Mengendalikan Angin Finansial Pertikaian AS-RRC

Yanuar Rizky
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:40 WIB

kompas-cetak193

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02404217&channel=2&mn=44&idx=44

Akhir tahun 2007, Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan menyatakan, “Seperti sering kami kemukakan di China, ada peluang emas untuk mengubah kondisi yang buruk menjadi sesuatu yang baik.”

Lobi Menteri Keuangan AS Henry Paulson ke Beijing pada 13 Desember 2007 untuk meminta China mendinginkan suhu pasar finansial global belum direspons positif. Perang moneter antara The Fed dan Bank Sentral China (PBC) masih akan terus berlangsung.

Berbeda dengan krisis pasar finansial 2005, di akhir tahun tersebut Beijing menyiratkan akan mendinginkan suhu pasar. Realisasinya, revaluasi yuan terhadap dollar AS di awal tahun 2006 yang memicu mendinginnya suhu pasar ditandai meredanya spekulasi harga minyak.

Di tahun 2007, sangat jelas China memberi sinyal lebih siap keluar dari “jebakan” off side “harga minyak” dibalik strategi moneter The Fed. Suka atau tidak, China adalah raw model bangsa pembelajar di era globalisasi modern, sama halnya dengan restorasi Meiji di Jepang di era sebelum Perang Dunia.

Peta pasar finansial
Pertumbuhan devisa (30 September 2007) dibandingkan dengan tahun sebelumnya, setelah PBC rate naik 28 poin dan Fed rate turun 50 poin, menunjukkan AS turun 81,14 persen, China naik 44,14 persen, Indonesia naik 24,84 persen, dan Jepang naik 7,30 persen. Lebih dari setengahnya dana yang keluar AS diserap China. Pergeseran tersebut mengonfirmasi perekonomian dunia dilanda aksi ambil untung dari selisih jual-beli instrumen pasar finansial (financial netting).

Sebagaimana telah saya tulis di Kompas (29 Desember 2007), The Fed menghidupkan instrumen “RePO” (surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali) dan securities lent to dealer (surat berharga yang dipinjamkan ke dealer untuk diperjual-belikan) sebagai inisiatif teknikal dalam mengatasi kontraksi penurunan Fed rate. Dampaknya, rekening devisa The Fed (tahun ke tahun) per tanggal 27 Desember 2007 lebih baik dari posisi September 2007, yaitu hanya turun 1 miliar dolar AS (negatif 14,57 persen).

Di sisi lain, China semakin terbuka mengambil strategi teknikal. PBC kembali menaikkan rate sebesar 18 poin (21 Desember 2007). Tindakan ini, menantang posisi The Fed (20 Desember 2007) yang mengumumkan realisasi lelang fasilitas pinjaman langsung tunai jangka pendek (term auction facilities/TAF).

Fasilitas TAF menyerap permintaan melebihi penawaran (over subscribe) sebesar 2,88 kali dari nilai penawarannya (miliar dollar AS). Di samping menantang, PBC (31 Desember 2007) melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko ketidakstabilan arus dana jangka pendek, dengan jalan menyuntik tambahan modal ke Bank BUMN China sebesar nilai TAF.

Hal itu dikarenakan PBC melihat arah strategi The Fed adalah “menyerap” financial netting dari fluktuasi bursa negara lain. Di mana, pertama, belum ada RePO yang dieksekusi kembali (reverse RePO) dari aktivitas dealer di pasar domestik. Dan kedua, reverse RePO dari aktivitas pasar internasional meningkat 2,75 miliar dollar AS dibandingkan dengan minggu sebelumnya dan 12,33 miliar dollar AS dari tahun sebelumnya.

Dari selisih naik-turun indeks di bursa AS dan internasional tersebut, The Fed mampu memperbaiki nilai cadangan. Devisa 24 Januari 2008 meningkat 166 juta dollar AS dibandingkan tahun sebelumnya, yang dipicu naiknya pendapatan jual-beli surat berharga (treasury cash) sebesar 68 juta dollar AS.

Antara China dan AS
Amerika dan China memiliki kesamaan, yaitu memperkuat devisa dari financial netting. Perbedaannya, China menyalurkannya ke penguatan sektor riil (menyeimbangkan kredit ke sektor penyerap lapangan kerja dan memperkuat cadangan energi alternatif), sedangkan AS untuk memulihkan kepercayaan sistem finansialnya.

Tampaknya, kita masih puas menonton dengan risiko jadi korbannya. Faktanya, saat lelang TAF 1 (14-18 Desember 2007) dan TAF 2 (18-22 Januari 2008), posisi membuka jalan (open position) ke arah skenario capital gain telah terlihat. “Pancingan” aktivitas jual investor asing untuk menekan Indeks BEI (terendah 18 Desember 2007: 2.646,23) meningkat. Setelah itu menaik dan berulang menurun di 22 Januari 2008 (terendah: 2.294,52).

Keadaan ini menyebabkan, pertama, posisi akhir hari dari investor asing di periode tersebut justru lebih banyak membeli (net buting); dan kedua, di saat yang sama, kurs rupiah atas dollar AS juga memasuki open position melemah (Rp 9.314-9.356).

Realisasi ambil untung dari open position tersebut dilakukan setelah TAF terealisasi, ditandai naiknya indeks BEI 19-28 Desember 2007 (2.657,98-2.745,83). Posisi asing lebih banyak menjual (net selling dan kurs rupiah terhadap dollar AS terus melemah (Rp 9.387-9.429).

Padahal, untuk penyelesaian transaksi net buying 14-18 Desember yang jatuh tempo di 20-21 Desember (penyelesaian transaksi bursa T+3), seharusnya memperkuat nilai tukar rupiah. Berarti, sang bandar mengambil dua keuntungan sekaligus, yaitu membeli saat indeks ditekan turun untuk dijual saat indeks dikerek naik; dan ditambah nilai konversi saham berdominasi rupiah ke dollar AS dalam kisaran lebih tinggi.

Memperkuat cadangan
Implikasi dari skenario terburuk perang moneter global adalah bergeraknya nilai tukar sebagai titik awal terjadinya krisis (resesi) perekonomian riil itu sendiri. Faktanya, saat ini Indonesia telah mengalami keadaan ini. Hal ini dikarenakan posisi barang konsumsi masih bergantung pada impor.

Di titik ini, China dengan disiplin pertahanannya di pasar kurs tetap (fix rate yuan) mampu menahan terjadinya “sodokan” perang moneter terhadap perekonomiannya. Dengan demikian, PBC rate yang terus dinaikkan terus memperkuat cadangan devisa China itu sendiri. Inilah kesulitan The Fed dalam melakukan konsolidasi sistem finansialnya. Pasalnya, tidak mudah memanggil dana kembali pulang dan bertahan lama (tidak liar).

China saat ini menikmati posisi menyerangnya. Menyerap financial netting dan mengarahkannya ke penguatan sektor riil. Stabilnya rasio deposito atas kredit (LDR) dengan arus masuk financial netting di cadangan Devisa China adalah bukti bahwa negeri tirai bambu “menikmati fluktuasi, tanpa cemas akan terjadi krisis”.

Kejujuran adalah pelajaran yang kita harus petik dari kepemimpinan China. Xiaochuan mengatakan di depan kaum muda China, “Parameter finansial berpotensi mengarah ke missleading, karenanya jangan missreading.” Kalau itu ada, saatnya kita bergerak (meski terlambat). Bukan sekadar “genit” berlebihan atas prestasi finansial tak berakar.

Yanuar Rizky http://www.elrizky.net , Analis Independen – Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: