Mengapa Tiongkok Membalas Indonesia?

Teguh Imawan
Rabu, 08 Agt 2007

jp19

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=298202

Hubungan dagang Indonesia dan Tiongkok memasuki masa-masa sulit. Kedua negara itu kini terlibat perang saling melarang masuk produk impor. Pemerintah Tiongkok per Sabtu, 4 Agustus 2007, melarang semua impor produk makanan laut dari Indonesia karena ditemukan bahan kimia berbahaya (Jawa Pos, 5/8/2007).

Badan Pengawasan Kualitas, Pemeriksaan, dan Karantina Tiongkok dalam situsnya mengumumkan bahwa produk Indonesia terbukti, antara lain, mengandung merkuri, cadmium, dan metal. Bahan-bahan itu bisa mengakibatkan kerusakan saraf, kanker, dan penyakit lainnya.

Produk Indonesia itu juga dinilai mengandung nitrofural, bahan antibakteri yang berpotensi menimbulkan kanker. Namun, hingga kini tidak disebutkan tentang kasus-kasus individu yang terjadi akibat produk tersebut.

Larangan itu menyusul larangan beredar produk Tiongkok dari permen, pasta gigi, mainan, ban, sampai ikan oleh Indonesia dengan alasan yang sama, yakni mengandung bahan kimia berbahaya.

Tentu saja, tindakan Tiongkok tersebut terkesan sewot dan bernuansa “balas dendam” terhadap tindakan pemerintah Indonesia yang sedang gencar mempersoalkan keberbahayaan aneka produk impor asal Tiongkok, termasuk 26 jenis produk kosmetik yang dinilai mengandung merkuri yang berbahaya bagi manusia.

Futurisasi
Pertanyaannya, mengapa Tiongkok begitu agresif membalas Indonesia?

Pertama, semua itu tak bisa lepas dari upaya melindungi perusahaan Tiongkok yang telah berorientasi global. Sudah tak bisa dipungkiri, produsen Tiongkok begitu bersemangat mengembangkan pasar ke negara tetangga dengan berbantal kompetensi yang dibangun di dalam negeri.

Meminjam istilah Hermawan Kartajaya (2005), produsen produk-produk yang dilarang di Indonesia belakangan ini adalah kategori perusahaan extender, yakni perusahaan yang menggunakan keberhasilan di dalam negeri sebagai platform untuk melakukan ekspansi ke semua tempat dan negara (termasuk Indonesia).

Perusahaan extender secara efektif memperbesar profit mencari pasar-pasar yang serupa dengan negara asal mereka dalam hal preferensi konsumen dan kedekatan psikografis.

Namun, perusahaan extender itu sangat rentan bila menghadapi tekanan-tekanan kompetitor dalam medan persaingan di alam globalisasi karena akar kekuatannya hanya menghunjam pada pasar dalam negeri. Agar menjadi kompetitif, perusahaan tersebut harus mereposisi diri menjadi perusahaan contender.

Tipe perusahaan yang melakukan segala daya untuk mengembangkan kompetensinya di pasar global sehingga digdaya berduel head to head dengan perusahaan global lainnya. Lazimnya, dalam iklim persaingan global tiada henti yang sedemikian hebat, perusahaan contender dapat bertahan pada ceruk pasarnya.

Kondisi bertahan itulah yang membuat Tiongkok berada pada posisi leading ketika berdagang dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang.

Kedua, pada saat perusahaan contender dalam posisi terbelit masalah akibat produknya direspons negatif negara pasarnya, maka pemerintah Tiongkok mengambil strategi futurisasi. Dalam strategi seperti ini, negara menggunakan nilai (value) informasi untuk membuka mata kepada siapa saja akan lima tahap mengkreasi (value creation) dan merusak (value destruction) produk melalui piramida kekuatan informasi.

Dalam perspektif kekuatan informasi, lima tahap utama futurisasi itu adalah noise, data, informasi, knowledge, dan wisdom. Bila ingin menciptakan nilai positif, kelima tahap harus bergerak berjenjang dari noise, data, informasi, knowledge, dan wisdom. Arah sebaliknya berefek pada rusaknya citra produk.

Yang dimaksud noise adalah hasil observasi yang tidak tertata dengan baik dan tidak memiliki makna sama sekali. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa telah puluhan tahun aneka produk baik dari Indonesia maupun dari Tiongkok diduga mengandung bahan-bahan berbahaya, namun semuanya itu diacuhkan saja dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang bermakna.

Bila noise ditata dan disistematisasi menjadi kode-kode tertentu, observasi tersebut akan memiliki nilai dan karena itu berubah menjadi data yang berguna. Jika dikumpulkan, diolah, serta dikomunikasikan ke para stakeholder berdasar konteks dan acuan bersama, data itu telah beralih rupa menjadi informasi penting.

Ketika aneka macam zat berbahaya yang dikandung produk perusahaan contender Tiongkok dipublikasikan dengan gencar dan informasi itu dapat diakses melalui internet oleh konsumen seluruh dunia, maka informasi yang mengancam keberlangsungan bisnis perusahaan Tiongkok telah berada di depan mata dunia.

Bila informasi tersebut diproses dan diberi testimoni (kesaksian) secara terus- menerus, niscaya informasi itu membuahkan “kecerdasan” sehingga informasi bermetamorfosis menjadi knowledge (pengetahuan). Puncaknya, jika gugusan pengetahuan itu berakumulasi sehingga kuasa menyadarkan aspirasi dan mencerdaskan konsumen mengelola perubahan dari waktu ke waktu, niscaya wisdom telah tersemat dalam benak.

Konsumen
Ketiga, dalam konteks cekal-mencekal produk impor, pemerintah Tiongkok tampak berjuang memangkas laju tahap informasi agar tidak merembet ke tahap pengetahuan dan wisdom. Cara yang diambil adalah secepatnya memutar arah informasi menuju data dan noise dengan menempuh tindakan yang persis dengan Indonesia, yaitu mengumandangkan data dan informasi keberbahayaan produk makanan asal Indonesia.

Bisa dipahami pula kalau akhir-akhir ini melalui layar televisi, produk kosmetik merek bernuansa Tiongkok gencar menyiarkan iklan layanan masyarakat lewat ucapan tokoh Republik Mimpi, memberitahukan bahwa produknya tak mengandung merkuri (aman).

Mengapa tokoh Republik Mimpi dipilih? Ya, itu untuk membangun kesan agar konsumen Indonesia secerdas (kritis) pemeran Republik Mimpi. Inilah perang bisnis era globalisasi yang bersumbu kepada kekuatan informasi. Yang penting, di tengah hiruk adu strategi informasi itu, keamanan publik konsumen harus diutamakan. Teguh Imawan, direktur Kajian Media dan Literasi Televisi (KameliaTV), dan Tenaga Ahli Badan Informasi Publik Depkominfo

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: