Pelajaran dari China dan India

M Sohibul Iman
Sabtu, 11 Februari 2006

kompas-cetak198

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0602/11/ekonomi/2427415.htm

Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler dan tumpah ruahnya penanaman modal asing (foreign direct investment-FDI) ke China pernah membuat kagum Wakil Rektor Universitas PBB di Tokyo, Ramesh Thakur. Dia memandang China telah jauh melejit sepertinya tak terkejar oleh India (The Japan Times, 27 Januari 2003).

Akan tetapi, selang delapan bulan, Thakur meralat kekagumannya. Dia mengatakan, terlalu cepat membuat konklusi semacam itu. Pasalnya, Thakur lebih mendasarkan konklusinya pada melimpahnya FDI ke China, lebih dari 10 kali lipat. Itu pertanda China memiliki keunggulan dan optimisme yang jauh lebih baik dibanding India.

Baru kemudian Thakur menyadari bahwa itu terburu-buru, terutama setelah membaca analisis Khanna dan Huang (keduanya dari Sloan School of Management, MIT) pada Foreign Policy edisi Juli-Agustus 2003.

Indonesia sejak pertengahan tahun 1980-an menerapkan kebijakan liberalisasi terhadap FDI. Kebijakan itu kini makin gencar karena pemerintah berkepentingan menyerap pengangguran. Oleh sebab itu, menjadi penting mengevaluasi secara kritis peran FDI bagi keberlanjutan industrialisasi kita.

Penafsiran
Di era di mana batas-batas wilayah menjadi kurang bermakna bagi pergerakan manusia, barang, dan modal, maka pusat- pusat pertumbuhan ekonomi dapat berpindah-pindah ke tempat yang memiliki keunggulan lokasi (L-advantage). Mungkin karena murahnya faktor produksi dan adanya berbagai insentif fiskal. Lokomotifnya adalah FDI yang umumnya perusahaan multinasional (MNC). MNC ini menjadi daya tarik karena membawa modal dan teknologi dan manajemen sekaligus. Ketiganya dibutuhkan terutama oleh negara berkembang.

MNC datang ke suatu negara bila keunggulan-keunggulannya tadi (Ownership and Internalization advantages-OI-advantages) bersinergi dengan L-advantage negara berkembang. Diasumsikan akan terjadi simbiosis mutualisme, di mana MNC mendapat manfaat dari eksploitasi L-advantage, dan negara berkembang dari tumpahan (spillover) OI-advantages. Tidak heran ketika MNC melimpah datang ke suatu negara, seperti kasus China, sering ditafsirkan sebagai optimisme bagi masa depan perekonomian negara itu.

Penafsiran semacam itu tentu saja tidak sepenuhnya salah, tetapi kekaguman berlebihan dan menganggap FDI satu-satunya cara menuju kemajuan ekonomi juga berbahaya. Dibanding China yang lebih banyak mengundang MNC masuk ke negaranya, India justru menggunakan arm’s length strategy. Dengan strategi ini India tidak terlalu dominan mengundang masuk MNC ke negaranya. India menjadikannya mitra yang tetap berada di luar negeri bagi perusahaan lokal melalui skema Original Equipment Manufacture (OEM) atau Own Design Manufacture (ODM).

Strategi India memungkinkan sejak awal tumbuhnya perusahaan lokal yang kelak menjadi pemain global dengan merek sendiri (own brand manufacture-OBM). Terlebih India memiliki SDM berkualitas tinggi. Di bidang piranti lunak ada sekitar 350.000, sedangkan China hanya 30.000-35.000 (tahun 2003). Ktika L-advantage China melemah, maka MNC akan hengkang. Bila itu terjadi di saat China belum mampu menumbuhkan perusahaan lokal yang tangguh, keberlanjutan prestasi ekonominya menjadi dipertanyakan.

Hobday (2000) membuat analisis sistematis tentang perbedaan antara negara yang dikendalikan FDI (Singapura dan Malaysia) dengan yang memakai pola arm’s length (Korea dan Taiwan). Korea dan Taiwan jelas menghasilkan perusahaan-perusahaan lokal berkelas internasional. Korea memiliki banyak Chaebol, sedangkan Taiwan didominasi oleh perusahaan kecil dan menengah.

Di sisi lain Singapura dan Malaysia, dilihat dari ekspor produk manufakturnya, terutama yang berkandungan teknologi tinggi, masih didominasi oleh perusahaan asing. Bahkan Singapura menerapkan strategi lanjutan agar MNC tidak hengkang. Merangsang MNC untuk meningkatkan peran strategisnya dari sekadar basis manufaktur (manufacturing base menjadi business headquarter (kantor pusat) bagi Asia Tenggara, bahkan Asia dan dunia.

Selain insentif fiskal berupa berbagai kemudahan fasilitas dan pajak, Singapura menyediakan insentif non-fiskal, yakni penyediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi dari level terendah sampai yang tertinggi. Memiliki pusat-pusat penelitian dan pengembangan (R&D) spesialis (Mani, 2000).

Akan tetapi, kekhawatiran MNC akan hengkang tetap ada. Oleh karena itu, Singapura mulai menumbuhkan wirausahawan dan perusahaan lokal. Sementara Malaysia saat ini masih dominan pada insentif fiskal. Ini dapat dimengerti karena Malaysia relatif belakangan dibandingkan Singapura dalam menarik FDI. Strategi lanjutan Malaysia masih perlu pembuktian. India lebih mirip Korea dan Taiwan, sementara China mirip Singapura dan Malaysia.

Angka-angka statistik, yang umumnya terkait kondisi makro-ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto (PDB), dan jumlah FDI, menunjukkan superioritas China dibanding India. Namun di tingkat mikro, India justru lebih dinamis dan efisien. India lebih mampu melahirkan perusahaan lokal berkelas internasional.

Sebuah pelajaran
Meski tidak sebebas Singapura dan Malaysia, Indonesia tergolong bebas terhadap FDI, terutama dibanding Korea dan Taiwan. Ada dua tonggak liberalisasi, pertama, pada pertengahan 1980-an ketika pemerintah mengubah daftar positif investasi menjadi daftar negatif investasi, yang makin memperluas sektor-sektor yang terbuka bagi FDI. Kedua, pada paruh pertama tahun 1990-an ketika pemerintah mengizinkan kepemilikan 100 persen FDI. Bersamaan dengan itu, pemerintah terus menggalakkan berbagai kemudahan bagi FDI, khususnya melalui insentif fiskal. Saat ini usaha itu makin gencar dilakukan.

Di tengah makin terbukanya terhadap FDI, ternyata Indonesia tidak memiliki strategi yang baik dalam memanfaatkan FDI. Kita terus terjebak pada pemanfaatan FDI untuk kepentingan jangka pendek, terutama menciptakan lapangan kerja. Sementara kepentingan jangka panjang berupa penumbuhan perusahaan lokal berkelas global melalui pemanfaatan tumpahan OI-advantages masih terabaikan.

Krisis ekonomi mengajarkan betapa ketika L-advantages Indonesia makin bersaing dengan negara lain, seperti China dan Vietnam, hengkangnya FDI terus mengancam dan pemanfaatan FDI makin sulit dilakukan. Kita mesti memikirkan strategi yang lebih jelas.

Pertama, tidak menjadikan FDI sebagai tumpuan utama proses industrialisasi. FDI hanya pelengkap, yang utama adalah melalui perusahaan lokal. Kedua, serius memikirkan pemanfaatan OI-advantages untuk meningkatkan kemampuan teknologi perusahaan lokal. Ketiga, menggalakkan insentif non-fiskal, seperti penyediaan SDM berkualitas dan fasilitas R&D spesialis. Insentif non-fiskal ini juga sangat dibutuhkan untuk mencapai langkah kedua, sebab pemanfaatan OI-advantages mensyaratkan absorptive capacity yang memadai.

M Sohibul Iman Wakil Rektor dan Pejabat Rektor Universitas Paramadina

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: