Perjalanan 16 Jam ke Rumah

Simon Saragih
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:39 WIB

kompas-cetak197

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02391939&channel=2&mn=44&idx=44

Tahun Baru Imlek adalah momen paling penting dalam kehidupan warga China umumnya. Ini lebih kurang sama dengan Idul Fitri bagi umat Islam dan hari Natal bagi umat Kristen. Itulah mengapa jutaan warga seperti ingin segera tiba di rumah mereka sebelum 6 Februari ini.

Setidaknya ada 200 juta warga yang akan menempuh perjalanan jauh, bahkan ada yang harus menempuh ribuan kilometer dari provinsi di pantai-pantai timur dan selatan. Wilayah ini memang menjadi magnet bagi ratusan juta warga China dari pedalaman untuk mencari nafkah.

Ini mirip dengan suasana arus mudik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun, di Pulau Jawa hanya ada sekitar 10 juta pemudik. Ini tidak seberapa dengan jumlah pemudik di China, yang dikatakan sebagai migrasi temporer terbesar di dunia. Jumlah pekerja migran di seluruh dunia saja sekitar 75 juta jiwa, kalah jauh dari pekerja migran di dalam wilayah China yang lebih dari seratus juta jiwa.

Bukan hanya liburan, momen Imlek adalah saat yang paling ditunggu-tunggu karena merupakan masa liburan paling langka dalam setahun. Tidak heran jika jutaan warga antusias antre panjang memadati bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Apa daya, Imlek kali ini mungkin adalah yang terburuk di zaman modern China, setidaknya dalam 50 tahun terakhir.

Bayangkan, di dalam keadaan cuaca normal saja warga sudah sangat kesulitan mencapai tujuan dan terpaksa berjejalan dengan para penumpang lain dengan aksi saling sikut. Tidak sedikit yang menjadi korban karena berdesak-desakan dan bahkan ada yang tewas karena kecelakaan transportasi.

Bisa dibayangkan betapa parah keadaan di saat sekarang ini, khususnya di provinsi tengah dan timur China yang sedang tertimpa cuaca musim dingin terparah, termasuk badai salju terparah dalam 50 tahun terakhir.

Antusiasme mudik memang terbilang gila. Walau sudah kecil kemungkinan untuk mudik, sekitar 800.000 warga rela antre di stasiun kereta api Guangzhou saja. Padahal, musuh yang harus mereka hadapi tidak saja para pencopet seperti biasanya.

Kali ini, suhu ekstra dingin pun menghadang. Pejabat setempat sudah mengingatkan bahwa para pemudik sebaiknya pulang ke rumah mereka masing-masing hingga cuaca membaik. Namun, sekitar 400.000 orang masih tetap rela menunggu di stasiun Guangzhou.

“Saya hanya punya 10 hari masa libur dalam setahun, saya harus berkumpul dengan saudara-saudari,” kata Wang Hesan, seorang buruh pabrik yang menunggu di stasiun kereta api di Guangzhou. “Saya punya sahabat, keluarga, dan anak-anak yang juga berkumpul di rumah. Saya harus berangkat,” katanya.

Namun, dari sekitar 400.000 orang lainnya di Guangzhou dan di tempat lain, ada yang bertekad berjalan kaki. Media-media di China menyebutkan, puluhan penumpang sebuah bus yang terjebak salju selama empat hari di jalan bebas hambatan di Provinsi Hubei memilih untuk berjalan kaki. “Mereka memilih jalan kaki untuk tiba di rumah mereka di sekitar Provinsi Guangdong juga,” demikian harian China Daily edisi Kamis (31/1).

Dua orang berusia sekitar 52 tahun, dengan nama panggilan Zhan, beserta istrinya memilih jalan kaki. Pasangan ini dijemput di perbatasan Guangzhou-Hubei oleh anak mereka. Kebetulan di perbatasan Guangzhou-Hubei, salju tak lagi begitu tebal. “Mereka berjalan menembus hujan dan salju. Bibir mereka sudah berubah menjadi ungu karena kedinginan dan benar-benar sangat penat,” demikian China Daily.

Seorang mahasiswa di Hubei mencoba berjalan dengan menggunakan ski untuk menempuh perjalanan 200 kilometer agar bisa sampai di rumahnya yang berjarak 200 kilometer melewati jalan bebas hambatan.

“Ia menyewa atau meminjam tongkat ski dan perlengkapan lainnya, membawa air, makanan, dan meluncur di jalan tol yang sudah tebal dengan salju,” tulis China Daily. Ia kemudian kepergok polisi dan dibawa ke terminal bus terdekat.

Du Dengyong, dari kota Shenzhen, berjalan 16 jam untuk menjemput pacarnya yang naik bus, tetapi terjebak salju di Hubei. Namun, pria berusia 24 tahun ini terpaksa dirawat di rumah sakit karena hipotermia akibat kedinginan berlebihan menyerang tubuh.

Maklum, rasa ingin bertemu pacar, anak, suami, istri dan keluarga begitu tinggi sehingga mengalahkan rasa takut akan bahaya yang mengancam hidup.

Rusak dan rugi
Namun, salju tak saja membuat mereka yang hendak mudik terganggu. Aktivitas ekonomi juga terganggu, seperti pasokan bahan makanan dan kegiatan produksi. Kemacetan aktivitas sekitar 105 juta warga China telah menyebabkan kerugian sekitar 7,5 miliar dollar AS.

“Bencana ini telah memukul begitu dahsyat dan skalanya meluas. Kerugian besar sudah terjadi dan belum pernah terjadi sebesar ini akibat bencana,” kata Zou Ming, Wakil Kepala Badan Bantuan Bencana dari Departemen Urusan Sipil di Beijing.

“Bencana ini telah memberi dampak serius bagi perekonomian China,” kata Zhu Hongren, seorang ekonom senior dari Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi. “Namun, perekonomian China begitu besar dan dampak negatif ini hanya berlangsung sementara,” kata Hongren, seraya menambahkan, ekonomi China akan tetap melaju dengan pertumbuhan sekitar 10 persen.

Kerugian juga terjadi karena terganggunya sarana transportasi. Berdasarkan keterangan pejabat jawatan kereta api, Zhao Chunlei, sekitar 5,8 juta penumpang telah tertunda berangkat sejak 25 Februari 2007. Ini adalah akibat penundaan keberangkatan 2.850 kereta dan pengalihan sekitar 800 kereta.

Menurut pejabat penerbangan China, Wang Ronghua, sekitar 3.250 penerbangan telah dibatalkan, sekitar 5.550 penerbangan ditunda keberangkatannya dan 300 penerbangan kembali ke bandara asal.

Bukan perubahan iklim
Sebagaimana telah diberitakan, bencana akibat badai salju ini disebabkan suhu dingin yang biasa muncul di musim dingin dan juga akibat musim La Lina. “La Nina mengakibatkan udara lembab di China selatan, yang mengakibatkan salju. Ini adalah akibat dari sirkulasi abnormal atmosfer dan fenomena La Nina,” kata Dong Wenjie dari Pusar Cuaca Nasional kepada People’s Daily.

Ini adalah badai salju terburuk dalam 50 tahun terakhir. Diramalkan, badai salju ini berlanjut hingga Tahun Baru Imlek lewat, bahkan berlanjut hingga pertengahan tahun 2008 dan diperkirakan akan mengganggu penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2008 di Beijing.

Ahli iklim dari Australia, Penny Whetton, membenarkan analisis itu. Whetton adalah salah satu anggota Panel Perubahan Iklim PBB.

Hampir tidak ada yang bisa dilakukan China yang memang tidak berpengalaman soal badai salju, apalagi untuk provinsi di selatan dan timur.

Sejauh ini yang bisa dilakukan adalah mengimbau warga untuk tetap tenang. Imbauan ini dilakukan Perdana Menteri Wen Jiabao, yang mengunjungi daerah-daerah yang terkena badai salju. Presiden Hu Jintao juga turun ke lapangan dengan mengunjungi daerah yang terkena salju dan memberikan penghiburan kepada rakyat lewat televisi.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: