Pertemuan PECC; China, Memaksa Semua Negara untuk Siaga

Doty Damayanti
Kamis, 10 Mei 2007

kompas-cetak175

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/10/ekonomi/3523077.htm

China memang telah mengubah wajah dunia. Pesatnya pertumbuhan ekonomi di negara itu menyeret negara-negara lain untuk siaga. Dalam pertemuan Pacific Economic Cooperation Council atau PECC ke-17 di Sydney, Australia, 1-2 Mei, pengaruh China terhadap perubahan relasi antarnegara di kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu topik pembahasan.

PECC adalah cikal bakal Forum Kerja Sama Asia Pasifik (APEC). Pertemuan di Sydney kemarin merumuskan sejumlah agenda yang akan dibawa dalam pertemuan 21 pemimpin ekonomi APEC, yang juga akan diadakan di kota yang sama pada September nanti.

APEC, merunut pada sejarahnya, didirikan karena adanya kesepahaman di antara negara-negara Asia Pasifik bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan itu menunjukkan kecenderungan adanya saling ketergantungan.

APEC pun sepakat untuk saling bantu guna mengatasi kesenjangan yang mungkin muncul. Setelah isu pasar bebas, negara-negara APEC dihadapkan pada faktor Sang Naga (China).

Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi China bertahan di dua digit dengan kecenderungan terus naik di atas 10 persen. Pusat Statistik China akhir April lalu merilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2007 yang sudah mencapai 11,1 persen. Angka itu bahkan jauh di atas periode yang sama tahun 2006, yaitu sebesar 10,4 persen.

Tidak satu negara pun yang disebut sebagai Macan Asia (Jepang, Hongkong, Korea Selatan, atau Taiwan) mampu menyamai rekor pertumbuhan itu. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota APEC yang berasal dari Amerika Latin. Pertumbuhan PDB Meksiko, misalnya, tidak kunjung mencapai 5 persen.

Salah satu panelis dalam pertemuan PECC, Profesor John Wong, periset dari National University of Singapore, mengemukakan, pertumbuhan China yang begitu pesat nyaris tidak terpengaruh oleh pelambatan ekonomi global. Pintu pasar bebas yang dibuka oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin memperdalam integrasi regional maupun global bagi China.

Tahun 2006, nilai investasi asing (foreign direct investment) di China sudah mencapai 60 miliar dollar AS. Sementara di tahun yang sama, total investasi asing yang masuk keenam negara Amerika Latin (Argentina, Brasil, Cile, Kolombia, Meksiko, dan Venezuela) hanya sekitar 42 miliar dollar AS.

Wong pun menggambarkan posisi China yang sangat strategis dalam jejaring produksi global sebagai pabrik dunia. Dengan upah buruh yang rendah, seluruh rangkaian produksi barang-barang massal akan menjadi sangat murah jika dilakukan di China. “China telah mengubah paradigma Made in Asia menjadi cukup Made in China,” ujar Wong.

Hanya butuh lima tahun bagi China untuk menempatkan dirinya sebagai top produsen untuk berbagai jenis produk unggulan, mulai dari telepon seluler, komputer, berbagai produk elektronik, sampai mobil.

Sebagai contoh, tahun 2006, China memproduksi 480,1 juta telepon seluler. Jumlah itu naik 58,2 persen dibandingkan dengan tahun 2005. Di tahun yang sama, China memproduksi 93,4 juta perangkat komputer. Naik 15,5 persen dari tahun sebelumnya.

Angka produksi itu berbanding lurus dengan angka ekspor China. Tahun 2002, angka ekspor China 325,6. Di tahun 2006, angka ekspor sudah naik tiga kali lipat menjadi 969. Tidak satu negara pun di dunia yang luput sebagai tujuan ekspor China.

Negara-negara yang menjadi sasaran ekspor utama produk China antara lain Amerika Serikat (21,1 persen), Uni Eropa (18,7 persen), dan Jepang (9,5 persen). Angka-angka itu hanya sebagian ilustrasi dari pertumbuhan ekonomi China yang begitu mencengangkan.

Pemasok dana investasi
Bukan hanya itu, dengan cadangan devisa yang mencapai 1,2 triliun dollar AS, China bahkan berancang-ancang akan menjadi penyedia dana investasi terbesar di dunia.

Laporan yang diturunkan oleh The Asian Wall Street Journal akhir April lalu menyebutkan, Pemerintah China sudah berupaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan ekonominya di level yang tidak terlalu “mengganggu” Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pemerintah mendorong perusahaan-perusahaannya untuk lebih mengoptimalkan pasar domestik. Insentif pajak dan kebijakan yang terkait untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen di dalam negeri juga diterapkan untuk mendorong daya beli. Namun, langkah tersebut belum menunjukkan hasil.

Tidak bisa dimungkiri pertumbuhan ekonomi yang sangat menguntungkan China itu menjadi “ancaman” bagi negara-negara lain, di kawasan Asia Pasifik. Ancaman kesenjangan pertumbuhan ekonomi itu semakin diwaspadai. Surplus perdagangan yang dialami China dengan Amerika Serikat, misalnya, mulai memunculkan friksi antara kedua raksasa ekonomi tersebut.

Tak kurang dari Menteri Perdagangan Australia Warren Truss, yang hadir dalam pertemuan PECC kemarin, menyayangkan langkah panik Amerika Serikat yang berusaha melindungi industrinya dari serbuan produk China dan negara-negara Asia lainnya.

“Ada kecenderungan menyalahkan China sebagai penyebab kegagalan daya saing industri mereka. Saya kira bukan langkah yang bijak bagi Pemerintah AS untuk menciptakan penghalang,” kata Warren.

Ia menambahkan negara-negara seperti Amerika Serikat ataupun Australia tidak akan mampu berhadapan dengan negara yang memiliki kemampuan industri massal. Maka, lanjut Warren, jalan keluarnya adalah mengembangkan produk yang sulit untuk dihasilkan oleh industri massal.

Meskipun begitu, Australia tetap tidak bisa menutupi kekhawatirannya atas China. Dalam sesi Energi dan Lingkungan di pertemuan PECC itu, panelis dari Australia justru menuding China telah mengabaikan keselamatan lingkungan, semata demi mengejar pertumbuhan ekonomi.

Profesor Warwick McKibbin, periset dari Australian National University, menyatakan, penggunaan batu bara secara besar-besaran oleh China telah menghadapkan dunia pada ancaman emisi karbon yang semakin besar. “China saat ini menjadi penghasil emisi karbon kedua setelah Amerika Serikat, tetapi dalam waktu dekat posisi AS akan digeser,” ungkap McKibbin.

Ia mengusulkan agar China dikenai semacam “denda” untuk emisi karbon berlebih yang dihasilkan untuk mencegah meningkatnya pemanasan global.

Gagasan itu serta-merta dinilai delegasi China sebagai upaya menjegal pembangunan ekonomi mereka. Qiang Liu, Kepala China Energy Research Institute, dengan berapi-api mengatakan bahwa China membutuhkan energi murah dalam jumlah besar untuk membantu pertumbuhan ekonominya.

“Kami adalah negara yang sedang tumbuh, apa yang dilakukan China lima tahun terakhir ini terkait emisi karbon tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah dilakukan negara maju 20 tahun sebelumnya,” kata Qiang.

Begitulah, perdebatan di ruang konferensi itu mencerminkan adu kekuatan di antara kekuatan ekonomi besar.

Membangun relasi
Jusuf Wanandi, delegasi PECC dari Indonesia, menyatakan, faktor China akan ikut mengubah relasi antarnegara di wilayah Asia Pasifik.

“China begitu intens melakukan pendekatan dengan sesama negara Asia. Dalam sebulan kita ketemu pihak Amerika Serikat hanya 15 kali, sedangkan dengan China bisa 150 kali. Dalam 10 tahun lagi, jangan-jangan kita sudah pakai bahasa China sebagai pengantar,” kata Jusuf.

Ucapan itu mengisyaratkan, Amerika Serikat (dan sekutunya, seperti Australia dan Kanada), yang selama ini menjadi kiblat kerja sama ekonomi di Asia Pasifik, terancam akan ditinggalkan jika tidak bersedia mengakui posisi China.

Amerika Serikat dinilai terlalu banyak mencurahkan perhatian ke Timur Tengah dan menyepelekan perkembangan yang sedang terjadi di Asia Pasifik.

Laporan Standing Committee PECC menyebutkan, meskipun Amerika Serikat telah ikut dalam relasi ekonomi di wilayah Asia Pasifik sejak tahun 1989, dorongan yang mampu dihasilkan terlalu kecil. Sebaliknya, perkembangan di Asia Timur tanpa kehadiran Amerika Serikat maju dengan sangat pesat. Lagi-lagi karena faktor China sebagai stimulator.

Dengan negara-negara Amerika Latin pun China mulai membuka akses untuk kerja sama yang terkait pemanfaatan sumber daya alam karena dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat, defisit bahan baku harus bisa diatasi.

Memprediksikan AS bertahan atau dikeluarkan dari arena kerja sama Asia Pasifik mungkin terdengar mengerikan. Oleh karena itu, PECC menggagas agar dibentuk satu kaukus baru dengan motornya adalah negara-negara Asia Timur.

Kaukus ini diharapkan bisa menjembatani kemunculan China sebagai adidaya ekonomi baru secara damai.

Standing Committee PECC akan membawa usulan itu untuk dibahas di pertemuan para pemimpin ekonomi. Pertanyaannya, seberapa besar Amerika Serikat mampu berlega hati dan menyambut usulan itu?

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: