Menanti China yang Bersih dan Segar

Myrna Ratna
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:39 WIB

kompas-cetak196

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02393523&channel=2&mn=44&idx=44

Tahun 2008 akan menjadi tahun penting bagi China karena tanggal 8 Agustus 2008 pukul 08.00 (angka delapan dianggap angka mujur bagi warga China) pesta akbar olimpiade akan dimulai.

Tak ada yang meragukan bahwa China akan mampu menyelesaikan pembangunan infrastruktur yang masif sebelum Agustus, seperti pembangunan sejumlah stadion raksasa yang megah, pembangunan sekitar 700 hotel berbintang, dan penambahan empat subway khusus untuk kepentingan olimpiade.

Namun, keraguan yang muncul justru terkait dengan isu lingkungan, seperti apakah tingkat kebersihan udara di China akan lebih baik sehingga Olimpiade Beijing tidak dikenang sebagai smoglympics? Mampukah China mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks dari tahun ke tahun. Dan, yang lebih penting lagi, bisakah upaya “penghijauan” dan “pembersihan” di China itu berkelanjutan setelah olimpiade usai?

Pemerintah China berupaya keras untuk menghilangkan kesan China yang “jorok dan polutif”. Citra yang sekarang sedang dibangun adalah China yang “hijau, bersih, dan prolingkungan”. Bahkan olimpiadenya pun dinamai “Olimpiade Hijau”.

Ini bukan perkara mudah. Setiap tahun kota-kota besar di China menyumbang sekitar 200 juta ton sampah. Dari jumlah itu, sekitar tujuh juta ton adalah sampah plastik, yang butuh waktu sangat panjang untuk bisa terurai di tanah. Sementara di provinsi-provinsi barat laut, seperti Gansu, sampah basah yang berasal dari sayuran menjadi masalah utama.

Sampah basah yang dihasilkan per tahun mencapai 30 juta ton. Sampah ini tak bisa digunakan sebagai pupuk karena mengandung bakteri, tak juga bisa dijadikan pakan karena mengandung pestisida, tetapi jika dibiarkan membusuk akan mengundang jutaan lalat, nyamuk, dan mengotori udara, sungai, serta air resapan tanah.

Pasukan kebersihan
Persoalan kebersihan dan udara bersih kini memang menjadi agenda nasional Pemerintah China, terlebih penyelenggaraan olimpiade hanya tinggal hitungan bulan. Kampanye habis-habisan untuk mewujudkan citra bersih kadang sampai memunculkan gagasan unik. Pemerintah lokal di Distrik Xigong, misalnya, seperti dikutip China Daily, menyediakan imbalan 1.000 yuan (sekitar Rp 1,2 juta) bagi setiap 2.000 bangkai lalat.

Jika Anda sempat naik kereta api bawah tanah di Beijing, alangkah berbedanya dengan kondisi kereta api di wilayah Jabotabek. Meski tak selicin kebersihan kereta-kereta di Singapura, kereta di sana umumnya terawat dan nyaman. Setiap kali akan sampai di stasiun pemberhentian, dari corong suara akan muncul kalimat pendek dalam bahasa Inggris yang menyebutkan nama stasiun bersangkutan, setelah itu akan disambung dengan pengumuman dalam bahasa Mandarin yang jauh lebih panjang.

Isinya berupa peringatan bagi para penumpang untuk tidak berebut keluar, berdesak-desakkan, dan menghalangi penumpang masuk. Peringatan ini terus diulang di setiap pemberhentian yang jarak tempuhnya hanya sekitar 2-3 menit. Suka atau tidak, cara ini cukup efektif untuk mendisiplinkan warga.

Tembok-tembok stasiun kereta ataupun bus umum juga dipenuhi peringatan untuk tidak meludah, tidak membuang sampah, dan kewajiban mengantre. Sementara petugas berseragam hampir ada di setiap sudut, mengawasi gerak-gerik calon penumpang. Muncul pertanyaan dalam hati, jika rakyat China yang jumlahnya sekitar 1,3 miliar itu bisa diatur dan mau disiplin, mengapa sulit sekali mengatur warga Jakarta untuk, misalnya, tidak bergelayutan atau duduk di atas atap bus atau kereta api?

Polusi
Bagaimana dengan persoalan kualitas udara di China? Begitu matahari terbit, yang terlihat adalah langit berkabut kelabu. Jarang warga setempat bisa menatap langit biru. Dengan kondisi seperti ini, China sering dibandingkan dengan Meksiko, negara yang tingkat polusinya tertinggi di dunia.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di China tidak dibarengi dengan kebijakan energi yang efektif dan prolingkungan. Perdana Menteri Wen Jiabao di hadapan Kongres Rakyat China tahun 2007 mengakui bahwa pola pertumbuhan ekonomi China tidak efisien akibat konsumsi energi yang eksesif dan polusi lingkungan yang serius. Pemerintah China gagal memenuhi target yang dicanangkan tahun 2006, yaitu mengurangi energi konsumsi per unit dari PDB sebesar 4 persen (hanya tercapai 1,23 persen) dan pengurangan polutan sebesar 2 persen.

Penggunaan bahan bakar batu bara yang sangat eksesif untuk menggerakkan roda industri China menjadi penyebab utama. Setiap tahun China sedikitnya membakar dua miliar ton batu bara. Hal ini membawa pada realitas yang sangat mengkhawatirkan, yaitu jumlah emisi karbon dioksida dari China diperkirakan pada tahun 2009 akan melewati rekor emisi CO Amerika Serikat yang saat ini tertinggi di dunia.

Bedanya dengan AS, China setidaknya mau mengukuhkan komitmennya melalui perjanjian internasional yang mengikat semacam Protokol Kyoto (diratifikasi tahun 2002). Akhir Desember 2007 Pemerintah Beijing mengeluarkan buku putih mengenai kebijakan energi. Pada intinya, kebijakan energi China akan mengutamakan “penghematan, keamanan, dan kebersihan” dengan tetap mengandalkan batu bara sebagai sumber utama bahan bakar, tapi akan “dipagari” oleh kebijakan pengamanan lingkungan dan konservasi energi.

Langkah nyata konservasi energi bisa dibuktikan lewat Olimpiade Hijau nanti. Rencananya, 20 persen pasokan listrik olimpiade akan diambil dari tenaga angin, sementara teknologi panas bumi (terrestrial heat) akan digunakan untuk pemanas dan pendingin udara (AC) bagi kompleks permukiman atlet seluas 400.000 meter persegi itu. Sekitar 80 persen lampu jalanan juga akan menggunakan energi matahari.

Kita tunggu saja Olimpiade Hijau bulan Agustus mendatang, dengan harapan China yang tetap bersih dan hijau setelah olimpiade.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: