China, Kultur dan Kerja Keras

Abun Sanda
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:38 WIB

kompas-cetak191

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02383154&channel=2&mn=44&idx=44

Dua pekan lalu, di sebuah kerumunan manusia di Nanking Lu, Shanghai, terdengar dua polisi membentak dua pemuda tampan. “Anda tidak beradab, meludah sembarangan. Wajahmu saja yang bagus, kelakuanmu buruk!” hardik salah seorang polisi. Lalu sambil mendengus keduanya berlalu dari situ.

Dua pemuda itu pucat, kemudian bergegas pergi. Adapun sejumlah warga yang berkerumun di kawasan elite Shanghai itu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aneh, zaman sudah semaju ini masih meludah sembarangan,” ujar Deng Kang, usahawan kancing di Nanking Lu.
Bagi turis yang baru sekali berkunjung ke Shanghai atau kota lain di China, peristiwa itu “biasa saja”. Akan tetapi, bagi pelancong yang pernah ke daratan China sebelum tahun 1995, akan merasakan perubahan radikal.

Tahun-tahun sebelum 1995, tatkala Pemerintah China belum bersikap keras tentang peradaban dan sopan santun di ruang publik, warga di daratan besar itu memang suka meludah sembarangan. Itu bisa dengan enteng dilakukan di rumah makan, kedai teh, toko pakaian, bus, kereta api, bahkan rumah sakit dan sekolah.

Pemerintah rupanya rikuh juga dengan masalah yang terkesan sepele tetapi serius ini. Aturan keras diberlakukan, pengumuman larangan meludah di sembarang tempat diumumkan secara lisan dan tertulis. Di beberapa kota besar bahkan dipasang pengumuman besar tentang larangan meludah berikut sanksinya. Perubahan tentu tidak bisa serta-merta. Pemerintah China butuh waktu puluhan tahun untuk membuat kota-kotanya bebas dari ludah di ruang publik.

Mainlah ke kawasan ramai di Beijing, misalnya di Tiananmen dan Forbidden City. Di sana jalanan tampak bersih dari ludah. Bahkan Kompas pernah beberapa kali ke Tembok Besar China, yang jauh di bukit, tidak tampak warga China yang meludah suka-suka.

Bagi Pemerintah RRC, melarang meludah sembarangan hanyalah salah satu instrumen untuk lebih menertibkan masyarakat. Instruksi lain mengenai pentingnya kebersihan di lingkungan masing-masing, toilet umum harus terpelihara baik, restoran mesti menekankan kebersihan dan aspek higienis.

Jangan pernah berpikir ini soal mudah sebab penduduk China bukan empat juta jiwa seperti Singapura, tetapi 1,3 miliar jiwa lebih. Mengatur sepuluh juta jiwa manusia di DKI Jakarta saja demikian sulit, bagaimana mengatur 1,3 miliar manusia.

Masalah kecil
China tampaknya tidak ingin hanya menyentuh persoalan-persoalan makroekonomi dan hegemoninya sebagai negara besar di dunia. Negeri Tirai Bambu ini masuk ke masalah-masalah yang dipandang remeh-temeh, tetapi sebetulnya mendasar. Bagi China, menyentuh masalah dasar berarti melapangkan masalah besar.

Selain masalah nonfisik itu, RRC menyentuh masalah fisik. China habis-habisan membangun infrastruktur canggih di kota-kota besar. Bagi sebagian orang, infrastruktur suka dipandang biasa saja, bukan soal besar. Asumsi ini tidak berlaku di China.

Di Shanghai dan Beijing, misalnya, jalan lingkar luar (semacam JORR di Jakarta) dibangun mengelilingi kota. Dua kota itu belum mempunyai jalan lingkar luar yang tertata ketika Jakarta sudah mengumumkan hendak membangun JORR. Kini, ketika JORR-nya Fauzi Bowo tidak rampung-rampung, dua kota besar dunia itu sudah punya enam jalan lingkar luar. Belum termasuk jalan tol dan kereta cepat. Maglev di Shanghai bisa melesat hampir 500 kilometer per jam, kecepatan yang fantastis.

Ketika beberapa masalah yang dikesankan sepele bisa diselesaikan dengan mulus, RRC mudah berbicara masalah-masalah besar. Ini juga mungkin yang menyebabkan China demikian berkibar belakangan ini. Pendapatan per kapita melompat dari puluhan dollar AS di era Mao menjadi hampir 2.000 dollar di era sekarang. Cadangan devisa mendekati 1,5 triliun dollar AS.

Ini angka fantastis karena Amerika Serikat dan Rusia yang mempunyai teknologi, sumber daya manusia, dan sumber daya alam terbaik di dunia, pun tidak mempunyai cadangan devisa sebesar itu.

Banyak produk China merajai pasar dunia. Anehnya, kualitas produk China tidak kalah bagus daripada kualitas produk dari negara-negara industri, tetapi dengan harga jauh lebih murah. Padahal, China hanya meniru-niru barang asli.

Gambarannya lebih kurang begini. Kalau Jerman, misalnya, pada bulan Januari meluncurkan korek api yang bagus, China pada bulan Juli bisa mengeluarkan produk yang sama, dan tidak kalah bagusnya dengan produk Jerman. Korek apinya tidak gampang rusak, dan bahkan lebih bagus dari pendahulunya.

Tentu tidak semua barang buatan China bagus. Pasti banyak juga yang picisan. Misalnya arloji, radio, sepeda motor, dan mesin-mesin, yang dibuat asal-asalan. Namun, di balik aspek itu, China mampu mematok harga jual amat rendah karena diproduksi secara massal.

Korek api, perkakas, mesin jahit, gelas, mainan anak-anak, sampai tekstil bisa dijual dengan harga amat murah. Masalahnya, kalau negara lain membuat korek api cukup 10.000 buah, China bisa memproduksi sejuta buah. Tidak usah heran, di dalam negeri saja, jika produksi korek api hanya satu juta buah, tidak akan cukup, sebab semua orang butuh korek api.

Ini berlaku juga untuk tekstil, garmen, alat-alat olahraga, dan sebagainya. China bisa menjual produknya dengan murah karena tidak memerlukan riset lama dan mahal. Tidak butuh ongkos produksi yang besar. Tenaga kerja murah, dan pekerjaan dilakukan efisien.

Kerja keras
Lalu apa yang membuat negeri yang tidak mempunyai banyak kandungan minyak bumi ini dapat survive sedemikian bagusnya?

Ada tiga hal tentang China yang agaknya kurang diperhatikan publik dunia. Baik pemerintah maupun rakyatnya mempunyai talenta kuat sejak zaman peradaban manusia. Talenta itu adalah kultur bisnis, kultur kerja keras, dan kebanggaan yang amat tinggi terhadap negaranya.

Tiga aspek ini memegang peran sentral dalam pembangunan RRC yang melesat demikian cepat. Ini pula yang membuat tidak ada negara yang mampu menandingi kinerja ekonomi RRC: pertumbuhan ekonomi tidak pernah di bawah 9 persen selama 20 tahun.

Sebagai catatan yang patut direnungkan, di bawah rezim Mao, terutama di era Revolusi Kebudayaan, ekonomi China hampir berada di titik nol. Mereka mampu bangkit sejak 1979, dalam gerakan terukur yang dipelopori Deng Xiaoping. Ini berarti, ketika mereka harus berubah, talenta yang dibenamkan selama puluhan tahun oleh Mao bisa dibuka kembali. Dan sukses.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: