Indonesia Protes Tiongkok; Buntut Larangan Impor Seafood

Senin, 06 Agt 2007

jp16

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=297997

JAKARTA – Keputusan Tiongkok menghentikan seluruh impor produk makanan laut (seafood) mulai Jumat (3/8) mengundang protes pemerintah Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melalui Departemen Luar Negeri (Deplu) mengirimkan nota diplomasi ke Beijing untuk menanyakan kepada pemerintah Tiongkok mengenai embargo tersebut.

Menurut Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Martani Husein, Indonesia tetap menilai produk makanan laut yang diekspor ke Tiongkok telah memenuhi seluruh persyaratan kesehatan, termasuk standar produk ekspor dunia.

“Nota diplomasi telah dikirim Sabtu (4/8). Mungkin baru Senin ini (6/8) kami mendapatkan jawaban. Sebab, kemarin weekend,” katanya.

Larangan impor seafood dari Indonesia itu diumumkan Badan Pengawas Kualitas, Pengujian, dan Karantina (General Administration of Quality Supervision, Inspection, and Quarantine/GAQSIQ) Tiongkok. Dalam pengumuman yang tercantum di situs resmi GAQSIQ sejak Jumat (3/8) disebutkan, seafood Indonesia mengandung toksin, patogen, serta bahan kimia yang bisa memicu penyakit kanker, saraf, dan gangguan kulit.

Martani menyatakan, surat resmi dari pemerintah Tiongkok kepada Indonesia belum diterima. “DKP juga tidak pernah mendapat surat peringatan tentang dugaan tercemarnya produk perikanan kita dari Tiongkok. Itu sebenarnya agak aneh karena negara lain selalu memberi peringatan, tidak tiba-tiba mengembargo seperti ini,” tegasnya.

Untuk menyikapi lebih jauh aksi boikot Tiongkok, hari ini, Departemen Perdagangan (Depdag) serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan pertemuan dengan DKP. Martani menjelaskan, dalam pertemuan itu, akan dibahas langkah-langkah mengantisipasi embargo produk perikanan oleh Tiongkok.

Saat dikonfirmasi tentang nota keberatan DKP, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Kristiarto Legowo menyatakan belum menerima surat maupun permohonan lisan dari DKP untuk megirimkan nota keberatan kepada pemerintah Tiongkok. “Kami sudah mendengar berita pelarangan tersebut. Tapi, hingga kini, kami belum mendapatkan surat atau telepon dari DKP yang meminta agar Deplu mengirimkan nota keberatan melalui Dubes RRT (Republik Rakyat Tiongkok),” jelasnya ketika dihubungi kemarin malam.

Namun, dia mengungkapkan, setelah mendapatkan surat itu, Departemen Luar Negeri segera memfasilitasi permohonan DKP. “Kami akan membantu proses diplomasinya agar masalah tersebut cepat selesai,” katanya.

Menurut dia, jika tidak secepatnya diklarifikasi, pelarangan tersebut akan berpotensi merugikan pengusaha kedua negara. Selain itu, hubungan RI-Tingkok terancam terganggu.

Sebelumnya, Martani menyatakan, nilai ekspor produk seafood Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 150 juta per tahun. “Produk perikanan kita yang dikirim ke Tiongkok berupa produk perikanan air laut. Biasanya ikan hidup, yakni kerapu dan kakap merah. Untuk perikanan darat, produk Tiongkok lebih unggul. Terlebih, mereka punya banyak danau dan sungai,” ungkapnya.

Keamanan produk perikanan Indonesia sebenarnya telah diakui di pasar dunia. Hasil inspeksi Uni Eropa pada Maret-April 2007 mengukuhkan keamanan produk perikanan Indonesia.

Pada 2007 ini, untuk membuktikan keseriusan Indonesia dalam keamanan produk perikanan, DKP telah mendatangkan empat alat penguji antibiotik dari Uni Eropa senilai Rp 5,2 miliar per unit. Alat uji tersebut akan dipasang di Jakarta, Makassar, Medan, dan Surabaya. Ada pun laboratorium uji mutu perikanan Indonesia terdapat di 40 kota.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia Herwindo berharap pemerintah Indonesia dan Tiongkok segera menyelesaikan penolakan produk perikanan Indonesia. “Tiongkok merupakan pasar potensial bagi Indonesia karena penduduknya banyak. Apalagi, tahun depan ada Olimpiade. Pasar Tiongkok harus kita rebut kembali,” tegasnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya DKP Made Nurjanah menyatakan, selain tahun depan ada Olimpiade, produksi perikanan Tiongkok sedang turun akibat banjir. Di Vietnam dan Filipina, produksi perikanan juga sedang turun akibat bencana badai. (ap/nue)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: