonomi pada tahun 1978.

Itulah wajah PKC yang sedang berubah. Sekolah Partai Komite Sentral PKC yang terletak di belahan barat Beijing juga mengalami banyak penyesuaian, baik dalam kurikulum maupun kebijakan. Premis Gordon Chang bahwa PKC tidak kompatibel dengan China modern akan berujung pada jatuhnya rezim komunisme pada tahun 2011 seperti yang ia prediksi, atau justru melahirkan sebuah sistem politik komunisme baru made in China? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (F Harianto Santoso/ Litbang Kompas)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: