China Nyatakan Tidak Ada Perang Dagang

Rabu, 08 Agustus 2007

kompas-cetak189

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/08/ekonomi/3749128.htm

Jakarta, Kompas – Pemerintah China menyatakan, penghentian sementara impor produk ikan dari Indonesia bukan merupakan perang dagang. Produk ikan olahan dari Indonesia yang beredar di China dan ditemukan mengandung logam berat diperkirakan diekspor oleh eksportir ilegal.

Fakta itu terungkap dalam rapat antara Badan Karantina Departemen Pertanian dan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Departemen Kelautan dan Perikanan dengan delegasi dari General Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine (AQSIQ) China, Selasa (7/8) di Jakarta.

“AQSIQ menegaskan, penghentian sementara impor produk perikanan itu tidak ada kaitannya dengan produk China yang ditarik dari peredaran di Indonesia. Suasana rapat tadi amat kondusif kok,” ujar Kepala Badan Karantina Pertanian Syukur Iwantoro.

Syukur menjelaskan, berdasarkan uji sampel yang rutin dilakukan AQSIQ, sejak April lalu ditemukan residu merkuri dan kadmium melebihi ambang batas pada produk ikan olahan Indonesia yang beredar di China. Permasalahan ini membuat China menghentikan sementara impor produk ikan Indonesia.

“Pada rapat tadi, AQSIQ memberikan nama-nama perusahaan pengekspor produk yang diambil sampelnya. Ternyata pengekspornya tidak terdaftar di Ditjen P2HP, padahal eksportir resmi harus terdaftar,” ujar Syukur.

Data eksportir resmi
Terkait temuan itu, AQSIQ meminta Indonesia mengirimkan data eksportir resmi yang mengirimkan produk ikan ke China. “Mereka mengatakan, produk ikan dari Indonesia sebenarnya sangat mereka butuhkan. Dengan data eksportir resmi dari Indonesia, mereka akan lebih mudah mengatasi produk ekspor ilegal,” kata Syukur.

AQSIQ juga meminta Ditjen P2HP berkomunikasi langsung dengan karantina China yang menangani perikanan. Perwakilan Ditjen P2HP juga menjelaskan pada AQSIQ bahwa sistem pengawasan dan standar keamanan pada produk ikan olahan yang diekspor secara resmi dari Indonesia sudah harmonis dengan sistem dan standar di Uni Eropa dan Kanada.

“Badan Karantina dua negara saling menjelaskan skema pengawasan karantina yang berlaku di masing-masing negara. Skema yang berlaku di Indonesia dan China sebenarnya sudah sesuai dan mengacu pada ketentuan standar yang sama,” ujar Syukur.

Patut dijaga
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi menegaskan, perdagangan produk perikanan dengan China patut dijaga karena China merupakan pasar potensial. “Kita sudah membina hubungan dagang yang lama dengan China. Kalau memang kualitas produk perikanan kita buruk, kita benahi. Apalagi, kualitas unggul produk perikanan bukan saja disyaratkan China, tetapi juga Uni Eropa dan Amerika,” katanya.

Bahkan, kata Freddy, pihaknya sama sekali tidak berpikir mencari pasar perikanan baru untuk menggantikan posisi China.

Terkait pernyataan Atase Perdagangan KBRI Beijing bahwa terdapat pelaporan 253 kasus terkait impor akuatik bermasalah dari Indonesia disangkal oleh Direktur Jenderal P2HP DKP Martani Husein.

“Ada laporan yang masuk, tetapi tidak sampai ratusan laporan. Sejak Maret 2005 hingga Mei 2007, tercatat hanya 14 laporan yang masuk ke Direktorat Standardisasi dan Akreditasi DKP,” kata Martani. (DAY/RYO)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: